Volume 1
At the Beginning.
"Iya, latihan denganku sudah selesai. Sekarang adalah tugasmu untuk melanjutkan impianmu untuk menjadi komandan ksatria sihir. Berjuanglah!" Ucapnya lirih dan segera pergi dalam sekejap.
"Dia pergi, ku pikir akan tahu namanya tapi sampai akhir aku masih belum tahu namanya." ucap pemuda itu.
Pemuda itu menaruh pedangnya pada Grimoire miliknya. Sudah 6 bulan berlalu sejak dia mendapatkan Grimoire miliknya, kini impiannya untuk menjadi komandan ksatria sihir ada di depan mata.
"Awalnya aku ragu untuk melanjutkan impian menjadi komandan ksatria sihir, sebab Grimoire milikku hanya berfungsi sebagai tempat menaruh benda saja. Tapi berkat latihan yang diberikan oleh Pengembara itu, aku kini bisa bertarung dengan cara berbeda. Siapapun namamu, aku ucapkan terima kasih." Ucap pemuda itu dan langsung kembali pulang.
Di perjalanan pulang dia melihat Desa yang asri dan damai itu sekali lagi untuk mengenangnya. Karena esok dia akan memulai perjalanan menuju ibukota kerajaan Clover untuk mendaftar menjadi Ksatria Sihir demi impiannya untuk menjadi komandan ksatria sihir.
"Aku akan benar-benar rindu dengan kampung halaman ini, tapi aku mungkin akan sesekali kembali lagi sampai meraih impianku menjadi komandan ksatria sihir terwujud." Ucapnya meneguhkan tekad.
Beberapa orang yang dia kenal menyapanya dan menyemangatinya, sebab dia sering kali membagikan impiannya yang suatu hari nanti akan menjadi Komandan Ksatria Sihir.
"Kau sudah selesai latihan ya, Yudi?" Tanya seorang pria dewasa.
"Iya nih, paman Toiro. kebetulan hari ini aku sudah menyempurnakan teknik milikku. Tapi aku masih khawatir apakah bisa lolos tidak ya dalam seleksi nanti." Balas Yudi.
"Lebih percaya dirilah. Kamu masih muda dan jalanmu masih panjang. Teruslah berusaha dan jangan menyerah." Ucap seorang wanita paruh baya.
"Terima kasih, dukungannya Bibi Rosella. Akan kuukir nasehatmu itu dengan baik." Balas Yudi sembari tersenyum hangat.
Beberapa orang juga ikut bergabung untuk memberikan dorongan semangat pada Yudi. Kebanyakan orang di desa ini memang sering mengikuti seleksi ujian tersebut namun berakhir gagal.
Mereka yang gagal kadang tidak mau mendaftar di tahun selanjutnya dan memilih untuk melanjutkan pekerjaan sebagai petani di desa ini.
Jadi orang-orang di sini begitu senang saat ada pemuda yang bersemangat untuk menjadi ksatria sihir. Kabar baiknya, tidak ada satupun orang yang memberikan respon negatif pada impian Yudi.
Karena semuanya paham kalau mematahkan semangat seseorang itu adalah perbuatan kurang sopan dan sangat tidak baik. Karena itu penduduk di desa ini hidup dalam keharmonisan.
Esok hari pun tiba, Yudi berangkat dengan banyak sekali bekal yang diberikan oleh penduduk desa. Mereka juga memberikan semangat dan doa agar diberi kelancaran dalam seleksi ujian kesatria sihir.
Perjalanan dari desa ini menuju ibukota kerajaan Clover memakan waktu cukup lama. Selama perjalanan itu, Yudi tetap menjalankan latihan rutin yang diberikan oleh gurunya.
Hingga akhirnya, sampailah ia di kota Kastil Kikka yang merupakan Ibukota kerajaan Clover. Yudi memandang kota Kastil itu dengan kagum, karena tempatnya melebihi ekspektasi yang dia bayangkan.
"Akhirnya, impianku untuk menjadi komandan ksatria sihir di depan mata." Gumamnya pada diri sendiri.
Suasana yang ramai dan banyaknya para pelancong yang bolak-balik untuk melihat berbagai jualan yang di sediakan oleh berbagai kios di sepanjang jalan menuju kastil Kikka menjadi aktivitas rutin di tempat ini.
Apalagi momen saat ini yang menjadi event tahunan kerajaan Clover yaitu perekrutan anggota ksatria sihir. Tidak mungkin acara ini dilewatkan oleh para penjual dan penduduk untuk melihat berbagai sihir yang dimiliki oleh berbagai orang yang ada di seluruh kerajaan Clover.
Yudi berjalan menuju konter pendaftaran dan langsung menunjukkan Grimoire miliknya. Si petugas menyentuh Grimoire miliknya dan langsung berkata.
"Baiklah, kau nomor 430."
"Terima kasih!" Ucap Yudi.
Setelah itu dia melihat begitu banyak orang-orang berkumpul untuk mendaftar menjadi ksatria sihir. Mereka memiliki wajah beragam, ada yang cemas, ada yang penuh semangat.
Yang mencuri perhatiannya adalah bocah cebol berambut putih yang mencoba lepas dari burung hitam yang mengerubunginya.
"Watatatata, kenapa kalian mengerubungi diriku. Pergilah dari sini, Yuno tolong aku!" Ucapnya dengan suara cempreng sembari berusaha mengusir burung-burung yang mengerubunginya dari tadi.
"Tidak mungkin," balas pemuda tampan yang ada di sebelahnya.
Beberapa orang yang hadir mulai tertawa melihat tingkah bocah itu, karena berpikir seberapa rendah mana miliknya hingga burung itu mengerumuni seperti itu.
"Woi, kau bercanda bukan? Seberapa rendah mana miliknya hingga dikerubungi seperti itu."
"Pasti dari rakyat jelata!"
"Tapi itu semacam hiburan juga!"
'Hahahaha!"
Beberapa burung hitam itu juga menghampiri Yudi, namun mereka tidak mematuk-matuk hanya bertengger saja dibahu atau kepalanya. Seolah burung itu merasa nyaman berada di tubuh Yudi.
Hal itu malah membuat orang-orang di sana merasa aneh, sebab biasanya burung itu akan mematuk-matuk orang yang dihampirinya. Namun dalam kasus Yudi, mereka malah bertengger dengan nyamannya.
"Kenapa burung-burung itu malah merasa nyaman berada dekat pemuda itu." Ucap seorang pemuda.
"Entahlah, apa dia menggunakan semacam pemikat hingga mereka tidak mematuknya."
"Mustahil, burung-burung itu tidak mungkin bisa di sihir seperti itu."
"Aku kan hanya mengeluarkan pendapat saja."
Demikian cibiran yang diucapkan oleh mereka melihat ke arah Yudi. Sementara orang yang digosipkan hanya memutar bola matanya, karena dia juga tidak mengerti sama sekali.
Hanya saja, Gurunya pernah mengatakan untuk bersikap setenang mungkin. Sebab itu akan membuat mana di tubuhnya berpendar dengan lembut.
Tiba-tiba burung-burung itu yang ada di area sekitar terbang menjauh, itu karena kehadiran dari 9 sosok yang melihat ke arah peserta calon kesatria sihir.
Mereka adalah para komandan ksatria sihir yang telah mendedikasikan hidupnya untuk melindungi seluruh kerajaan Clover dibawah naungan kaisar sihir.
Mereka nampak berwibawa dan mengintimidasi. Para peserta juga ada beberapa yang gemetar dengan kehadiran mereka.
Namun diantara 9 komandan ksatria sihir yang paling nampak kurang berminat adalah seorang pria paruh baya dengan kaus oblong putihnya dan celana jeans Gold brown.
Tubuhnya terbentuk dengan sempurna menandakan dia telah menjalani latihan ekstrim yang berada diluar batas manusia. Hanya dengan melihat, Yudi bisa tahu kalau sosok itu sangat kuat.
"Acara ini membosankan, bisakah kita percepat!" Ucapnya dengan nada malas.
"Kekekeke, bisa-bisanya kau berkata seperti itu. Yami!"
"Urusai, urus saja masalahmu sendiri. Jack!" Balas Yami menanggapi ucapan komandan dari kesatria sihir belalang sembah hijau Jack the ripper.
"Sebagai komandan ksatria sihir kita harus menunjukkan integritas kita. Ini juga sebagai bentuk penghormatan pada Tuan Julius." Ucap seorang komandan dari Fajar Keemasan bernama William Vengance
"Terserah kau saja," balas Yami.
"Laki-laki memang tidak berguna," Ucap dingin seorang komandan wanita dari kelompok Mawar biru bernama Charlotte.
"Bagaimanapun juga, kita harus menyambut bibit muda yang akan menjadi pelindung dari kerajaan ini." Ucap tegas seorang pria berambut jingga yang merupakan komandan pasukan Singa Merah Tua bernama Fuegoleon.
"Ucapanmu sungguh membosankan, tapi sebagai seorang bangsawan kita memang harus menunjukkan etika yang baik agar nama baik kerajaan Clover tidak tercoreng." Ucap komandan pasukan Elang Perang bernama Nozel Silva.
Sementara sisanya hanya memasang wajah datar dan bersiap untuk melihat para peserta yang akan menjadi bawahan mereka nantinya.
Sistem pendaftaran ksatria sihir seperti ini, setiap peserta akan melalui beberapa tes kemudian dari berbagai tes itu. Para komandan ksatria sihir, akan menjadikan hasil dari tes tersebut sebagai pertimbangan untuk merekrut mereka ke dalam pasukan yang di pimpinnya.
Semuanya, selamat datang di acara perekrutan Ksatria Sihir. Aku William Vengance akan memandu jalannya tes pertama. Untuk tes pertama adalah
"Datang Pohon Suci!" Seru William mengeluarkan sihir miliknya dari Grimoire.
Dengan itu langit yang tadinya cerah, berubah hijau dan dari ketiadaan muncul pohon raksasa yang mana setiap akarnya menjulur membentuk sebuah sapu dan menyerahkan ke arah para peserta.
Satu persatu orang menyambut sapu itu dengan heran, lalu William memberitahu apa yang harus dilakukan dengan sapu itu.
"Tes pertama adalah cobalah terbang dengan sapu itu. Kami akan menilai bagaimana cara kalian mengendalikan dan kapasitas mana kalian." Ucapnya.
Heh, apa kita beneran bisa terbang dengan sapu ini?
Aku bahkan belum tahu Kalau bisa terbang dengan benda ini
Keterampilan menggunakan sapu terbang adalah dasar dari menjadi ksatria sihir karena itu akan menjadi transportasi kalian dalam menjalankan misi nantinya. Ucap Charlotte.
Para peserta yang awalnya ragu-ragu kini mencoba untuk terbang dengan sapu itu. Beberapa ada yang berhasil dan ada juga yang terbang lalu terjungkal karena gagal mengendalikan gerakan sapunya.
Sementara para bangsawan kebanyakan berhasil terbang dengan baik, bahkan yang paling mencolok adalah pemuda bernama Yuno yang bisa terbang sembari berdiri menunjukkan keterampilan dalam mengendalikan mana miliknya.
Anak itu pasti punya kontrol mana yang bagus, tapi bagaimana caraku bisa melakukannya. Ucap Yudi sembari berwajah kecut melihat ke arah sapu miliknya.
"Oi apa-apaan anak cebol itu!"
"Dia sama sekali tidak bisa terbang!"
"Hahaha dia memang lelucon di tempat ini!"
"Ya, sepertinya aku tidak sendiri sih!" Gumam Yudi.
Setelah tes pertama dilanjutkan tes kedua dan ketiga. Lalu saat te ke empat seorang komandan dari Pasukan Raja singa merah Tua berdiri dan berkata dengan suara lantang.
"Sekarang saatnya untuk ujian ke empat dan di tes ini kalian harus memilih satu orang orang untuk diajak berduel. Jangan menahan diri, gunakan kekuatan Grimoire kalian dan tunjukkan kalau kalian pantas menjadi ksatria sihir!" Ucapnya.
Melihat tingkah komandan itu membuat Yudi teringat dengan pengembara yang telah melatihnya selama enam bulan. Meskipun diakhir dia menjadi cukup pendiam.
"Aku merasa seolah Master menyuruhku mengeluarkan semua potensi yang kumiliki. Kalau sudah begini, aku tidak akan menahan diri." Gumam Yudi.
"Kau yang di sana!" Seru seorang wanita.
Yudi menengok ke sumber suara dan wajahnya mendapatkan sebuah sapu tangan. Itu tidak membuat Yudi terkejut, malahan dia cukup senang karena tidak perlu repot-repot mencari rekan berduel.
"Aku menantangmu berduel!" Ucapnya lantang.
Menanggapi itu, Yudi mengambil sarung tangan yang dia lemparkan. Meskipun dia tinggal di pinggiran kerajaan Clover, namun dia tahu sedikit tata Krama dalam tantangan duel milik bangsawan.
"Baiklah, aku terima. Tapi, hukuman apa yang akan di dapat bagi pihak yang kalah dan apa yang di dapat bagi pihak yang menang." Balas Yudi.
"Hoho, tidak kusangka anak kampung tahu tentang etika tantangan para bangsawan. Baiklah, bagi yang kalah akan menjadi bawahan yang menang seumur hidup!" Ucapnya.
"Bukankah itu berlebihan?" Jawab Yudi.
"Ara~ kau takut?" Ejeknya.
"Bukan begitu, menurutku itu syarat yang cukup aneh?" Balas Yudi mencoba meyakinkan agar gadis itu mengubah syaratnya.
"Cari alasan aja, bilang saja kalau kau takut. Dasar pengecut!" Ucap gadis itu sambil menghina Yudi.
"Terserah kau sajalah, Aku Yudi menerima tantangan darimu beserta syarat yang kau ajukan, Nona!" Ucap Yudi menjelaskan untuk membiarkan gadis yang menantangnya menyebutkan namanya.
"Aku Raynare dari keluarga bangsawan Amano, kuharap kau tidak lari setelah kalah dariku." Ucapnya dengan nada bangga.
"Akan kutunjukkan hasil latihanku dan menjadi ksatria sihir." Batin Yudi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar