Selasa, 23 September 2025
Nostalgia Avatar
Senin, 22 September 2025
Abstrak
Abstrak
Etalase isi pikiranku seperti tak pernah habis: satu muncul, ratusan ikut bermunculan. Menurutku, itu menarik, tapi anehnya aku tidak bisa menangkapnya. Maksudku, saat aku ingin fokus pada satu ide dan menuliskannya menjadi sebuah karya, aku malah tidak bisa.
Ketika berada di depan komputer atau HP untuk menuliskan ide-ide yang berkeliaran tadi, mendadak semuanya menjadi hening, seolah terkena efek stun.
Ya, aku sudah mencoba beberapa tips, seperti menangkap ide dengan menuliskannya langsung di atas kertas agar tidak lari. Namun, anehnya saat aku mencoba mengembangkan ide yang sudah kudapatkan, hasilnya tetap sama saja.
Pada akhirnya, bukannya menulis, justru mood menulis yang hilang, dan kutinggalkan begitu saja. Semoga ke depan bisa lebih baik.
Bagaimana dengan kalian? Pernahkah merasakan hal serupa, atau bahkan lebih parah? Sebenarnya, penyakitku ini kalau kata penulis disebut writer’s block—istilah ketika ide kita mentok.
Aku sendiri heran, apakah benar ada hal seperti itu? Karena ketika aku menulis fanfiksi dulu, rasanya begitu lancar. Namun memang benar, saat mendekati akhir dan tidak pernah membuat outline yang jelas, hasilnya berantakan.
Awalnya, seminggu tidak mengunggah tulisan, kupikir tidak apa-apa, libur sebentar. Tapi di minggu kedua ketika mau mengunggah lagi, muncul rasa malas: “Aduh, kayaknya absen lagi, nggak apa-apa lah.”
Lambat laun, itu menjadi kebiasaan. Hingga akhirnya, tulisan tidak pernah diunggah lagi. Yang tadinya hanya hitungan minggu, menjadi bulan, lalu berubah menjadi tiga bulan. Semoga ke depan aku bisa lebih konsisten.
Sabtu, 27 Juli 2024
Mahou no Kishi [Black Clover Fanfic]
Rabu, 10 Juli 2024
Interlude kehidupan 2
Selasa, 09 Juli 2024
Hidupilah Sunnah Nabi Muhammad
Senin, 08 Juli 2024
Mahou no Kishi [Black Clover Fanfic]
Minggu, 07 Juli 2024
Interlude kehidupan 1
Sabtu, 06 Juli 2024
Mahou no Kishi [Black Clover Fanfic]
Selasa, 02 Juli 2024
Gagak Ireng chapter 6
Siang itu dia langsung pergi ke sebuah konter HP dan membeli satu Smartphone baru. Model yang dia beli adalah tipe Handphone yang memiliki RAM 4gb dan penyimpanan 128 GB.
Setelah mendapat kartu yang sudah di daftarkan oleh pemilik Konter. Adi langsung mendownload Aplikasi pengirim pesan yang lazim digunakan orang-orang.
Setelah mengunduhnya, Adi lalu memasukkan nomor yang di berikan oleh Monica tadi pagi. Nampak foto profil dari gadis itu, dia sedang berpose memegang stick drum, matanya melakukan wink dan tersenyum nakal sambil menjulurkan sedikit lidahnya.
"Kenapa dia melakukan pose seperti itu. Tapi, bukan urusanku juga mengaturnya. Kalau dilihat-lihat, dia manis juga."
Adi tidak langsung memberi pesan pada Monica. Dia sengaja akan memberikan pesan besok, karena sudah mengatakan pada Monica kalau dia akan mengabarkan besok.
Ada sesuatu yang dia akan lakukan dengan smartphone barunya itu. Dia melakukan hal sama seperti tadi pagi, menulis serangakian kode di google chrome lalu menyalin url LouTube yang memposting video aksinya semalam.
Mengambil IMEInya dan mempaste di Google Map! Kini di layar smartphone miliknya. Titik merah itu sedang ada di sebuah gedung universitas ini.
"Scripts yang kutemukan saat dilokasi korban terakhir begitu berguna. Tidak kusangka serangkaian digit itu, memiliki kemampuan seperti ini."
Apa yang di gunakan oleh Adi adalah sebuah Script, dia mendapatkannya dari lokasi terakhir saat menjalankan tugas dari Pengkor.
Awalnya dia tidak mengerti, bagaimana cara kerja serangkaian kode digit itu. Tapi setelah diajari oleh seorang Pemuda yang cukup terampil, dia akhirnya mengerti cara menggunakannya.
Adi menggunakan teknik hipnotis pada pemuda itu, agar melupakan semua perjumpaan dan apa yang dilakukan bersamanya.
Menurut pemuda itu, Script yang dipegang Adi memiliki kemampuan untuk meretas jaringan apapun tanpa ada yang bisa melacaknya.
Kemampuan Script ini, mirip seperti pesawat siluman namun lebih canggih. Dia bukan hanya bisa mengintai tanpa diketahui siapapun, tapi dapat mengambil informasi berharga tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
Bahkan anak itu akan membayar berapapun, asal diijinkan untuk menyalinnya. Saat Adi sudah memahami semuanya, dia langsung menghipnotis dan membuat anak itu hilang ingatan tentangnya.
Adi memberikan beberapa uang sebagai tanda terima kasih. Setelah itu, dia tidak pernah menemui lagi pemuda tersebut.
"Semoga kau bisa belajar sesuatu ketika kutemui nanti malam!"
***
"Kubilang juga apa? Video yang diupload semalam bakalan Viral!" ucap pemuda yang diintai Adi.
"Iya, sekarang akun Loetube Lo udah banyak yang subscribe dan viewer. Harus makasih lo sama pria bertudung itu, bro!" respon temannya yang mengenakan jaket hijau. Dalemannya dia gunakan T-shirt putih dan mengenakan jeans hitam dengan sepatu warna biru.
"Pokoknya, jangan lupa traktirannya. Bentar lagi kan akun Lo bakal bisa di Monetize ama Google." sembur kawan satunya. Dia mengenakan T-shirt merah dengan celana jeans hijau gelap. Dia mengenakan sepatuh warna hitam.
"Tenang aja, pokoknya semua beres!" Sumbar orang yang memiliki akun Loetube dan mengunggah aksi Adi itu.
"Putra Kusuma, jurusan teknologi dan memiliki hobi meng-upload sesuatu di Loetube!"
Suara tiba-tiba itu jelas membuat si pemilik nama yang ternyata pengunggah video Adi tersebut kaget. Karena sosoknya tidak muncul.
"Siapa Loe? Tunjukkin diri lor kalau berani!"
"Iya, gak usah main Sumput-sumputan segala. Dah kayak bocah aja!"
"Bener tuh, tongolin mukal Lo!"
Mendengar ejekan itu membuat Adi terkekeh, tidak menyangka itu respon yang diberikan oleh tiga sekawan tersebut. Lalu dia muncul dari sudut yang tidak disangka oleh ketiganya.
"Begitukah sikapmu terhadap orang yang membuatmu mendapatkan pujian dan keuntungan?" ucap Adi pada mereka.
Wajah ketiga orang itu pucat pasi, saat menyadari kalau yang mereka olok-olokan adalah sosok dalam video itu. Terutama Putra Kusuma yang merupakan perekam dan pengunggah aksi Adi kemarin malam.
'Pria bertudung! Aku minta maaf karena berkata seperti tadi!" ucap Putra kusuma
"Kumohon maafkan kami!" Sambung kedua temannya meminta maaf.
Adi tidak merespon permintaan maaf mereka, membuat ketiga orang itu makin berpikir macam-macam.
"Aku han-"
"Ah- aku mengerti! Video itu akan segera kuhapus. Kuuplad itu sengaja untuk menarik view dan subscribe, aku hanya ingin terkenal di Loetube!"
Adi membisu ketika Putra Kusuma mengutarakan alasannya meng-upload aksinya kemarin. Lalu dia pun memberi jawaban.
"Apa saat meng-upload, kau tidak memikirkan perasaanku?"
Putra Kusuma terdiam, dia jelas tidak memikirkan hal itu. Bahkan dia langsung meng-upload video tersebut begitu saja setelah dia merekamnya.
"Dia memang tidak memikirkan perasaan dirimu. Tapi dia membuat dirimu terkenal, bukankah ini semacam simbiosis mutualisme?" ucap teman Putra mencoba membela.
"Oh begitu, bagaimana jika aku tidak ingin terkenal?" Tanya Adi
"Itu bodoh sekali, dijaman sekarang gak mungkin ada orang semacam itu?" ucap teman putra lainnya.
Sebuah pukulan di leher membuat pemuda itu tergeletak tidak berdaya. Putra dan temannya, langsung panik begitu melihat bagaimana cepatnya pria bertudung itu bergerak.
"Orang bodoh itu adalah aku, apa kalian ada yang keberatan?" jawab Adi dengan intimidasi menatap yang tersisa.
"Kau sungguh punya gerakan yang hebat, aku janji tidak akan meng-upload tanpa izin. Tapi izinkan aku agar terus merekam aksimu dan mengunggahnya di Loetube." Jawab Putra sambil menunduk di lantai.
Adi terdiam mendengar jawaban Putra Kusuma barusan. Tidak dia duga kalau akan bertemu sosok bodoh seperti pemuda di depannya ini.
'Tadi sianag, Makan apa nih anak?' batin Adi kesal.
Rabu, 26 Juni 2024
Cerita Lucu pendek
Selasa, 13 Desember 2022
Gagak Ireng chapter 5
"Menurutmu, apa kamu percaya kalau video ini nyata dan bukan cast film?" tanya Monica tiba-tiba.
Mendengar kalau aksinya semalam disangka rekaan. Adi bukannya kesal malah ikut menambahkan.
"Kurasa itu hanya kerjaan orang iseng, yang ingin terkenal seperti beberapa jagoan yang sudah viral." jawab Adi.
Kali ini Monica merasa respon Adi cukup masuk akal. Tapi dia juga meragukan kalau itu hanyalah Casting atau keisengan.
"Tapi untuk ukuran sebuah pemeran film atau keisengan, pria bertudung itu melakukan gerakannya sempurna sekali. Seolah dia telah dilatih sedemikian rupa, aku coba memutar ulang video beberapa kali untuk melihat kalau itu editan tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang menyakinkan diriku kalau itu adalah hasil editan." balas Monica.
Adi kini mengerti kenapa tadi Monica tampak memaju mundurkan video tersebut. Rupanya dia mencoba mencari kesalahan dalam video itu, pikirnya.
"Bagi seorang ahli untuk membuat sedemikian rupa, hao itu sangatlah mudah. Hn, kalau diizinkan boleh pinjam Smartphonemu beberapa menit?" ucap Adi.
"Oh ini, silahkan pakai!"
Adi lalu mengklik Google chrome, mengetik serangkaian kode yang tidak diketahui Monica. Lalu tampilan layar smartphone berubah, Adi kemudian menyalin Link LouTube yang mengunggah video tentang dirinya.
Setelah beberapa saat hasilnya muncul. Terdapat waktu saat pengunggah video menampilkannya di Loetube. Lalu terlihat juga email akun yang mengunggah.
Adi mengklik emali tersebut dan muncullah layar kecil berisi notifikasi. Jarinya kemudian mengklik kata IMEI dan keluar dari Google chrome.
Pindah ke Google map dan mempaste nomor IMEI ke kolom pencarian. Lalu peta dari kampus muncul dan terdapat sebuah titik merah beberapa puluh meter dari keduanya.
Adi menatap arah dimana titik merah itu berasal. Di sana terdapat beberapa anak muda yang berkumpul sedang membahas sesuatu.
Sebelum mengembalikan pada Monica, Adi mensetting ulang semuanya. Setelah selesai, dia mengembalikannya pada Monica.
"Ini aku sudah selesai, terima kasih ya!"
"Iya, sama-sama!"
"Kamu gak ada jam?"
"Yah! Hari ini dosen yang mengajar sedang ada halangan, jadinya pelajaran ditunda. Tapi dia sempat memberitahu melalui Email untuk tugas Minggu depan."
Adi mengangguk saat mendengar penjelasan Monica, untuk menjawab pertanyaan darinya.
"Begitu, oh iya! Dimana dua orang temanmu itu?"
"Oh mereka sedang ada jam! Mungkin akan segera muncul. Katanya hari ini mereka cuman satu mata kuliah." jawab Monica.
Setelah mendengar penjelasan itu, Adi ingin beranjak dari situ. Namun Monica malah menggumam sesuatu.
"Ah, tidak disangka penjahat itu sudah di tangani. Tapi kenapa dia malah membebaskannya, ya?"
Langkah Adi terhenti saat mendengar gumaman Monica itu. Timbul sebuah pertanyaan di kepalanya dan dilontarkan pada Monica.
"Jadi menurut dirimu, apa yang dilakukan oleh Pria bertudung itu salah?" tanya Adi.
"Ah kau mendengar ya. Aku hanya membual tidak karuan."
"Tidak mengapa, jika kau gak mau menjelaskannya."
Mendengar Adi menjawab seperti itu. Membuat Monica tidak enak hati, jika tidak dijelaskan apa maksud gumamannya barusan.
"Bukan begitu Loh, aku tidak menyangka kalau pendengaranmu sangat tajam." Respon Monica
Adi memicing saat mendengar ucapan Monica, "kenapa kesannya aku seperti orang yang ahli menguping ya." Balas Adi sambil bersedekap.
Alis Monica mengedut saat Adi mengatakannya sambil bersikap begitu, dia juga terkejut dengan kesimpulan yang diucapkan pemuda itu.
"Bu-bukan begitu juga, sudahlah! Yang kumaksud itu, untuk apa pria bertudung mengalahkannya kalau ujung-ujungnya malah dibebaskan."
Adi mencerna apa yang diucapkan oleh Monica. Akalnya membenarkan ucapan Monica, tindakannya itu seperti seorang yang menjebak kelinci untuk makan. Tapi saat sudah dapat kelinci itu di lepaskan.
Namun hatinya merasa tidak nyaman, karena pemuda yang dia hadapi semalam. Itu sama-sama berasal dari organisasi yang mendidiknya.
"Lalu tindakan apa yang kau ambil, bila berada di situasi tersebut?" tanya Adi penasaran.
"Tentu saja, aku akan meringkus orang tersebut. Lalu menyerahkannya pada pihak berwajib, seperti yang dilakukan oleh Virgo. Kau tahu kan?"
Lagi-lagi jawaban Monica masuk akal menurut pikirannya, tapi batinnya menyangkal kalau keputusan itu yang dia ambil. Maka dia seperti berlagak menjadi pahlawan.
'Tujuanku bukan untuk menjadi pahlawan atau sebagainya. Aku hanya ingin bisa menikmati kehidupan normal.' batin Adi.
"Kau memiliki hati yang murni Monica, aku iri dengan dirimu. Terima kasih, telah meminjamkan Smartphonenya." ucapnya sambil membalikan badan untuk beranjak.
"Oh, sama-sama! Kau sudah mau bekerja ya!"
"Iya, lain kali kalau aku butuh sesuatu. Boleh minta tolong lagi, kan?" tanya Adi ragu.
"Hahaha! Kau jangan pernah sungkan, jika ada sesuatu yang kau perlukan kabari saja! Ini nomorku!" ucap Monica seraya menyerahkan nomor ponselnya.
Wajah Adi tampak rumit, sedangkan Monica baru menyadarinya. Segera dia tersenyum kaku.
"Aah! Aku lupa kalau kau belum punya Smartphone, maaf bukan maksudku untuk mengejek! Kalau begitu, nanti kalau kau sudah-"
Ucapan Monica terhenti, saat Adi dengan lembut mengambil kertas yang hendak dimasukan ke dalam tasnya.
"Aku ambil, besok aku akan membelinya. Tidak apa-apa kan?" ucap Adi seraya menatap Monica ditambah sebuah senyum simpul.
Monica tersipu, saat Adi mengatakan itu dan memberinya senyum. Tidak dia duga kalau petugas kebersihan ini bisa bersikap seperti itu.
"Bo-boleh kok! Kalau kau sudah punya smartphone nanti, hubungi saja nomor yang baru kuberikan."
"Beres, oke aku lanjut kerja dulu ya!" ucapnya sambil melenggang pergi.
"Iya, hati-hati!" jawab Monica.
Tanpa disadari Monica, Adi memberikan tatapan pada pemuda yang masih berkumpul sedang berdiskusi itu.
Mereka tampak serius membahas sesuatu. Yang paling bersemangat adalah pria dengan T-shirt abu-abu dengan celana jeans biru gelap. Dia mengenakan sepatu merek Adodus warna putih.
"Sepertinya, malam ini aku harus keluar dengan kostum itu lagi!"
Rabu, 30 November 2022
Gagak Ireng chapter 4
Satu dari arah kanan melaju dengan tangan kanan terkepal, berusaha memberikan pukulan pembuka. Namun Adi Surya mengelak dan memberikan pukulan di dadanya.
Membuat penyerang pertama terdorong ke belakang, dari arah depan sosok pimpinan mulai lancarkan serangan.
Tiga, empat pukulan dia lakukan untuk membalas rekannya. Namun, dengan lihai Adi Surya dapat menangani serangannya.
Dari belakang sebuah siulan berbunyi, saat Adi Surya fokus menghadapi musuh di depannya. Karena refleks yang terlatih, dia tundukan kepala.
Serangan itu melewati dirinya dan tinju itu berbenturan dengan milik sang pimpinan. Mereka memegangi kepalan masing-masing karena beradu jotosan.
Isnting Adi Surya menajam saat merasakan hawa bahaya dari arah belakang. Cepat-cepat dia geserkan tubuh, benar saja sebuah terjangan nyaris mendarat di punggungnya.
Adi lalu menendang kaki itu, membuat sang empunya terjungkal. Lalu penyerang pertama mencoba menyerang dari belakang.
Namun Adi lebih dulu mengantisipasi, memukul dadanya dengan sikut. Membuatnya jatuh terkapar.
Dua tinju dari kanan dan kiri menyerbu. Adi menangkap dan mengunci dengan menggenggam kuat.
"Kerja sama kalian bagus, hanya butuh pengkondisian dan waktu yang tepat. Jika lawannya amatiran pasti kewalahan, tapi sayang lawan kalian adalah aku."
"Lain kali datanglah dengan lebih banyak orang, maka kalian pasti bisa menangkapku. Lalu bisa sebutkan namamu?"
Jelas Adi sambil memelintir tangan pemimpin dari grup kecil ini. Sang empunya tangan mengaduh menahan sakit saat tangannya di pelintir.
"Ra-Raka! Namaku Raka!"
"Raka, ya! Siapa yang merekrutmu dalam organisasi?"
"Aku direkrut oleh nona Carmine, setelah itu aku dilatih oleh sosok yang dikenal sang penempa."
Adi mengingat-ingat, sosok sang penempa termasuk dalam sepuluh anak pilihan Ayah. Tapi tentang sosok yang dipanggil Carmine ini, dia sama sekali tidak tahu apapun tentang wanita itu.
"Katakan! Siapa Carmine ini?"
"Bukankah kau menggigit terlalu banyak, apa untungnya informasi ini Jika kau tidak ingin kembali ke organisasi hah!"
Tangan Raka diputar dan berbunyi kretek, beberapa anggota lengannya terasa mengilu saat Adi memelintirnya agak kuat.
"Jawab saja!"
"Baik-baik, akan kujawab! Dia orang baru, kudengar dia mengganti posisi yang hilang dari 10 Anak ayah, karena kekacauan yang dibuat oleh Gundala. Apa itu cukup, sekarang lepaskan aku!"
Adi merasa informasi ini sudah lebih dari cukup, jadi dia melepaskan genggamannya pada Raka dan rekannya.
"Enyahlah, sebelum aku berubah pikiran!"
"Baik!"
Raka dan teman-temannya pergi dari tempat itu. Ditengah kegelapan bayangan mereka menghilang tanpa jejak. Itu adalah kemampuan dasar yang harus dikuasai.
"Hn, sepertinya struktur organisasi mengalami perubahan, karena serangan Gundala enam bulan lalu. Lalu Ayah mencoba membangun kembali kekuatannya, untuk memulai kembali rencana miliknya. Tapi kenapa dia repot-repot mencariku yang sudah menghilang lebih dari setengah tahun."
Adi jelas belum mengetahui tujuan Ayahnya, mencari dirinya untuk bergabung kembali. Tapi dia cukup yakin akan satu hal.
"Jika aku kembali, maka kemungkinan tanganku akan dibuat lebih bernoda lagi oleh darah. Aku tidak ingin itu terjadi! Sebaiknya aku pergi dari sini sebelum ada yang curiga."
Adi dengan cepat melenggang dari tempatnya, tanpa menyadari ada sesuatu yang akan mengejutkan dirinya nanti.
***
Kumpulan sampah itu sudah dijadikan satu. Lalu serokan dia ambil untuk mengumpulkannya, setelah itu tempat sampah adalah tujuan akhir sampah-sampah itu.
"Gila! Keren banget gerakannya."
"Sumpah! ini orang pasti ahli beladiri, liat aja deh. Dia gak pernah melakukan gerakan sia-sia. "
"Masak iya ini bukan casting sih, soalnya gerakan pria bertudung itu lihai banget."
"Memamg pantas sih ini kalo viral!"
Komentar seperti itu yang dia dengar, dari beberapa mahasiswa saat melewati dirinya. Tentu dengan smartphone tergenggam.
Kemajuan teknologi memang mempermudah semua hal, banyak sisi positif dari kemajuan ini. Namun hal itu juga bisa jadi bumerang, jika tidak diimbangi dengan etika yang baik dalam menggunakannya.
Jika hal itu terulang sekali dua kali, tentu tidak membuat Adi penasaran. Tapi hampir seluruh mahasiswa, membahas tentang sosok bertudung yang beraksi tadi malam dan sedang viral.
Hati kecil Adi kembali tergelitik untuk mengetahui, apa yang dibicarakan oleh para mahasiswa itu. Lalu dia melihat seorang gadis dari salah satu yang dia temui kemarin, sedang duduk di sebuah bangku taman.
"Sebaiknya, aku tanya pada dia saja. Kalau tidak salah namanya Monica."
Gadis berambut sebahu itu sedang serius menatap layar smartphone miliknya. Sesekali tangannya memaju mundurkan video yang dia tonton, untuk melihat dengan detail isi video itu.
"Permisi!"
Seketika gadis bernama Monica itu tersentak, karena tiba-tiba Adi menegur saat dia sedang fokus menonton video yang viral dalam semalam itu.
"Oh Mas Adi, kirain siapa! Ada apa, Mas?"
"Gak perlu make Mas segala, kita ini hampir seumuran. Panggil aja Adi, saya gak terlalu suka dengan formalitas. Nama kamu kalau gak salah, Monica kan?"
"Iya bener, jadi Adi ada perlu apa sama saya?"
Yang di tanya malah celingak-celinguk dan garuk kepala, saat mendapat pertanyaan seperti itu. Monica jelas tambah penasaran melihat tingkah Adi itu.
"Kenapa tingkah kamu jadi begitu, Adi?"
"Gimana ngomongnya ya. Monica, kamu tahu gak apa yang sedang dibicarwkan oleh para mahasiswa Hari ini."
Monica kini manggut-manggut saat mendengar pertanyaan itu. Wajar sih seseorang untuk penasaran dengan apa yang telah terjadi di dunia Maya. Tapi Monica penasaran dengan satu hal.
"Sebelumnya maaf, apa Adi punya smartphone?"
Adi menggeleng mendengar pertanyaan itu.
'Pantes aja, dia gak tahu'
Lalu Monica segera memberitahu pada Adi, apa yang menjadi buah bibir orang-orang di universitas.
"Mereka sedang meributkan pengunggah video ini!" ucap Monica sambil memberikan rekaman yang diunggah dalam Channel Loetube.
Saat melihat apa yang ditunjukan oleh Monica bola mata Adi memicing. Itu karena rekaman tersebut adalah kejadian saat dia meringkus Raka tadi malam.
'Ada seseorang yang merekam dan mengunggah aksiku semalam.' batinnya kesal.
Rabu, 01 Juni 2022
Menjadi seorang Penguasa
Ditengah alun-alun desa semua orang diperintahkan untuk berkumpul. Gagasan itu dilayangkan oleh orang yang menjadi Baron di tempat tersebut.
Seluruh Knight juga sudah ada di situ untuk menyaksikan momen penting tersebut. Itu karena sesuatu yang tidak biasa terjadi di wilayah ini.
Desa Rockhill merupakan tempat tandus dengan sumber daya alam yang minim. Tidak ada yang istimewa di tempat ini, hanya bangsawan paling bodoh yang mau mengambil tempat berkuasa di sini.
Dan itu adalah Baron yang berkuasa sampai sekarang, karena mereka ingin dapat menikmati hidup melalui tunjangan kerajaan.
Belum lagi beberapa ratus meter dari sini terdapat area berbahaya, itu adalah [Abbys Land] sebuah teritorial yang diduduki oleh bangsa Iblis yang muncul 10 tahun yang lalu.
Namun dalam satu dekade ini jarang terjadi bentrok antara iblis dan pihak aliansi. Jika itu terjadi maka Desa Rockhill akan menjadi desa pertama dari wilayah Marquess Ereiven yang akan bentrok dengan mereka.
Tapi bukannya meningkatkan kualitas hidup atau membangun basis militer di daerah ini. Mereka malah sengaja membiarkan tempat ini miskin.
Ditambah Baron yang memerintah di sini adalah orang tidak kompeten yang hanya ingin hidup nyaman tanpa mempedulikan penduduk.
Namun semua itu akan berubah, saat acara yang diumumkan ini selesai. Itu karena seorang pedagang dari Ras Blood Elf dari negeri asing datang ke daerah kumuh ini.
Ketika mereka berkumpul kenyataan pahit yang diterima. Baron Lucius ke 7 yang merupakan keturunan terakhir dari garis silsilah Tuan tanah desa ini.
Sudah menjual kebangsawanannya dengan beberapa puluh peti emas. Dengan kata lain, desa ini sudah dialih tangan pada pembelinya.
Mereka khawatir dan cemas dengan keadaan yang terjadi, sebab biasanya orang yang membeli status kebangsawanan akan bertindak semena-mena dan mengabaikan rakyatnya.
Dengan wajah penuh kesenangan Baron Lucius ke 7 menjabat tangan sang pembeli tanah, dia begitu gembira sehingga wajahnya sangat menjijikkan untuk dipandang.
"Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Rodriguez! Aku ucapkan selamat karena kau sudah menjadi Baron di tempat ini!" Ucap mantan Baron.
"Sama-sama, aku juga berterima kasih karena kau mau menerima tawaran dariku!" Jawab Rodriguez.
Pemuda bernama Rodriguez itu adalah seorang Blood Elf, makin terhenyaklah hati penduduk saat menyaksikan proses pengalihan kekuasaan pada si pemuda.
Kabar yang mereka terima para Elf memperlakukan manusia layaknya budak dan mengabaikan hukum kesetaraan diantara Ras.
Setelah urusan selesai, Baron yang telah menjual Tanah dan penduduk yang mengabdi pada dirinya segera angkat kaki dengan wajah menghina.
'Setelah sekian lama akhirnya aku bisa bebas dari tempat terkutuk ini. Untungnya pemuda Elf itu begitu baik hati hingga mau membeli desa kering itu dengan harga fantastis.' Batin Baron dalam kereta yang dipersiapkan Rodriguez untuknya.
Kini para penduduk memandang tanah dengan lesu, mereka seakan menunggu nasib buruk yang akan menimpa.
"Mulai sekarang! Aku, Rodriguez Sunstrider resmi menjadi seorang Baron di wilayah ini, siapapun yang mencoba untuk menolak kupersilahkan angkat kaki dari sini!" Ucap Rodriguez lantang.
Para penduduk hanya diam menanggapi ucapan lantang nan tegas dari pemuda Elf itu. Kata-kata yang dilontarkan oleh Rodriguez membuat beberapa penduduk gemetar.
Sedangkan Rodriguez Sunstrider yang mengetahui kenapa penduduk desa ini bersikap seperti itu memaklumi. Karena sebagian kaumnya memang bertindak diluar batas.
Namun tujuan dia mengambil alih kekuasaan ini sebenarnya untuk menyelamatkan mereka juga. Jika dia tidak mendapat kepercayaan dan dukungan, maka kemungkinan rencana yang sudah dia susun akan sulit dilaksanakan.
"Karena tidak ada yang pergi, aku anggap kalian menerimaku sebagai Baron yang baru. Karena itu, aku akan memberikan satu perintah perdana sebagai Baron wilayah ini!"
Para warga harap-harap cemas, namun mereka tidak berani membantah. Karena bila itu mereka lakukan, cambuk akan menjadi hadiah dari Baron Lucius.
Sekarang mereka tidak tahu perintah macam apa yang akan diberikan oleh Baron baru ini?
"Aku memberikan Perintah untuk mengadakan pesta! Malam ini, desa ini akan mengadakan api unggun untuk penyambutan diriku sebagai seorang Baron. Apa kalian mengerti!"
Mendengar hal itu, beberapa orang tertarik. Namun mereka tidak berani mengungkapkan, lalu anak-anak yang begitu antusias saat mendengar pesta segera maju dan berteriak ke arah Baron Rodriguez.
"Apa nanti ada banyak makanan?"
"Apa nanti semua lampu dinyalakan?"
"Apa kota ini akan menjadi hidup di malam hari?"
Ibu dari anak-anak tersebut segera menarik mereka sembari meminta maaf.
"Tolong maafkan kelancangan anak-anak kami!"
"Jika Anda ingin marah, maka hukum saja kami!"
Ucap mereka sembari membungkuk, orang-orang menjadi cemas dengan keadaan itu. Karena biasanya Baron Lucius akan marah dan memukuli anak-anak yang menginterupsinya saat bicara.
Apalagi Rodriguez berjalan ke arah mereka dengan pelan, semua yang melihat harap-harap cemas dengan aoa yang akan terjadi. Namun tanpa di sangka Baron Elf itu menyamakan tinggi tubuhnya di hadapan anak-anak yang tadi mengomel.
"Tentu saja, kota ini akan lebih hidup. Banyak lampu dinyalakan dan banyak pula makanan tersaji. Tidak hanya itu, semua orang akan menari dan musik akan dimainkan! Benarkan semua?" Ucap Rodriguez dengan senyum.
Lagi para penduduk terdiam saat mendengar ucapan Elf itu, mereka pikir dia akan marah dan memukuli anak-anak atau ibu mereka. Namun ternyata ia malah merendahkan dirinya untuk menjawab pertanyaan anak kecil itu dengan bersemangat.
Bahkan saking semangatnya penduduk bisa melihat mata Baron yang baru itu berkilauan seolah tidak sabar ingin mengadakan pesta secepatnya.
"Woah asyik!"
"Malam ini pasti seru!"
Melihat tanggapan anak-anak itu, Rodriguez tersenyum lembut. Para ibu yang melihatnya begitu terharu, karena bisa merasakan kalau Baron mereka yang baru ini memiliki hati yang lembut.
"Tuan, maafkan kami yang bertindak seperti tadi, kami hanya trauma karena selama ini diperlakukan tidak setara oleh Baron Lucius."
"Benar, saya juga minta maaf karena mempunyai pikiran yang bukan-bukan terhadap anda!"
Penyataan serupa terus bermunculan dari mulut para penduduk, dalam hati Rodriguez tersenyum karena rencana miliknya sudah berhasil.
Dia melukiskan senyum lembut dan berkata. "Tidak mengapa, aku juga bisa merasakannya. Karena itu aku ingin mengadakan pesta atas posisiku sebagai Baron yang baru. Tujuan aku membeli tempat ini bukan untuk menyiksa kalian melainkan ingin memajukan dan mengembangkannya. Aku tidak memaksa kalian untuk ikut membantu karena mungkin kalian masih belum menerima, tapi harapanku kalian tidak mengganggu apa yang akan aku lakukan ke depannya! Kalian mengerti!"
"Dimengerti, Tuan!"
"Sillenna Immeril! Persiapkan pestanya!" Perintah Rodriguez pada seorang wanita berambut pirang dengan diikat ponytail. Mata miliknya berwarna biru laut. Dia mengenakan pakaian seorang Maid.
'Padahal aku memintanya untuk memakai pakaian yang lebih baik, dasar keras kepala!' Rutuk Rodriguez melihat penampilan orang terpercayanya.