Kemarin aku menonton serial Avatar lagi, dan ya, itu terasa sangat nostalgia. Dulu aku pertama kali mengenal Avatar saat masih SD. Kebetulan, filmnya selalu diputar pada sore hari, sekitar pukul 18.00 atau 19.00 di Global TV.
Menonton serial itu adalah pengalaman yang menyenangkan, sebab kita bisa mengikuti perjuangan seorang Avatar muda bernama Aang, yang sebenarnya berusia 112 atau 116 tahun. Tapi kalau dipotong masa tidurnya, ya usianya kira-kira 16 tahun. Itu benar-benar perjalanan yang seru.
Jumlah episodenya hanya 61. Tidak bisa dibilang ringkas, tapi juga tidak terlalu panjang. Di dalamnya banyak sekali kisah yang menyenangkan untuk diceritakan.
Awalnya aku menyukai Katara, karena sifatnya yang keibuan. Ia selalu mengerti bagaimana cara menenangkan emosi Aang, terutama ketika Aang masuk ke mode Avatar dalam keadaan marah.
Lalu ada Sokka, yang menjadi penyeimbang tim. Di saat-saat genting, ia sering melontarkan kelucuan sehingga suasana tidak terasa tegang. Tapi jangan salah—dalam momen serius, bahkan musuh yang profesional pun bisa ia taklukkan dengan cara yang brilian. Aku masih ingat ketika ia berhasil mengenai pria botak yang bisa mengeluarkan api dari kepalanya. Sokka hanya memperhatikan dari mana arah api itu meluncur, lalu menyeimbangkan bidikannya dengan bumerang. Hasilnya luar biasa: tepat sasaran! Menurutku, ia adalah sosok yang jenius sekaligus kocak. Mungkin memang benar, orang jenius itu sering kali kocak, seperti Naruto, Gon, atau Natsu.
Selanjutnya ada Toph, pengendali bumi yang buta. Meski kehilangan penglihatan, ia memiliki “mata lain” yang bahkan lebih sempurna: ia bisa merasakan getaran dan tahu dengan presisi apa yang terjadi di sekitarnya. Dari Toph jugalah lahir pengendalian logam. Awalnya ia tampak petakilan dan mudah marah, tapi setelah kilas balik hidupnya ditunjukkan, aku jadi berpikir, “Wah, kalau ada dirinya di dunia nyata, bakalan langsung nikahin aja!” Hehe. Ia selalu membawa lelucon—meski kadang agak gelap—tapi berkat dirinya, perjalanan tim tidak pernah terasa sunyi.
Dan yang terakhir adalah Zuko, pangeran dari Negara Api. Awalnya ia penuh ambisi untuk menghabisi Aang, tapi pada akhirnya berubah arah. Semua itu berkat Paman Iroh, yang sejak lama menanam “pohon kebijaksanaan” dalam diri Zuko. Pohon itu tumbuh karena kesabaran yang luar biasa. Paman Iroh mempertaruhkan segalanya demi keponakannya, bahkan memperlakukannya seperti anak sendiri. Karena bimbingan dan nasihat Iroh, Zuko akhirnya bisa memutuskan jalan hidupnya: tugasku adalah membantu Avatar, bukan memburunya.
Oke, sekian dulu untuk hari ini. Semoga kalian selalu berada dalam kesehatan. Bye-bye!
Oh ini kubuat ya, karena sebentar lagi akan ada film animasi terbaru. Yang nantinya akan memperlihatkan mereka di masa dewasa seperti di poster 😊.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar