Volume 1
Chapter 1.1
Grimoire miliknya bersinar dan terbuka tepat ke halaman sihir yang hendak digunakan oleh Raynare untuk membalas tantangan yang diajukan oleh Yudi.
"Baiklah, jika itu keinginanmu. Tsuchi Sousei Mahou : Sutongoremu!"
Dari ketiadaan perlahan batu berkumpul dan membentuk sebuah Golem batu raksasa. Raynare berdiri di bahu kanan Golem tersebut, keberadaan Golem tersebut memberikan tekanan kuat.
Bahkan lebih kuat dari pada milik bangsawan sebelumnya yang bertarung dengan pengguna sihir api. Para peserta juga tercengang dengan sihir yang ditunjukkan oleh Raynare.
"Kekuatannya hampir setara dengan Sol. Tidak, itu melebihinya," batin Charlotte.
"Kuso, bisa-bisanya ada orang yang memiliki sihir sama denganku," batin Sol.
"Sihirnya milik gadis itu sudah dipoles dengan baik, sekarang bagaimana cara bocah itu melawannya," batin Vengance.
Melihat itu Yudi tidak terpengaruh sedikit pun, dia malah meningkatkan fokusnya untuk menyiapkan serangan yang telah dikuasainya.
"Terimalah kekalahanmu!" Ucap Raynare.
Golem yang dikendalikannya mulai memberikan serangan. Lengan Golem itu mengarah langsung ke arah Yudi yang malah memasang kuda-kuda dan tidak tampak menghindar.
"Honou no Kokyu : Ni no Kata : Nobori En Ten!" Ucapnya merapalkan nama jurus miliknya.
Tepat setelah itu Yudi menebas secara vertikal ke arah depan dengan sangat cepat dan presisi. Hal itu langsung membuat lengan Golem itu hancur berantakan.
Tentu saja hal itu membuat mereka yang melihat terkejut, bukan hanya begitu kuatnya serangan yang dilontarkannya. Tapi gerakan miliknya begitu indah dilihat.
"Dia bisa menghancurkannya dengan mudah."
"Oi, serangannya itu. Bagaimana dia bisa melakukannya."
"Ba-bagaimana bisa sihir terkuatku hancur dengan mudah," batin Raynare dengan mata bergetar.
Belum sempat dirinya memahami situasinya, Yudi sudah melakukan serangan lagi. Dia menundukkan tubuh dan menghilang dari tempatnya berada.
Pemuda itu memutar tubuhnya dengan Pedang tergenggam erat. Lalu memberikan tusukan kuat ke arah perut Golem yang dikendalikan oleh Raynare.
"Honou no Kokyu : Roku no Kata : Hono no Bakuhatsu!" Ucapnya.
Dengan suara kuat Golem milik Raynare runtuh, karena tidak bisa menahan kuatnya serangan yang dilontarkan oleh Yudi.
"Tidak mungkin bagaimana bisa sihir terkuat milikku hancur hanya dengan dua serangan miliknya?" Batin Raynare.
Belum sempat dia mendapat jawaban dari pertanyaan yang muncul di kepalanya. Kesadarannya menghilangkan dan hanya kegelapan yang menyelimuti matanya.
"Pemenang pertandingan ini, Yudi!" Ucap wasiat menungumumkan pemenangnya.
Orang yang dimaksud hanya menghela napas pelan dan memasukkan kembali pedangnya ke dalam Grimoire. Dia memandang Raynare yang kini sedang dibawa oleh tim medis untuk mendapatkan perawatan.
Dirinya sedikit menyesal karena sudah membuat gadis itu hilang kesadaran. Padahal dia pikir gadis itu bisa menghindari serangannya, namun lawannya malah tidak bereaksi sama sekali sebab terkejut karena sihir miliknya bisa dihancurkan oleh teknik berpedang unik milik Yudi.
"Nanti aku akan minta maaf deh, karena sudah keterlaluan," gumam Yudi.
Setelah itu dia kembali ke tempat sebelumnya, orang sekitar berbisik saat melihat dirinya mendekat. Namun Yudi tidak ambil pusing karena tidak tertarik menjadi pusat perhatian.
"Dengan berakhirnya pertandingan tadi maka berakhir pula tes pertarungan. Kami para komandan akan melakukan rapat untuk menentukan siapa saja yang lolos dan berhak menjadi ksatria sihir," ucap William Vengance.
Setelahnya para Komandan meninggalkan koloseum untuk merapatkan hasil tes yang sudah diselesaikan.
Para peserta nampak semangat, ada juga yang lesu dan khawatir tapi Yudi sedikit gugup karena pada tes sebelumnya dia tidak lulus dan hanya Tes pertarungan saja dia bisa unjuk diri.
Setelah beberapa saat para komandan kembali dan kali ini Fuegoleon yang memberikan arahan.
"Baiklah terima kasih atas kesabaran kalian, kini saatnya untuk penentuan apakah kalian lulus atau tidak. Kalian akan dipanggil dengan nomor pendaftaran, bila salah satu dari komandan mengangkat tangan maka artinya dia di terima oleh komandan tersebut. Jika yang mengangkat tangan ada lebih dari satu, maka dia bisa memilih untuk masuk ke satuan yang diinginkannya. Kalau begitu mari kita mulai!"
"Nomor pendaftaran 1!"
"Ditolak!"
"Nomor pendaftaran 2!"
"Ditolak!"
Nomor pendaftaran terus dipanggil, ada yang diterima dan lebih banyak yang ditolak. Wajah mereka yang diterima tentunya sangat senang tapi bagi yang gagal tentunya lesu.
"Nomor pendaftaran 425!"
Yudi meliriknya karena itu adalah gadis yang telah mengajaknya bertarung. Saat dia berdiri wajah menampakkan kecemasan dan kekesalan karena dia sudah kalah dari Yudi.
"Sialan, kenapa aku bisa kalah olehnya," batin Raynare kesal.
Sejenak terdiam, akhirnya seorang komandan dari Pasukan mawar biru mengangkat tangan. Itu adalah satuan pasukan yang isinya adalah para wanita.
Melihat kalau yang mengangkat tangan adalah komandan pasukan mawar biru, Raynare begitu senang karena memang tujuannya masuk ke dalam pasukan tersebut.
"Hn, sepertinya kekalahan itu tidak buruk juga. Setidaknya aku masih bisa masuk ke dalam skuad yang kuinginkan," batin Raynare.
"Syukurlah dia masih bisa masuk ke dalam skuad ksatria sihir. Tapi bagaimana dengan diriku, apa aku punya keberuntungan bisa di terima di skuad ksatria sihir," batin Yudi.
"Nomor pendaftaran 430 silakan maju."
Yudi maju dengan tegap, meskipun hatinya berharap dia bisa diterima oleh skuad Ksatria Sihir manapun.
Untuk sejenak, keheningan terjadi dan tidak nampak para komandan mengangkat tangan. Beberapa peserta pun mulai membisik pelan.
"Heh, pada akhirnya tidak ada yang ingin merekrutnya."
"Lagian, dia tadi tidak menunjukkan sihir miliknya."
Karena tidak ada tanda-tanda akan di rekrut Yudi sudah pasrah karena tidak akan menjadi ksatria sihir. Dia pun mencoba berbalik untuk pergi, namun sebuah pedang meluncur ke arahnya dengan cepat.
Dengan gerakan tenang Yudi menghindari pedang tersebut dan menatap pelakunya yang ternyata seorang komandan dari Pasukan Banteng Hitam.
"Kau tidak mengeluarkan Pedangmu untuk menangkisnya? Apa kau meremehkanku, bocah?" Ucap Yami dengan kesal.
"Bukan begitu, aku tidak merasakan niat menyakiti dari pedang itu. Makanya aku hanya menghindarinya saja," balas Yudi dengan tenang.
"Hooh sepertinya anak ini menarik, dia bisa mengetahui niat seseorang hanya dengan instingnya," batin Yami.
"Oi Yami, jangan terburu-buru mengambilnya. Karena aku ingin dia jadi samsak latihanku," ucap Jack the Ripper mengangkat tangan.
"Dasar bodoh, aku tidak akan melepaskan dirinya dengan mudah."
"Kalian berdua sebaiknya tidak berkelahi, biarkan dia masuk ke dalam Pasukanku," ucap Fuegoleon yang sama mengangkat tangan.
"Seorang bangsawan ingin rakyat jelata masuk dalam pasukannya, apa keluarga Vermillion sudah kehilangan orang berbakat hingga mengambil rakyat jelata," ucap Kapten Elang Perak yaitu Nozel Silva.
"Hm, aku tidak ingin mendengar itu dari orang yang terus membanggakan dirinya karena hanya seorang bangsawan. Saat ini aku hanya menilai dari kemampuannya bukan status dan sebagainya," balas Fuegoleon.
"Hn," balas Komandan Nozel.
Di saat para komandan ksatria sihir sibuk berdebat untuk mendapatkan Yudi, para peserta lain yang masih ada di arena juga berdebat karena tidak percaya kalau ada rakyat jelata yang bisa dipilih oleh lebih dari satu komandan.
Apalagi salah satunya adalah komandan pasukan Singa merah tua yang di pimpin oleh seorang bangsawan elite kerajaan Clover yaitu keluarga Vermillion.
"Tidak bisa dipercaya, dia bisa masuk pasukan Singa Merah Tua."
"Sialan, dia pasti hanya beruntung bisa dipilih oleh beberapa komandan pasukan ksatria sihir."
Itulah sedikit bisikan yang dilontarkan oleh para peserta yang membicarakan tentang Yudi yang dipilih oleh lebih dari satu komandan ksatria sihir.
"Anak muda, pilihlah pasukan yang ingin kau masuki," ucap Panitia seleksi.
Yudi tidak langsung menjawab, dia mencabut pedang yang telah diarahkan kepadanya. Memperhatikannya sedikit dan menaruh di punggungnya lalu dengan lantang berkata.
"Kalau begitu, aku pilih Skuad Singa Merah Tua!" Ucapnya dengan yakin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar