Kamis, 25 September 2025

Avatar state yang tercerabut


Avatar State

Avatar State adalah sebuah mode di mana sang Avatar bisa menggunakan kemampuan mengendalikan keempat elemen secara seimbang. Ya, meskipun bagi Aang saat itu kekuatan ini belum stabil, secara naluri ia mampu mengaksesnya.

Hanya di episode ke-38 (season 2 episode 18), Aang akhirnya diajari oleh Guru Pathik untuk mengendalikan Avatar State miliknya. Perlahan, sang guru dengan sabar mengajarkan teori dasar bahwa di dalam tubuh manusia terdapat tujuh cakra.

Mengacu pada ajaran Hindu, ada tujuh cakra besar dari kaki hingga kepala. Aang berhasil membuka hingga cakra ke-6. Namun, ketika harus membuka cakra ketujuh, ia diperintahkan untuk melepaskan ikatan emosionalnya, termasuk Katara. Di titik ini Aang ragu.

Meski begitu, didorong oleh nasehat Guru Pathik, ia mencoba mengikuti petunjuk tersebut. Sesaat ia mencoba melepaskan perasaannya kepada Katara dan berhasil masuk ke dalam mode Avatar. Hanya sedikit lagi menuju kesempurnaan.

Namun, bayangan Katara yang tertangkap Azula kembali muncul dalam pikirannya. Keraguan itu semakin kuat, hingga akhirnya ia memutuskan pergi. Guru Pathik sudah memperingatkan: bila gerbang ketujuh tidak dibuka segera, selamanya Aang tidak akan bisa masuk ke Avatar State.

Tetapi Aang, dengan rasa takut kehilangan orang-orang yang berharga baginya, memilih pergi menemui Sokka dan langsung menuju Kerajaan Ba Sing Se. Ia ingin membuktikan apakah penglihatannya benar dan berusaha menyelamatkan Katara.

Sesampainya di sana, ternyata benar Katara tidak ada. Mereka mencoba menemui Raja Bumi, namun tidak berhasil. Saat beristirahat di rumah pengungsi, muncullah Iroh yang meminta bantuan untuk menyelamatkan keponakannya, Zuko.

Akhirnya mereka memutuskan bekerja sama. Lewat seorang agen Dai Li yang berhasil ditangkap Iroh, mereka mengetahui lokasi Katara ditahan.

Sementara itu, di bawah tanah, Katara yang terjebak justru bertemu dengan Zuko. Obsesi Zuko untuk membunuh Aang membuat situasi semakin tegang. Namun, yang ia hadapi saat itu hanyalah Katara.

Ada momen emosional ketika Katara berniat mengobati luka bakar di wajah Zuko dengan air suci dari suku Air Utara. Namun tepat sebelum ia melakukannya, Aang dan Iroh muncul. Katara pun mengurungkan niatnya. Mungkin itu keputusan yang kelak ia syukuri seumur hidupnya.

Tidak lama kemudian Azula menyerang. Saat keadaan semakin genting, Aang mencoba masuk ke Avatar State, tetapi serangan mendadak Azula justru membuatnya sekarat.

Beruntung Katara berhasil menyelamatkannya dengan menggunakan air suci tersebut. Aang hidup kembali, namun konsekuensinya sangat berat: untuk sementara waktu ia tidak lagi bisa masuk ke Avatar State.


Itulah kisah singkat perjalanan Aang dalam menguasai Avatar State. Semoga bacotan hari ini bisa menghibur. Mohon maaf bila ada kata yang salah, dan sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Rabu, 24 September 2025

Avatar yang terselamatkan


Bayangkan kamu hidup di sebuah dunia di mana hanya ada empat kerajaan. Salah satu kerajaan berusaha mendominasi kerajaan lainnya—itulah premis yang ditawarkan oleh cerita Avatar: The Last Airbender.

Awalnya, seluruh dunia hidup dalam kedamaian. Namun, ketika terjadi pergantian seorang raja, keadaan berubah. Raja baru yang tirani haus akan kekuasaan. Ia tidak puas dengan wilayahnya sendiri dan mulai menjarah kerajaan lain.

Keadaan semakin diperparah dengan menghilangnya sosok Avatar, sang penyeimbang yang menjaga agar keempat kerajaan tidak saling berebut kekuasaan.

Aang—yang telah diramalkan sebagai Avatar selanjutnya—merasa beban tanggung jawab itu terlalu berat. Ia hanyalah seorang anak, tetapi dunia menuntutnya menjadi penyelamat. Karena tekanan itu, Aang memutuskan untuk menghilang, tepat sebelum invasi besar-besaran ke kuil udara selatan dan utara oleh Negara Api. Raja Api yang baru memang tidak ingin ambisinya terhalang oleh kemunculan seorang Avatar.

Sesuai dengan siklus Avatar, saat itu giliran seorang pengendali udara untuk dilahirkan sebagai Avatar. Menyadari hal itu, Raja Api memerintahkan pasukannya menyerang seluruh kuil udara, baik di selatan maupun utara.

Namun, dunia memiliki caranya sendiri untuk menyelamatkan sang juru selamat. Aang saat itu tengah terombang-ambing secara mental. Ia merasa beban sebagai Avatar terlalu berat, apalagi gurunya yang paling ia sayangi seperti dijauhkan darinya. Padahal, dari guru itu ia mendapatkan kasih sayang yang seharusnya dirasakan oleh anak-anak seusianya.

Situasi dunia yang semakin genting membuat para biksu senior menekan Aang dengan latihan keras, agar ia siap menghadapi keadaan darurat. Malangnya, bagi Aang yang masih anak-anak, semua itu justru terasa sebagai pengabaian. Ia merasa dianaktirikan, kehilangan kasih sayang, dan akhirnya memilih melarikan diri.

Tak disangka, keputusan Aang itu justru menjadi cara semesta untuk menyelamatkan sang Avatar dari invasi Negara Api. Andai saja ia tetap tinggal, mungkin lingkaran Avatar akan terputus.

Tetapi semesta tentu tidak akan membiarkan satu-satunya harapan dunia musnah sebelum waktunya.


Oke, itu sekilas bacotan saya hari ini tentang Avatar. Semoga menghibur, tetap semangat, dan selalu sehat!


Selasa, 23 September 2025

Nostalgia Avatar


Kemarin aku menonton serial Avatar lagi, dan ya, itu terasa sangat nostalgia. Dulu aku pertama kali mengenal Avatar saat masih SD. Kebetulan, filmnya selalu diputar pada sore hari, sekitar pukul 18.00 atau 19.00 di Global TV.

Menonton serial itu adalah pengalaman yang menyenangkan, sebab kita bisa mengikuti perjuangan seorang Avatar muda bernama Aang, yang sebenarnya berusia 112 atau 116 tahun. Tapi kalau dipotong masa tidurnya, ya usianya kira-kira 16 tahun. Itu benar-benar perjalanan yang seru.

Jumlah episodenya hanya 61. Tidak bisa dibilang ringkas, tapi juga tidak terlalu panjang. Di dalamnya banyak sekali kisah yang menyenangkan untuk diceritakan.

Awalnya aku menyukai Katara, karena sifatnya yang keibuan. Ia selalu mengerti bagaimana cara menenangkan emosi Aang, terutama ketika Aang masuk ke mode Avatar dalam keadaan marah.

Lalu ada Sokka, yang menjadi penyeimbang tim. Di saat-saat genting, ia sering melontarkan kelucuan sehingga suasana tidak terasa tegang. Tapi jangan salah—dalam momen serius, bahkan musuh yang profesional pun bisa ia taklukkan dengan cara yang brilian. Aku masih ingat ketika ia berhasil mengenai pria botak yang bisa mengeluarkan api dari kepalanya. Sokka hanya memperhatikan dari mana arah api itu meluncur, lalu menyeimbangkan bidikannya dengan bumerang. Hasilnya luar biasa: tepat sasaran! Menurutku, ia adalah sosok yang jenius sekaligus kocak. Mungkin memang benar, orang jenius itu sering kali kocak, seperti Naruto, Gon, atau Natsu.

Selanjutnya ada Toph, pengendali bumi yang buta. Meski kehilangan penglihatan, ia memiliki “mata lain” yang bahkan lebih sempurna: ia bisa merasakan getaran dan tahu dengan presisi apa yang terjadi di sekitarnya. Dari Toph jugalah lahir pengendalian logam. Awalnya ia tampak petakilan dan mudah marah, tapi setelah kilas balik hidupnya ditunjukkan, aku jadi berpikir, “Wah, kalau ada dirinya di dunia nyata, bakalan langsung nikahin aja!” Hehe. Ia selalu membawa lelucon—meski kadang agak gelap—tapi berkat dirinya, perjalanan tim tidak pernah terasa sunyi.

Dan yang terakhir adalah Zuko, pangeran dari Negara Api. Awalnya ia penuh ambisi untuk menghabisi Aang, tapi pada akhirnya berubah arah. Semua itu berkat Paman Iroh, yang sejak lama menanam “pohon kebijaksanaan” dalam diri Zuko. Pohon itu tumbuh karena kesabaran yang luar biasa. Paman Iroh mempertaruhkan segalanya demi keponakannya, bahkan memperlakukannya seperti anak sendiri. Karena bimbingan dan nasihat Iroh, Zuko akhirnya bisa memutuskan jalan hidupnya: tugasku adalah membantu Avatar, bukan memburunya.

Oke, sekian dulu untuk hari ini. Semoga kalian selalu berada dalam kesehatan. Bye-bye!

Oh ini kubuat ya, karena sebentar lagi akan ada film animasi terbaru. Yang nantinya akan memperlihatkan mereka di masa dewasa seperti di poster 😊.



Senin, 22 September 2025

Abstrak

Abstrak

Etalase isi pikiranku seperti tak pernah habis: satu muncul, ratusan ikut bermunculan. Menurutku, itu menarik, tapi anehnya aku tidak bisa menangkapnya. Maksudku, saat aku ingin fokus pada satu ide dan menuliskannya menjadi sebuah karya, aku malah tidak bisa.

Ketika berada di depan komputer atau HP untuk menuliskan ide-ide yang berkeliaran tadi, mendadak semuanya menjadi hening, seolah terkena efek stun.

Ya, aku sudah mencoba beberapa tips, seperti menangkap ide dengan menuliskannya langsung di atas kertas agar tidak lari. Namun, anehnya saat aku mencoba mengembangkan ide yang sudah kudapatkan, hasilnya tetap sama saja.

Pada akhirnya, bukannya menulis, justru mood menulis yang hilang, dan kutinggalkan begitu saja. Semoga ke depan bisa lebih baik.

Bagaimana dengan kalian? Pernahkah merasakan hal serupa, atau bahkan lebih parah? Sebenarnya, penyakitku ini kalau kata penulis disebut writer’s block—istilah ketika ide kita mentok.

Aku sendiri heran, apakah benar ada hal seperti itu? Karena ketika aku menulis fanfiksi dulu, rasanya begitu lancar. Namun memang benar, saat mendekati akhir dan tidak pernah membuat outline yang jelas, hasilnya berantakan.

Awalnya, seminggu tidak mengunggah tulisan, kupikir tidak apa-apa, libur sebentar. Tapi di minggu kedua ketika mau mengunggah lagi, muncul rasa malas: “Aduh, kayaknya absen lagi, nggak apa-apa lah.”

Lambat laun, itu menjadi kebiasaan. Hingga akhirnya, tulisan tidak pernah diunggah lagi. Yang tadinya hanya hitungan minggu, menjadi bulan, lalu berubah menjadi tiga bulan. Semoga ke depan aku bisa lebih konsisten.

Sabtu, 27 Juli 2024

Mahou no Kishi [Black Clover Fanfic]

Volume 1 
Chapter 1.1

Mendengar ucapan itu, Raynare kian menggertakan giginya. Baginya ini merupakan sebuah penghinaan daripada sebelumnya, dengan aura kebencian yang menguap dia pun mengeluarkan sihir terkuat yang dia miliki.
 
Grimoire miliknya bersinar dan terbuka tepat ke halaman sihir yang hendak digunakan oleh Raynare untuk membalas tantangan yang diajukan oleh Yudi.
 
"Baiklah, jika itu keinginanmu. Tsuchi Sousei Mahou : Sutongoremu!"
 
Dari ketiadaan perlahan batu berkumpul dan membentuk sebuah Golem batu raksasa. Raynare berdiri di bahu kanan Golem tersebut, keberadaan Golem tersebut memberikan tekanan kuat.
 
Bahkan lebih kuat dari pada milik bangsawan sebelumnya yang bertarung dengan pengguna sihir api. Para peserta juga tercengang dengan sihir yang ditunjukkan oleh Raynare.
 
"Kekuatannya hampir setara dengan Sol. Tidak, itu melebihinya," batin Charlotte.
 
"Kuso, bisa-bisanya ada orang yang memiliki sihir sama denganku," batin Sol.
 
"Sihirnya milik gadis itu sudah dipoles dengan baik, sekarang bagaimana cara bocah itu melawannya," batin Vengance.
 
Melihat itu Yudi tidak terpengaruh sedikit pun, dia malah meningkatkan fokusnya untuk menyiapkan serangan yang telah dikuasainya.
 
"Terimalah kekalahanmu!" Ucap Raynare.

Golem yang dikendalikannya mulai memberikan serangan. Lengan Golem itu mengarah langsung ke arah Yudi yang malah memasang kuda-kuda dan tidak tampak menghindar.
 
"Honou no Kokyu : Ni no Kata : Nobori En Ten!" Ucapnya merapalkan nama jurus miliknya.
 
Tepat setelah itu Yudi menebas secara vertikal ke arah depan dengan sangat cepat dan presisi. Hal itu langsung membuat lengan Golem itu hancur berantakan.
 
Tentu saja hal itu membuat mereka yang melihat terkejut, bukan hanya begitu kuatnya serangan yang dilontarkannya. Tapi gerakan miliknya begitu indah dilihat.
 
"Dia bisa menghancurkannya dengan mudah."
 
"Oi, serangannya itu. Bagaimana dia bisa melakukannya."
 
"Ba-bagaimana bisa sihir terkuatku hancur dengan mudah," batin Raynare dengan mata bergetar.
 
Belum sempat dirinya memahami situasinya, Yudi sudah melakukan serangan lagi. Dia menundukkan tubuh dan menghilang dari tempatnya berada.
 
Pemuda itu memutar tubuhnya dengan Pedang tergenggam erat. Lalu memberikan tusukan kuat ke arah perut Golem yang dikendalikan oleh Raynare.
 
"Honou no Kokyu : Roku no Kata : Hono no Bakuhatsu!" Ucapnya.
 
Dengan suara kuat Golem milik Raynare runtuh, karena tidak bisa menahan kuatnya serangan yang dilontarkan oleh Yudi.
 
"Tidak mungkin bagaimana bisa sihir terkuat milikku hancur hanya dengan dua serangan miliknya?" Batin Raynare.
 
Belum sempat dia mendapat jawaban dari pertanyaan yang muncul di kepalanya. Kesadarannya menghilangkan dan hanya kegelapan yang menyelimuti matanya.
 
"Pemenang pertandingan ini, Yudi!" Ucap wasiat menungumumkan pemenangnya.

Orang yang dimaksud hanya menghela napas pelan dan memasukkan kembali pedangnya ke dalam Grimoire. Dia memandang Raynare yang kini sedang dibawa oleh tim medis untuk mendapatkan perawatan.
 
Dirinya sedikit menyesal karena sudah membuat gadis itu hilang kesadaran. Padahal dia pikir gadis itu bisa menghindari serangannya, namun lawannya malah tidak bereaksi sama sekali sebab terkejut karena sihir miliknya bisa dihancurkan oleh teknik berpedang unik milik Yudi.
 
"Nanti aku akan minta maaf deh, karena sudah keterlaluan," gumam Yudi.
 
Setelah itu dia kembali ke tempat sebelumnya, orang sekitar berbisik saat melihat dirinya mendekat. Namun Yudi tidak ambil pusing karena tidak tertarik menjadi pusat perhatian.
 
"Dengan berakhirnya pertandingan tadi maka berakhir pula tes pertarungan. Kami para komandan akan melakukan rapat untuk menentukan siapa saja yang lolos dan berhak menjadi ksatria sihir," ucap William Vengance.
 
Setelahnya para Komandan meninggalkan koloseum untuk merapatkan hasil tes yang sudah diselesaikan.
 
Para peserta nampak semangat, ada juga yang lesu dan khawatir tapi Yudi sedikit gugup karena pada tes sebelumnya dia tidak lulus dan hanya Tes pertarungan saja dia bisa unjuk diri.
 
Setelah beberapa saat para komandan kembali dan kali ini Fuegoleon yang memberikan arahan.
 
"Baiklah terima kasih atas kesabaran kalian, kini saatnya untuk penentuan apakah kalian lulus atau tidak. Kalian akan dipanggil dengan nomor pendaftaran, bila salah satu dari komandan mengangkat tangan maka artinya dia di terima oleh komandan tersebut. Jika yang mengangkat tangan ada lebih dari satu, maka dia bisa memilih untuk masuk ke satuan yang diinginkannya. Kalau begitu mari kita mulai!"

"Nomor pendaftaran 1!"
 
"Ditolak!"
 
"Nomor pendaftaran 2!"
 
"Ditolak!"
 
Nomor pendaftaran terus dipanggil, ada yang diterima dan lebih banyak yang ditolak. Wajah mereka yang diterima tentunya sangat senang tapi bagi yang gagal tentunya lesu.
 
"Nomor pendaftaran 425!"
 
Yudi meliriknya karena itu adalah gadis yang telah mengajaknya bertarung. Saat dia berdiri wajah menampakkan kecemasan dan kekesalan karena dia sudah kalah dari Yudi.
 
"Sialan, kenapa aku bisa kalah olehnya," batin Raynare kesal.
 
Sejenak terdiam, akhirnya seorang komandan dari Pasukan mawar biru mengangkat tangan. Itu adalah satuan pasukan yang isinya adalah para wanita.
 
Melihat kalau yang mengangkat tangan adalah komandan pasukan mawar biru, Raynare begitu senang karena memang tujuannya masuk ke dalam pasukan tersebut.
 
"Hn, sepertinya kekalahan itu tidak buruk juga. Setidaknya aku masih bisa masuk ke dalam skuad yang kuinginkan," batin Raynare.
 
"Syukurlah dia masih bisa masuk ke dalam skuad ksatria sihir. Tapi bagaimana dengan diriku, apa aku punya keberuntungan bisa di terima di skuad ksatria sihir," batin Yudi.
 
"Nomor pendaftaran 430 silakan maju."
 
Yudi maju dengan tegap, meskipun hatinya berharap dia bisa diterima oleh skuad Ksatria Sihir manapun.
 
Untuk sejenak, keheningan terjadi dan tidak nampak para komandan mengangkat tangan. Beberapa peserta pun mulai membisik pelan.
 
"Heh, pada akhirnya tidak ada yang ingin merekrutnya."
 
"Lagian, dia tadi tidak menunjukkan sihir miliknya."
 
Karena tidak ada tanda-tanda akan di rekrut Yudi sudah pasrah karena tidak akan menjadi ksatria sihir. Dia pun mencoba berbalik untuk pergi, namun sebuah pedang meluncur ke arahnya dengan cepat.

Dengan gerakan tenang Yudi menghindari pedang tersebut dan menatap pelakunya yang ternyata seorang komandan dari Pasukan Banteng Hitam.
 
"Kau tidak mengeluarkan Pedangmu untuk menangkisnya? Apa kau meremehkanku, bocah?" Ucap Yami dengan kesal.
 
"Bukan begitu, aku tidak merasakan niat menyakiti dari pedang itu. Makanya aku hanya menghindarinya saja," balas Yudi dengan tenang.
 
"Hooh sepertinya anak ini menarik, dia bisa mengetahui niat seseorang hanya dengan instingnya," batin Yami.
 
"Oi Yami, jangan terburu-buru mengambilnya. Karena aku ingin dia jadi samsak latihanku," ucap Jack the Ripper mengangkat tangan.
 
"Dasar bodoh, aku tidak akan melepaskan dirinya dengan mudah."
 
"Kalian berdua sebaiknya tidak berkelahi, biarkan dia masuk ke dalam Pasukanku," ucap Fuegoleon yang sama mengangkat tangan.
 
"Seorang bangsawan ingin rakyat jelata masuk dalam pasukannya, apa keluarga Vermillion sudah kehilangan orang berbakat hingga mengambil rakyat jelata," ucap Kapten Elang Perak yaitu Nozel Silva.
 
"Hm, aku tidak ingin mendengar itu dari orang yang terus membanggakan dirinya karena hanya seorang bangsawan. Saat ini aku hanya menilai dari kemampuannya bukan status dan sebagainya," balas Fuegoleon.
 
"Hn," balas Komandan Nozel.
 
Di saat para komandan ksatria sihir sibuk berdebat untuk mendapatkan Yudi, para peserta lain yang masih ada di arena juga berdebat karena tidak percaya kalau ada rakyat jelata yang bisa dipilih oleh lebih dari satu komandan.
 
Apalagi salah satunya adalah komandan pasukan Singa merah tua yang di pimpin oleh seorang bangsawan elite kerajaan Clover yaitu keluarga Vermillion.
 
"Tidak bisa dipercaya, dia bisa masuk pasukan Singa Merah Tua."
 
"Sialan, dia pasti hanya beruntung bisa dipilih oleh beberapa komandan pasukan ksatria sihir."
 
Itulah sedikit bisikan yang dilontarkan oleh para peserta yang membicarakan tentang Yudi yang dipilih oleh lebih dari satu komandan ksatria sihir.
 
"Anak muda, pilihlah pasukan yang ingin kau masuki," ucap Panitia seleksi.
 
Yudi tidak langsung menjawab, dia mencabut pedang yang telah diarahkan kepadanya. Memperhatikannya sedikit dan menaruh di punggungnya lalu dengan lantang berkata.
 
"Kalau begitu, aku pilih Skuad Singa Merah Tua!" Ucapnya dengan yakin.

Rabu, 10 Juli 2024

Interlude kehidupan 2

Satu hal kecil 

Ada orang bijak bilang seperti ini. Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu mil, ini seakan mengatakan kalau hal yang paling utama adalah langkah awal.

Tidak bisa dipungkiri, sebagian besar dari kita saat hendak mengerjakan sesuatu pasti langsung berpikir kalau ini pasti berat dan sebagainya.

Contohnya pekerjaan di kantor, melihat tumpukan kertas yang setebal 1 centimeter pasti akan membuat beberapa orang mengernyitkam dahi, sebagian lagi menahan nafasnya dan yang lebih sering terjadi adalah emosi.

Namun bila kita emosi, itu tidaklah menghilangkan semua pekerjaan yang menumpuk tersebut. Malahan energi kita hanya akan terbuang percuma.

Padahal jika kita bisa berpikir jernih, sesungguhnya pekerjaan itu tidaklah begitu memberatkan. Tentunya bila kita memiliki Mindset yang bagus.

Dari pada kita mendumel tidak jelas karena pekerjaan yang menumpuk, alangkah baiknya kita dinginkan hati dan pikiran sejenak. Lalu mulai melihat-lihat dulu pekerjaannya.

Setelah itu barulah perlahan dikerjakan sedikit demi sedikit. Prinsipnya seperti sebuah pepatah. 

Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit.

Pun pepatah lain juga berbunyi 

Berakit-rakit dahulu renang-renang kemudian 
Sakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Adapun dari sisi Religius kita bisa mengambil sebuah ayat kitab Suci Al Qur'an yang berbunyi.

Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.

Dan apabila kalian sudah selesai (dari sesuatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lainnya 

Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

[Q.S. Al Insyirah 6-7]

Tiga ayat diatas memiliki arti dan makna mendalam bukan. Intinya kita diajarkan untuk memiliki mindset bahwa dalam menyelesaikan sesuatu entah itu tugas atau pekerjaan.

Pun kita harus meyakini sepenuhnya kepada Tuhan, kalau di setiap pekerjaan yang kita lakukan pasti ada kemudahan untuk menyelesaikannya.

Mulailah dengan pekerjaan yang paling mudah, dengan begitu perlahan namun pasti pekerjaan yang menumpuk akan berkurang. Jika kita terbiasa melakukan hal tersebut.


Bukan tidak mungkin kita tidak akan mengeluarkan keluhan tidak jelas ketika dihadapkan dengan begitu banyak pekerjaan yang ada di hari itu.

Namanya juga kerja, ya wajar dong kalau selalu ada. Justru Kalau tidak ada pekerjaan itu yang harusnya bingung sekaligus was-was. Lah kok begitu, bukannya itu harus dinikmati.

Maksudku di sini tidak ada pekerjaan yang kita kerjakan selama beberapa hari, menandakan ada yang tidak beres. Kita harus lebih peka dengan lingkungan kita bekerja.

Karena dengan itu, persentase kita bekerja di tempat itu akan berlangsung lama atau malah bisa sampai pensiun. Mudah-mudahan kita diberikan rasa cinta pada pekerjaan.

Sehingga kita bisa Melakukan semua pekerjaan dengan baik dan menyenangkan. Karena sejatinya bekerja itu juga harus menyenangkan, kalau tidak ya fisiologi kita akan memburuk.

Seorang rekan kerja memberi nasehat yang menurut saya bagus. Begini nasehat yang dia berikan kurang lebihnya.

Kalau bekerja itu, cintailah pekerjaannya. Bukan perusahaannya. Karena meskipun kita benci dengan perusahaan kalau kita cinta dengan pekerjaan, kita tidak akan termakan ego untuk segera ingin angkat kaki dari tempat kerja. Sebelum memiliki pekerjaan yang baru. 

Lalu yang lebih penting, jangan kita menjadi seorang penculas. Yaitu kita menceritakan keburukan tempat kita bekerja, akan sangat baik kalau kita menceritakan hal-hal yang baik saja.

Karena walau bagaimanapun kita telah mendapatkan gaji dari perusahaan, jadi seyogyanya kita harus menjaga nama baik perusahaan tempat kita bekerja.

Itulah pesan yang bisa saya tangkap dari nasehat Rekan kerja saya dulu. Tentu semoga ini bisa bermanfaat untuk kita semua terutama penulis sendiri.

Akhirnya jika ada kesalahan saya mohon maaf dan kepada Allah saya mohon ampun.

Berjuang terus wahai para pencari nafkah yang halal. Semoga keringat yang menetes itu akan menjadi saksi di hadapannya, tentang apa yang telah kau lakukan untuk mencukupi kebutuhan keluarga atau diri sendiri.

Selasa, 09 Juli 2024

Hidupilah Sunnah Nabi Muhammad

Hidupkanlah Sunnah Nabi Muhammad S.A.W

Kebaikan adalah kebaikan dan keburukan adalah keburukan. Mungkin itulah hukum tidak tertulis yang biasa kita ketahui.

Tapi ada juga ungkapan yang sering kita dengar namun sering kali kita abaikan. Ungkapan itu adalah ikuti kata hati.

Hanya tiga kata tok, dan sangat simpel tapi memiliki makna yang sangat dalam. Beberapa orang mungkin mencibir, lah emang iya harus ikuti kata hati. Kita hidup di zaman logika sudah terang.

Kata hati juga gak menjamin bahwa itu benar. Hidup di zaman apapun juga memang harus menggunakan logika. Tapi akan ada saatnya kita dihadapkan pada situasi dimana logika sekalipun tidak akan bisa menjelaskannya.

Di saat itu apa yang akan kita andalkan, jawabannya adalah kata hati. Sebelum mengikuti kata hati, sangat penting juga kita menelaah.

Apakah yang dibisikkan oleh hati itu menjurus pada kebaikan atau malah sebaliknya. Karena itu frasa tadi yang hanya berisi tiga kata, maka untuk meminimalisir adanya kekeliruan.

Haruslah ditambah dengan tiga kata lagi dan akan menjadi seperti ini. Ikuti kata hati, tapi jangan lupa dikoreksi. Apa yang dikoreksi? Tentu saja, bisikan hatinya.

Seorang Syaikh yang terkenal dengan gelar Sulthon Auliya memberikan nasehat yang begitu bagus, katanya jika hatimu membisikkan sesuatu atau adanya sebuah prasangka dalam dirimu. Periksa dulu apakah itu bertentangan dengan kitabullah atau Sunnah Nabi.

Apabila tidak bertentangan maka ikutilah, tapi jika bertentangan dengan keduanya maka jauhilah. Itu agar dirimu tidak bertindak menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Nabi.

Tentu saja ini memberikan kita tamparan keras, mengingat hal seperti ini kadang tidak pernah terpikirkan oleh kita sama sekali. 

Jujurlah, apakah kita selama hidup ini mendengar kata hati atau timbul prasangka lalu kita mengoreksinya apakah itu bertentangan dengan kitabullah dan Sunnah dalam bertindak.

Saya rasa hal seperti ini akan sangat sulit kita jumpai orang-orang yang berperilaku demikian. Tapi bukan berarti orang seperti ini tidak ada, mereka ada hanya saja enggan menunjukkan diri.

Tapi bagaimana jika seandainya tidak ada lagi orang yang seperti ini di muka bumi. Ternyata semua orang sudah meninggalkan kebaikan dan melakukan kemaksiatan dan kemungkaran.

Mereka sudah tidak memperhatikan lagi mana yang haq dan bathil, yang lebih buruk tidak hanya mereka mengerjakannya tapi banyak juga yang mengajak melakukan hal tersebut.

Maka jadikanlah Sabda Rasulullah S.A.W ini sebagai pegangan hidup agar kelak kita menjadi Ummat yang diakui oleh-Nya. Apa yang dia pesankan.

Rasulullah S.A.W bersabda “Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku berarti ia mencintaiku, siapa saja yang mencintaiku , ia akan bersamaku di syurga” (HR. Imam Ath Thabarani).

Kiranya cukup satu nasehat kecil ini, semoga bisa membangkitkan semangat kita untuk terus memperbaiki diri. Apalagi saat ini adalah bulan Muharram, bulannya perubahan.

Gunakan akal kita dengan baik dan perbanyak melakukan renungan mendalam, mudah-mudahan pikiran kita bisa menangkap hidayah Allah yang bertebaran di muka bumi ini.

Semoga Muharram ini tidak terlewatkan begitu saja, karena di dalam bulan ini terdapat banyak sekali keutamaan dan pahala yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Akhirnya apabila ada kesalahan saya minta maaf dan kepada Allah S.W.T saya mohon ampun.

Senin, 08 Juli 2024

Mahou no Kishi [Black Clover Fanfic]

Volume 1

At beginning 1.2

Setelah seluruh peserta melakukan duel dengan seluruh kemampuan, tibalah giliran Yudi dan Raynare melakukan duel. Wanita bangsawan itu menyeringai dengan penuh percaya diri.

"Kuharap kau tidak kalah dalam sekali serang ya." Ucapnya sembari menyiapkan sihir serangan.

Grimoire miliknya terbuka dan segera beberapa tanah berukuran sedang di sekitar terangkat. Tentu saja pemandangan itu membuat semua orang kagum karena tanah itu melayang dengan tenang di sekitar Raynare.

'Sihir Tanah ya, dilihat sekilas saja sudah jelas Kalau dia sangat mahir. Ini akan sangat menyenangkan.' Batin Yudi.

"Aku mulai ya! Tsuchi Maho : Ishinage!" Ucapnya.

Bongkahan batu yang mengitarinya dengan cepat menyerang Yudi. Tapi karena tubuhnya telah dilatih dengan Ketat oleh Masternya. Itu tidak begitu berpengaruh, dengan lihai Yudi menghindari setiap bongkahan batu yang hendak mengenainya.

Bongkahan batu itu menghantam dinding lapangan dan menciptakan getaran kecil, membuat beberapa peserta berpikir kalau tempat ini akan hancur oleh serangan Raynare.

"Oi apa-apaan dia itu?"

"Apa dia berencana menghancurkan tempat ini!"

"Lagian lawannya malah menghindar dengan mudah, padahal lesatan batu itu tidak bisa kulihat. Bagaimana dia bisa melakukannya." Ucap seorang peserta.

Sementara di sisi komandan juga memberikan komentar.

'Kontrol sihir milik wanita itu sangat bagus, hanya perlu sedikit pelatihan maka dia mungkin akan menyamai Sol.' Batin Charlotte.

'Meskipun diterjang oleh serangan seperti itu, tapi bocah itu masih belum serius. Bukankah itu sama saja memprovokasi secara tidak langsung. Sungguh bocah yang menarik.' Batin Yami.

'Ketenangan dan teknik bertarung miliknya lumayan baik. Tapi aku penasaran bagaimana kekuatannya saat serius.' Batin Fuegoleon.

'Dia bahkan tidak menggunakan sihir penguatan. Dengan kata lain, dia melatih tubuhnya dengan begitu keras hingga bisa bertarung seperti itu.' Batin William Vengance.

'Keke sepertinya ada anak yang bagus untuk dijadikan samsak latihanku.' Batin Jack.

Kembali ke pertarungan.

Raynare menggertakan giginya karena serangan yang dia lancarkan tidak ada satupun yang mengenai lawannya. Malahan lawannya bahkam belum mengeluarkan sihir miliknya sama sekali.

'Ini merupakan sebuah penghinaan, dia benar-benar mempermainkan diriku. Tidak akan kubiarkan kau bertingkah lancang lebih jauh.' Batin Raynare.

Batu terakhir menghantam lurus ke depan dan Yudi menghindari itu dengan mudah.

"Hooh tidak kusangka kau berhasil mengatasi seranganku. Tapi apa kau bisa mengatasi yang ini. Tsuchi Mahou : Renzoku Toseki!" Ucap Raynare sembari merapalkan sihir miliknya.

Dalam sekejap muncul batu seukuran tadi, namun batu-batu itu melesat dengan lebih cepat dan presisi dari sebelumnya. Yudi mencoba menghindar namun dia tidak bisa dan terhempas oleh lesatan beberapa batu itu.

Yudi tersungkur dan meringis sebab dia terkena serangan langsung dari sihir milik Raynare. Tapi tubuhnya masih utuh, meskipun ada bercak darah di mulutnya tapi itu malah membuatnya bersemangat.

'Akhirnya, seranganku kena. Teruslah bersikap seperti tadi maka kau akan menjadi budakku!' Batin Raynare.

Semua peserta yang melihat keadaan Yudi memberikan cibiran.

"Nah lo, kan kena batunya juga tuh bocah."

"Tadi berlagak bisa menghindar, lah kini malah terhempas."

"Bocah kampung mana bisa menyaingi bangsawan!"

"Heh, kupikir kau berbakat, tapi ternyata hanya sebatas ini. Kalau begitu, kau akan menjadi budakku."

Perlahan Yudi bangkit dan mengelap bercak darah di pipinya lalu memberi senyum percaya diri. Matanya menatap Raynare dengan penuh tekad dan dengan lantang berkata.

"Apa kau yakin akan berakhir seperti itu!"

Melihat itu Raynare jadi sedikit gemetar karena merasa tatapan itu begitu mengintimidasi meskipun dia tahu kalau itu tidak berbahaya. Tapi entah kenapa tubuhnya menggigil tanpa sebab.

Beberapa peserta memberikan cibiran karena sikap yang ditunjukkan 

"Hah! Apa bocah itu tidak tahu artinya Kalah?"

"Sepertinya ada yang salah di kepalanya!"

Itulah cibiran dari beberapa peserta yang menonton. Jika para peserta mencibir tingkah Yudi barusan, tapi para komandan mulai memandang dengan serius karena ingin tahu kekuatan sebenarnya milik bocah yang belum mengeluarkan sihirnya sama sekali.

Grimoire milik Yudi perlahan melayang lalu terbuka dan dari sana muncul sebuah pedang lebih tepatnya Katana. Tidak ada yang spesial dari pedang katana itu, hanya ada satu kalimat yang tersemat di sana yaitu kalimat Metsu atau artinya hancurkan.

Pemuda itu ingat kalau pedang katana itu adalah hadiah yang diberikan oleh pengembara yang telah memberi pelatihan keras pada dirinya 6 bulan yang lalu.

Bahkan dia juga yang telah mengajarkan teknik berpedang unik yang menurut Yudi sangat penting sebagai dasar dirinya dalam mengarungi perjalanan menuju impiannya menjadi Komandan Ksatria Sihir.

"Karena kau hanya memiliki Sihir penyimpanan maka akan kuhadiahi pedang ini padamu sebagai kenang-kenangan. Pedang ini bernama Nichirin ditempa dengan sangat baik dan memiliki ketajaman yang luar biasa. Ketahanan dan elastisitas pedang ini juga tinggi, gunakan dia dengan bijak. Lalu raihlah impianmu untuk menjadi Komandan Ksatria Sihir." Ucap Masternya saat memberikan pedang itu tiga hari sebelum dia pergi.

'Jika aku kalah dengan serangan seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa menjadi Komandan Ksatria Sihir.' Batin Yudi.

"Sekarang seranglah aku dengan kekuatan penuhmu, kali ini aku akan melawannya dengan segenap kekuatan yang sudah kulatih." Ucap Yudi.

Minggu, 07 Juli 2024

Interlude kehidupan 1

Tahun baru telah tiba waktunya untuk hijrah.

Hari ini adalah 1 Muharram yang mana merupakan bulan yang suci bahkan dalam Al-Qur'an pun bulan ini di singgung sebagai bulan yang mulia.

Di Bulan Mulia ini, ada baiknya kita melakukan introspeksi diri tentang apa saja yang telah kita perbuat selama satu tahun sebelumnya.

Seperti berapa hari sholat yang kita tinggalkan, atau berapa kali Jumat yang kita lewatkan, dan banyak sekali ibadah yang bisa kita koreksi.

Setelah menghitung-hitung sendiri, mulailah untuk melakukan Azam untuk membuat Tahun ini lebih baik dari sebelumnya. Karena Bulan ini adalah momentum untuk melakukan perubahan.

Tidak perlu yang besar, mulailah dengan yang kecil-kecil. Seperti bila di tahun sebelumnya kita hanya sholat di bulan Ramadhan. Maka untuk tahun ini mulai digiatkan mengerjakan shalat setiap hari.

Hal seperti ini memang nampak sederhana, tapi percayalah seiring berjalannya waktu. Kita akan mensyukurinya kelak di saat hari yang telah dijanjikan tiba.

Lalu untuk ibadah lain bisa menyusul kemudian, kenapa hal pertama yang harus kita perbaiki adalah sholat. Karena ini adalah perintah spesial yang bahkan penyampaiannya tidak melalui perantara malaikat tapi Nabi Muhammad S.A.W sendiri yang menerima.

Jadi jika diukur dengan amal ibadah lain yang penyampaiannya dibawa oleh malaikat Jibril A.S. tapi Khusus perintah sholat ini, Rasullullah S.A.W sendiri yang datang untuk menerimanya.

Selain itu, sholat merupakan ibadah pertama yang akan dihisab daripada ibadah lainnya. Jika Sholat baik maka perhitungan amalnya akan mudah dan jika sholatnya buruk maka akan sulit pula perhitungan amal kita nantinya.

Selain memperbaiki ibadah, ada beberapa peristiwa penting juga yang terdapat di dalam bulan Muharram ini. Salah satunya adalah Rasullullah S.A.W hijrah ke Yastrib di bulan ini.

Hal ini hendaknya menjadijan kita bersemangat untuk melakukan hijrah. Bukan berarti kita harus pindah dari tempat kita ke tempat lain, tapi yang harus kita lakukan adalah hijrah Niat, Hijrah pikiran, dan Hijrah Perbuatan.

Contoh simpelnya begini, jika sebelumnya kita suka berpikir buruk tentang diri sendiri atau orang lain. Maka hendaknya kita hijrah untuk memikirkan kebaikan diri sendiri dan orang lain.

Lalu jika sebelumnya kita selalu berniat untuk melakukan maksiat, maka di bulan ini coba kita buat niat untuk mengerjakan kebaikan. Tidak mengapa itu kecil, sebab hal kecil itulah yang akan menjadi titik awal perubahan.

Lalu Jika sebelumnya anggota tubuh kita kerap kali melakukan kemaksiatan, kezholiman dan berbuat kerusakan. Alangkah baiknya kita segera Hijrah untuk menggunakan anggota tubuh yang dikaruniakan oleh Allah. Untuk mulai melakukan perbuatan-perbuatan yang di cintai dan diridhoi oleh-Nya.

Hal-hal kecil kerap kali diremehkan nilainya, tapi dihadapan Allah SWT itu tetap diperhitungkan.

[Barangsiapa melakukan kebaikan seberat Zarrah, maka pasti akan menerima ganjarannya. Juga barangsiapa melakukan kejahatan seberat Zarrah sekalipun, akan mendapat ganjarannya pula.]

[Q.S Al Zalzalah ayat 7-8]

Semoga artikel sederhana ini bisa bermanfaat untuk kita semua terutama penulis sendiri. Lebih dan kurangnya saya mohon maaf apabila ada kesalahan mohon dimaafkan dan kepada Allah SWT saya mohon ampun.

Semoga Tahun ini bisa lebih baik dari Tahun sebelumnya.

Selamat Tahun baru 1 Muharram 1446 Hijriah.

Sabtu, 06 Juli 2024

Mahou no Kishi [Black Clover Fanfic]

Volume 1
At the Beginning.

"Apakah ini akhirnya?" tanya seorang bocah pada seorang pemuda yang nampak tidak menunjukkan sedikit emosi di depan. 

"Iya, latihan denganku sudah selesai. Sekarang adalah tugasmu untuk melanjutkan impianmu untuk menjadi komandan ksatria sihir. Berjuanglah!" Ucapnya lirih dan segera pergi dalam sekejap.

"Dia pergi, ku pikir akan tahu namanya tapi sampai akhir aku masih belum tahu namanya." ucap pemuda itu.

Pemuda itu menaruh pedangnya pada Grimoire miliknya. Sudah 6 bulan berlalu sejak dia mendapatkan Grimoire miliknya, kini impiannya untuk menjadi komandan ksatria sihir ada di depan mata.

"Awalnya aku ragu untuk melanjutkan impian menjadi komandan ksatria sihir,  sebab Grimoire milikku hanya berfungsi sebagai tempat menaruh benda saja. Tapi berkat latihan yang diberikan oleh Pengembara itu, aku kini bisa bertarung dengan cara berbeda. Siapapun namamu, aku ucapkan terima kasih." Ucap pemuda itu dan langsung kembali pulang.

Di perjalanan pulang dia melihat Desa yang asri dan damai itu sekali lagi untuk mengenangnya. Karena esok dia akan memulai perjalanan menuju ibukota kerajaan Clover untuk mendaftar menjadi Ksatria Sihir demi impiannya untuk menjadi komandan ksatria sihir.

"Aku akan benar-benar rindu dengan kampung halaman ini, tapi aku mungkin akan sesekali kembali lagi sampai meraih impianku menjadi komandan ksatria sihir terwujud." Ucapnya meneguhkan tekad.

Beberapa orang yang dia kenal menyapanya dan menyemangatinya, sebab dia sering kali membagikan impiannya yang suatu hari nanti akan menjadi Komandan Ksatria Sihir.

"Kau sudah selesai latihan ya, Yudi?" Tanya seorang pria dewasa.

"Iya nih, paman Toiro. kebetulan hari ini aku sudah menyempurnakan teknik milikku. Tapi aku masih khawatir apakah bisa lolos tidak ya dalam seleksi nanti." Balas Yudi.

"Lebih percaya dirilah. Kamu masih muda dan jalanmu masih panjang. Teruslah berusaha dan jangan menyerah." Ucap seorang wanita paruh baya.

"Terima kasih, dukungannya Bibi Rosella. Akan kuukir nasehatmu itu dengan baik." Balas Yudi sembari tersenyum hangat.

Beberapa orang juga ikut bergabung untuk memberikan dorongan semangat pada Yudi. Kebanyakan orang di desa ini memang sering mengikuti seleksi ujian tersebut namun berakhir gagal.

Mereka yang gagal kadang tidak mau  mendaftar di tahun selanjutnya dan memilih untuk melanjutkan pekerjaan sebagai petani di desa ini.

Jadi orang-orang di sini begitu senang saat ada pemuda yang bersemangat untuk menjadi ksatria sihir. Kabar baiknya, tidak ada satupun orang yang memberikan respon negatif pada impian Yudi.

Karena semuanya paham kalau mematahkan semangat seseorang itu adalah perbuatan kurang sopan dan sangat tidak baik. Karena itu penduduk di desa ini hidup dalam keharmonisan.

Esok hari pun tiba, Yudi berangkat dengan banyak sekali bekal yang diberikan oleh penduduk desa. Mereka juga memberikan semangat dan doa agar diberi kelancaran dalam seleksi ujian kesatria sihir.

Perjalanan dari desa ini menuju ibukota kerajaan Clover memakan waktu cukup lama. Selama perjalanan itu, Yudi tetap menjalankan latihan rutin yang diberikan oleh gurunya.

Hingga akhirnya, sampailah ia di kota Kastil Kikka yang merupakan Ibukota kerajaan Clover. Yudi memandang kota Kastil itu dengan kagum, karena tempatnya melebihi ekspektasi yang dia bayangkan.

"Akhirnya, impianku untuk menjadi komandan ksatria sihir di depan mata." Gumamnya pada diri sendiri.

Suasana yang ramai dan banyaknya para pelancong yang bolak-balik untuk melihat berbagai jualan yang di sediakan oleh berbagai kios di sepanjang jalan menuju kastil Kikka menjadi aktivitas rutin di tempat ini.

Apalagi momen saat ini yang menjadi event tahunan kerajaan Clover yaitu perekrutan anggota ksatria sihir. Tidak mungkin acara ini dilewatkan oleh para penjual dan penduduk untuk melihat berbagai sihir yang dimiliki oleh berbagai orang yang ada di seluruh kerajaan Clover.

Yudi berjalan menuju konter pendaftaran dan langsung menunjukkan Grimoire miliknya. Si petugas menyentuh Grimoire miliknya dan langsung berkata.

"Baiklah, kau nomor 430."

"Terima kasih!" Ucap Yudi.

Setelah itu dia melihat begitu banyak orang-orang berkumpul untuk mendaftar menjadi ksatria sihir. Mereka memiliki wajah beragam, ada yang cemas, ada yang penuh semangat.

Yang mencuri perhatiannya adalah bocah cebol berambut putih yang mencoba lepas dari burung hitam yang mengerubunginya.

"Watatatata, kenapa kalian mengerubungi diriku. Pergilah dari sini, Yuno tolong aku!" Ucapnya dengan suara cempreng sembari berusaha mengusir burung-burung yang mengerubunginya dari tadi.

"Tidak mungkin," balas pemuda tampan yang ada di sebelahnya.

Beberapa orang yang hadir mulai tertawa melihat tingkah bocah itu, karena berpikir seberapa rendah mana miliknya hingga burung itu mengerumuni seperti itu.

"Woi, kau bercanda bukan? Seberapa rendah mana miliknya hingga dikerubungi seperti itu." 

"Pasti dari rakyat jelata!"

"Tapi itu semacam hiburan juga!"

'Hahahaha!"

Beberapa burung hitam itu juga menghampiri Yudi, namun mereka tidak mematuk-matuk hanya bertengger saja dibahu atau kepalanya. Seolah burung itu merasa nyaman berada di tubuh Yudi.

Hal itu malah membuat orang-orang di sana merasa aneh, sebab biasanya burung itu akan mematuk-matuk orang yang dihampirinya. Namun dalam kasus Yudi, mereka malah bertengger dengan nyamannya.

"Kenapa burung-burung itu malah merasa nyaman berada dekat pemuda itu." Ucap seorang pemuda.

"Entahlah, apa dia menggunakan semacam pemikat hingga mereka tidak mematuknya."

"Mustahil, burung-burung itu tidak mungkin bisa di sihir seperti itu."

"Aku kan hanya mengeluarkan pendapat saja."

Demikian cibiran yang diucapkan oleh mereka melihat ke arah Yudi. Sementara orang yang digosipkan hanya memutar bola matanya, karena dia juga tidak mengerti sama sekali.

Hanya saja, Gurunya pernah mengatakan untuk bersikap setenang mungkin. Sebab itu akan membuat mana di tubuhnya berpendar dengan lembut.

Tiba-tiba burung-burung itu yang ada di area sekitar terbang menjauh, itu karena kehadiran dari 9 sosok yang melihat ke arah peserta calon kesatria sihir.

Mereka adalah para komandan ksatria sihir yang telah mendedikasikan hidupnya untuk melindungi seluruh kerajaan Clover dibawah naungan kaisar sihir.

Mereka nampak berwibawa dan mengintimidasi. Para peserta juga ada beberapa yang gemetar dengan kehadiran mereka.

Namun diantara 9 komandan ksatria sihir yang paling nampak kurang berminat adalah seorang pria paruh baya dengan kaus oblong putihnya dan celana jeans Gold brown.

Tubuhnya terbentuk dengan sempurna menandakan dia telah menjalani latihan ekstrim yang berada diluar batas manusia. Hanya dengan melihat, Yudi bisa tahu kalau sosok itu sangat kuat.

"Acara ini membosankan, bisakah kita percepat!" Ucapnya dengan nada malas.

"Kekekeke, bisa-bisanya kau berkata seperti itu. Yami!"

"Urusai, urus saja masalahmu sendiri. Jack!" Balas Yami menanggapi ucapan komandan dari kesatria sihir belalang sembah hijau Jack the ripper.

"Sebagai komandan ksatria sihir kita harus menunjukkan integritas kita. Ini juga sebagai bentuk penghormatan pada Tuan Julius." Ucap seorang komandan dari Fajar Keemasan bernama William Vengance 

"Terserah kau saja," balas Yami.

"Laki-laki memang tidak berguna," Ucap dingin seorang komandan wanita dari kelompok Mawar biru bernama Charlotte.

"Bagaimanapun juga, kita harus menyambut bibit muda yang akan menjadi pelindung dari kerajaan ini." Ucap tegas seorang pria berambut jingga yang merupakan komandan pasukan Singa Merah Tua bernama Fuegoleon.

"Ucapanmu sungguh membosankan, tapi sebagai seorang bangsawan kita memang harus menunjukkan etika yang baik agar nama baik kerajaan Clover tidak tercoreng." Ucap komandan pasukan Elang Perang bernama Nozel Silva.

Sementara sisanya hanya memasang wajah datar dan bersiap untuk melihat para peserta yang akan menjadi bawahan mereka nantinya.

Sistem pendaftaran ksatria sihir seperti ini, setiap peserta akan melalui beberapa tes kemudian dari berbagai tes itu. Para komandan ksatria sihir, akan menjadikan hasil dari tes tersebut sebagai pertimbangan untuk merekrut mereka ke dalam pasukan yang di pimpinnya.

Semuanya, selamat datang di acara perekrutan Ksatria Sihir. Aku William Vengance akan memandu jalannya tes pertama. Untuk tes pertama adalah 


"Datang Pohon Suci!" Seru William mengeluarkan sihir miliknya dari Grimoire.

Dengan itu langit yang tadinya cerah, berubah hijau dan dari ketiadaan muncul pohon raksasa yang mana setiap akarnya menjulur membentuk sebuah sapu dan menyerahkan ke arah para peserta.

Satu persatu orang menyambut sapu itu dengan heran, lalu William memberitahu apa yang harus dilakukan dengan sapu itu.

"Tes pertama adalah cobalah terbang dengan sapu itu. Kami akan menilai bagaimana cara kalian mengendalikan dan kapasitas mana kalian." Ucapnya.

Heh, apa kita beneran bisa terbang dengan sapu ini?

Aku bahkan belum tahu Kalau bisa terbang dengan benda ini

Keterampilan menggunakan sapu terbang adalah dasar dari menjadi ksatria sihir karena itu akan menjadi transportasi kalian dalam menjalankan misi nantinya. Ucap Charlotte.

Para peserta yang awalnya ragu-ragu kini mencoba untuk terbang dengan sapu itu. Beberapa ada yang berhasil dan ada juga yang terbang lalu terjungkal karena gagal mengendalikan gerakan sapunya.

Sementara para bangsawan kebanyakan berhasil terbang dengan baik, bahkan yang paling mencolok adalah pemuda bernama Yuno yang bisa terbang sembari berdiri menunjukkan keterampilan dalam mengendalikan mana miliknya.

Anak itu pasti punya kontrol mana yang bagus, tapi bagaimana caraku bisa melakukannya. Ucap Yudi sembari berwajah kecut melihat ke arah sapu miliknya.

"Oi apa-apaan anak cebol itu!"

"Dia sama sekali tidak bisa terbang!"

"Hahaha dia memang lelucon di tempat ini!"

"Ya, sepertinya aku tidak sendiri sih!" Gumam Yudi.

Setelah tes pertama dilanjutkan tes kedua dan ketiga. Lalu saat te ke empat seorang komandan dari Pasukan Raja singa merah Tua berdiri dan berkata dengan suara lantang.

"Sekarang saatnya untuk ujian ke empat dan di tes ini kalian harus memilih satu orang orang untuk diajak berduel. Jangan menahan diri, gunakan kekuatan Grimoire kalian dan tunjukkan kalau kalian pantas menjadi ksatria sihir!" Ucapnya.

Melihat tingkah komandan itu membuat Yudi teringat dengan pengembara yang telah melatihnya selama enam bulan. Meskipun diakhir dia menjadi cukup pendiam.

"Aku merasa seolah Master menyuruhku mengeluarkan semua potensi yang kumiliki. Kalau sudah begini, aku tidak akan menahan diri." Gumam Yudi.

"Kau yang di sana!" Seru seorang wanita.

Yudi menengok ke sumber suara dan wajahnya mendapatkan sebuah sapu tangan. Itu tidak membuat Yudi terkejut, malahan dia cukup senang karena tidak perlu repot-repot mencari rekan berduel.

"Aku menantangmu berduel!" Ucapnya lantang.

Menanggapi itu, Yudi mengambil sarung tangan yang dia lemparkan. Meskipun dia tinggal di pinggiran kerajaan Clover, namun dia tahu sedikit tata Krama dalam tantangan duel milik bangsawan.

"Baiklah, aku terima. Tapi, hukuman apa yang akan di dapat bagi pihak yang kalah dan apa yang di dapat bagi pihak yang menang." Balas Yudi.

"Hoho, tidak kusangka anak kampung tahu tentang etika tantangan para bangsawan. Baiklah, bagi yang kalah akan menjadi bawahan yang menang seumur hidup!" Ucapnya.

"Bukankah itu berlebihan?" Jawab Yudi.

"Ara~ kau takut?" Ejeknya.

"Bukan begitu, menurutku itu syarat yang cukup aneh?" Balas Yudi mencoba meyakinkan agar gadis itu mengubah syaratnya.

"Cari alasan aja, bilang saja kalau kau takut. Dasar pengecut!" Ucap gadis itu sambil menghina Yudi.

"Terserah kau sajalah, Aku Yudi menerima tantangan darimu beserta syarat yang kau ajukan, Nona!" Ucap Yudi menjelaskan untuk membiarkan gadis yang menantangnya menyebutkan namanya.

"Aku Raynare dari keluarga bangsawan Amano, kuharap kau tidak lari setelah kalah dariku." Ucapnya dengan nada bangga.

"Akan kutunjukkan hasil latihanku dan menjadi ksatria sihir." Batin Yudi 

Selasa, 02 Juli 2024

Gagak Ireng chapter 6

Siang itu dia langsung pergi ke sebuah konter HP dan membeli satu Smartphone baru. Model yang dia beli adalah tipe Handphone yang memiliki RAM 4gb dan penyimpanan 128 GB.

Setelah mendapat kartu yang sudah di daftarkan oleh pemilik Konter. Adi langsung mendownload Aplikasi pengirim pesan yang lazim digunakan orang-orang.

Setelah mengunduhnya, Adi lalu memasukkan nomor yang di berikan oleh Monica tadi pagi. Nampak foto profil dari gadis itu, dia sedang berpose memegang stick drum, matanya melakukan wink dan tersenyum nakal sambil menjulurkan sedikit lidahnya.

"Kenapa dia melakukan pose seperti itu. Tapi, bukan urusanku juga mengaturnya. Kalau dilihat-lihat, dia manis juga."

Adi tidak langsung memberi pesan pada Monica. Dia sengaja akan memberikan pesan besok, karena sudah mengatakan pada Monica kalau dia akan mengabarkan besok.

Ada sesuatu yang dia akan lakukan dengan smartphone barunya itu. Dia melakukan hal sama seperti tadi pagi, menulis serangakian kode di google chrome lalu menyalin url LouTube yang memposting video aksinya semalam.

Mengambil IMEInya dan mempaste di Google Map! Kini di layar smartphone miliknya. Titik merah itu sedang ada di sebuah gedung universitas ini.

"Scripts yang kutemukan saat dilokasi korban terakhir begitu berguna. Tidak kusangka serangkaian digit itu,  memiliki kemampuan seperti ini."

Apa yang di gunakan oleh Adi adalah sebuah Script, dia mendapatkannya dari lokasi terakhir saat menjalankan tugas dari Pengkor.

Awalnya dia tidak mengerti, bagaimana cara kerja serangkaian kode digit itu. Tapi setelah diajari oleh seorang Pemuda yang cukup terampil, dia akhirnya mengerti cara menggunakannya.

Adi menggunakan teknik hipnotis pada pemuda itu, agar melupakan semua perjumpaan dan apa yang dilakukan bersamanya.

Menurut pemuda itu, Script yang dipegang Adi memiliki kemampuan untuk meretas jaringan apapun tanpa ada yang bisa melacaknya.

Kemampuan Script ini, mirip seperti pesawat siluman namun lebih canggih. Dia bukan hanya bisa mengintai tanpa diketahui siapapun, tapi dapat mengambil informasi berharga tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

Bahkan anak itu akan membayar berapapun, asal diijinkan untuk menyalinnya. Saat Adi sudah memahami semuanya, dia langsung menghipnotis dan membuat anak itu hilang ingatan tentangnya.

Adi memberikan beberapa uang sebagai tanda terima kasih. Setelah itu, dia tidak pernah menemui lagi pemuda tersebut.

"Semoga kau bisa belajar sesuatu ketika kutemui nanti malam!"

***

"Kubilang juga apa? Video yang diupload semalam bakalan Viral!" ucap pemuda yang diintai Adi.

"Iya, sekarang akun Loetube Lo udah banyak yang subscribe dan viewer. Harus makasih lo sama pria bertudung itu, bro!" respon temannya yang mengenakan jaket hijau. Dalemannya dia gunakan T-shirt putih dan mengenakan jeans hitam dengan sepatu warna biru.

"Pokoknya, jangan lupa traktirannya. Bentar lagi kan akun Lo bakal bisa di Monetize ama Google." sembur kawan satunya. Dia mengenakan T-shirt merah dengan celana jeans hijau gelap. Dia mengenakan sepatuh warna hitam.

"Tenang aja, pokoknya semua beres!" Sumbar orang yang memiliki akun Loetube dan mengunggah aksi Adi itu.

"Putra Kusuma, jurusan teknologi dan memiliki hobi meng-upload sesuatu di Loetube!"

Suara tiba-tiba itu jelas membuat si pemilik nama yang ternyata pengunggah video Adi tersebut kaget. Karena sosoknya tidak muncul.

"Siapa Loe? Tunjukkin diri lor kalau berani!"

"Iya, gak usah main Sumput-sumputan segala. Dah kayak bocah aja!"

"Bener tuh, tongolin mukal Lo!"

Mendengar ejekan itu membuat Adi terkekeh, tidak menyangka itu respon yang diberikan oleh tiga sekawan tersebut. Lalu dia muncul dari sudut yang tidak disangka oleh ketiganya.

"Begitukah sikapmu terhadap orang yang membuatmu mendapatkan pujian dan keuntungan?" ucap Adi pada mereka.

Wajah ketiga orang itu pucat pasi, saat menyadari kalau yang mereka olok-olokan adalah sosok dalam video itu. Terutama Putra Kusuma yang merupakan perekam dan pengunggah aksi Adi kemarin malam.

'Pria bertudung! Aku minta maaf karena berkata seperti tadi!" ucap Putra kusuma

"Kumohon maafkan kami!" Sambung kedua temannya meminta maaf.

Adi tidak merespon permintaan maaf mereka, membuat ketiga orang itu makin berpikir macam-macam.

"Aku han-"

"Ah- aku mengerti! Video itu akan segera kuhapus. Kuuplad itu sengaja untuk menarik view dan subscribe, aku hanya ingin terkenal di Loetube!"

Adi membisu ketika Putra Kusuma mengutarakan alasannya meng-upload aksinya kemarin. Lalu dia pun memberi jawaban.

"Apa saat meng-upload, kau tidak memikirkan perasaanku?"

Putra Kusuma terdiam, dia jelas tidak memikirkan hal itu. Bahkan dia langsung meng-upload video tersebut begitu saja setelah dia merekamnya.

"Dia memang tidak memikirkan perasaan dirimu. Tapi dia membuat dirimu terkenal, bukankah ini semacam simbiosis mutualisme?" ucap teman Putra mencoba membela.

"Oh begitu, bagaimana jika aku tidak ingin terkenal?" Tanya Adi

"Itu bodoh sekali, dijaman sekarang gak mungkin ada orang semacam itu?" ucap teman putra lainnya.

Sebuah pukulan di leher membuat pemuda itu tergeletak tidak berdaya. Putra dan temannya, langsung  panik begitu melihat bagaimana cepatnya pria bertudung itu bergerak.

"Orang bodoh itu adalah aku, apa kalian ada yang keberatan?" jawab Adi dengan intimidasi menatap yang tersisa.

"Kau sungguh punya gerakan yang hebat, aku janji tidak akan meng-upload tanpa izin. Tapi izinkan aku agar terus merekam aksimu dan mengunggahnya di Loetube." Jawab Putra sambil menunduk di lantai.

Adi terdiam mendengar jawaban Putra Kusuma barusan. Tidak dia duga kalau akan bertemu sosok bodoh seperti pemuda di depannya ini.

'Tadi sianag, Makan apa nih anak?' batin Adi kesal.


Rabu, 26 Juni 2024

Cerita Lucu pendek

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh pegunungan hijau, tinggalah seorang ninja muda yang bernama Naruto Uzumaki. Naruto dikenal sebagai ninja yang penuh semangat dan keceriaan, namun kali ini dia menemui masalah yang cukup unik.
 
Suatu pagi, Naruto bangun dengan perasaan aneh di perutnya. Dia merasa lapar seperti belum pernah sebelumnya dan memutuskan untuk mencari makanan di dapur. Namun, setelah membuka lemari es, Naruto terkejut melihat bahwa semua stok ramen kesayangannya telah habis! Tanpa ragu, Naruto pun memutuskan untuk pergi ke pasar untuk membeli ramen baru.
 
Namun, di pasar, Naruto malah bertemu dengan seorang penjual ramen yang sangat cerewet. Penjual ramen itu terus-terusan melemparkan lelucon konyol dan membuat Naruto tertawa terbahak-bahak. Naruto yang terlalu asyik tertawa, lupa bahwa dia sebenarnya datang ke pasar untuk membeli ramen.
 
Setelah beberapa jam tertawa tanpa henti, Naruto akhirnya sadar bahwa dia belum membeli ramen. Dengan cepat, Naruto berlari pulang ke rumah sambil tertawa sendiri mengingat lelucon konyol penjual ramen tadi. Begitu sampai di rumah, Naruto langsung memasak ramen dengan penuh semangat dan segera melahapnya dengan lahap.
 
Dari kejadian lucu ini, Naruto belajar bahwa terkadang, dalam situasi yang sulit sekalipun, tertawa dan keceriaan adalah kunci untuk mengatasi masalah. Dan sejak saat itu, Naruto selalu ingat bahwa di balik setiap masalah, selalu ada ruang untuk tertawa dan bersenang-senang.

Selasa, 13 Desember 2022

Gagak Ireng chapter 5

"Menurutmu, apa kamu percaya kalau video ini nyata dan bukan cast film?" tanya Monica tiba-tiba.

Mendengar kalau aksinya semalam disangka rekaan. Adi bukannya kesal malah ikut menambahkan.

"Kurasa itu hanya kerjaan orang iseng, yang ingin terkenal seperti beberapa jagoan yang sudah viral." jawab Adi.

Kali ini Monica merasa respon Adi cukup masuk akal. Tapi dia juga meragukan kalau itu hanyalah Casting atau keisengan.

"Tapi untuk ukuran sebuah pemeran film atau keisengan, pria bertudung itu melakukan gerakannya sempurna sekali. Seolah dia telah dilatih sedemikian rupa, aku  coba memutar ulang video beberapa kali untuk melihat kalau itu editan tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang menyakinkan diriku kalau itu adalah hasil editan." balas Monica.

Adi kini mengerti kenapa tadi Monica tampak memaju mundurkan video tersebut. Rupanya dia mencoba mencari kesalahan dalam video itu, pikirnya.

"Bagi seorang ahli untuk membuat sedemikian rupa, hao itu sangatlah mudah. Hn, kalau diizinkan boleh pinjam Smartphonemu beberapa menit?" ucap Adi.

"Oh ini, silahkan pakai!"

Adi lalu mengklik Google chrome, mengetik serangkaian kode yang tidak diketahui Monica. Lalu tampilan layar smartphone berubah, Adi kemudian menyalin Link LouTube yang mengunggah video tentang dirinya.

Setelah beberapa saat hasilnya muncul. Terdapat waktu saat pengunggah video menampilkannya di Loetube. Lalu terlihat juga email akun yang mengunggah.

Adi mengklik emali tersebut dan muncullah layar kecil berisi notifikasi. Jarinya kemudian mengklik kata IMEI dan keluar dari Google chrome.

Pindah ke Google map dan mempaste nomor IMEI ke kolom pencarian. Lalu peta dari kampus muncul dan terdapat sebuah titik merah beberapa puluh meter dari keduanya.

Adi menatap arah dimana titik merah itu berasal. Di sana terdapat beberapa anak muda yang berkumpul sedang membahas sesuatu.

Sebelum mengembalikan pada Monica, Adi mensetting ulang semuanya. Setelah selesai, dia mengembalikannya pada Monica.

"Ini aku sudah selesai, terima kasih ya!"

"Iya, sama-sama!"

"Kamu gak ada jam?"

"Yah! Hari ini dosen yang mengajar sedang ada halangan, jadinya pelajaran ditunda. Tapi dia sempat memberitahu melalui Email untuk tugas Minggu depan."

Adi mengangguk saat mendengar penjelasan Monica, untuk menjawab pertanyaan darinya.

"Begitu, oh iya! Dimana dua orang temanmu itu?"

"Oh mereka sedang ada jam! Mungkin akan segera muncul. Katanya hari ini mereka cuman satu mata kuliah." jawab Monica.

Setelah mendengar penjelasan itu, Adi ingin beranjak dari situ. Namun Monica malah menggumam sesuatu.

"Ah, tidak disangka penjahat itu sudah di tangani. Tapi kenapa dia malah membebaskannya, ya?"

Langkah Adi terhenti saat mendengar gumaman Monica itu. Timbul sebuah pertanyaan di kepalanya dan dilontarkan pada Monica.

"Jadi menurut dirimu, apa yang dilakukan oleh Pria bertudung itu salah?" tanya Adi.

"Ah kau mendengar ya. Aku hanya membual tidak karuan."

"Tidak mengapa, jika kau gak mau menjelaskannya."

Mendengar Adi menjawab seperti itu. Membuat Monica tidak enak hati, jika tidak dijelaskan apa maksud gumamannya barusan.

"Bukan begitu Loh, aku tidak menyangka kalau pendengaranmu sangat tajam." Respon Monica

Adi memicing saat mendengar ucapan Monica, "kenapa kesannya aku seperti orang yang ahli menguping ya." Balas Adi sambil bersedekap.

Alis Monica mengedut saat Adi mengatakannya sambil bersikap begitu, dia juga terkejut dengan kesimpulan yang diucapkan pemuda itu.

"Bu-bukan begitu juga, sudahlah! Yang kumaksud itu, untuk apa pria bertudung mengalahkannya kalau ujung-ujungnya malah dibebaskan."

Adi mencerna apa yang diucapkan oleh Monica. Akalnya membenarkan ucapan Monica, tindakannya itu seperti seorang yang menjebak kelinci untuk makan. Tapi saat sudah dapat kelinci itu di lepaskan.

Namun hatinya merasa tidak nyaman, karena pemuda yang dia hadapi semalam. Itu sama-sama berasal dari organisasi yang mendidiknya.

"Lalu tindakan apa yang kau ambil, bila berada di situasi tersebut?" tanya Adi penasaran.

"Tentu saja, aku akan meringkus orang tersebut. Lalu menyerahkannya pada pihak berwajib, seperti yang dilakukan oleh Virgo. Kau tahu kan?"

Lagi-lagi jawaban Monica masuk akal menurut pikirannya, tapi batinnya menyangkal kalau keputusan itu yang dia ambil. Maka dia seperti berlagak menjadi pahlawan.

'Tujuanku bukan untuk menjadi pahlawan atau sebagainya. Aku hanya ingin bisa menikmati kehidupan normal.' batin Adi.

"Kau memiliki hati yang murni Monica, aku iri dengan dirimu. Terima kasih, telah meminjamkan Smartphonenya." ucapnya sambil membalikan badan untuk beranjak.

"Oh, sama-sama! Kau sudah mau bekerja ya!"

"Iya, lain kali kalau aku butuh sesuatu. Boleh minta tolong lagi, kan?" tanya Adi ragu.

"Hahaha! Kau jangan pernah sungkan, jika ada sesuatu yang kau perlukan kabari saja! Ini nomorku!" ucap Monica seraya menyerahkan nomor ponselnya.

Wajah Adi tampak rumit, sedangkan Monica baru menyadarinya. Segera dia tersenyum kaku.

"Aah! Aku lupa kalau kau belum punya Smartphone, maaf bukan maksudku untuk mengejek! Kalau begitu, nanti kalau kau sudah-"

Ucapan Monica terhenti, saat Adi dengan lembut mengambil kertas yang hendak dimasukan ke dalam tasnya.

"Aku ambil, besok aku akan membelinya. Tidak apa-apa kan?" ucap Adi seraya menatap Monica ditambah sebuah senyum simpul.

Monica tersipu, saat Adi mengatakan itu dan memberinya senyum. Tidak dia duga kalau petugas kebersihan ini bisa bersikap seperti itu.

"Bo-boleh kok! Kalau kau sudah punya smartphone nanti, hubungi saja nomor yang baru kuberikan."

"Beres, oke aku lanjut kerja dulu ya!" ucapnya sambil melenggang pergi.

"Iya, hati-hati!" jawab Monica.

Tanpa disadari Monica, Adi memberikan tatapan pada pemuda yang masih berkumpul sedang berdiskusi itu.

Mereka tampak serius membahas sesuatu. Yang paling bersemangat adalah pria dengan T-shirt abu-abu dengan celana jeans biru gelap. Dia mengenakan sepatu merek Adodus warna putih.

"Sepertinya, malam ini aku harus keluar dengan kostum itu lagi!"

Rabu, 30 November 2022

Gagak Ireng chapter 4

Satu dari arah kanan melaju dengan tangan kanan terkepal, berusaha memberikan pukulan pembuka. Namun Adi Surya mengelak dan memberikan pukulan di dadanya.

Membuat penyerang pertama terdorong ke belakang, dari arah depan sosok pimpinan mulai lancarkan serangan.

Tiga, empat pukulan dia lakukan untuk membalas rekannya. Namun, dengan lihai Adi Surya dapat menangani serangannya.

Dari belakang sebuah siulan berbunyi, saat Adi Surya fokus menghadapi musuh di depannya. Karena refleks yang terlatih, dia tundukan kepala.

Serangan itu melewati dirinya dan  tinju itu berbenturan dengan milik sang pimpinan. Mereka memegangi kepalan masing-masing karena beradu jotosan.

Isnting Adi Surya menajam saat merasakan hawa bahaya dari arah belakang. Cepat-cepat dia geserkan tubuh, benar saja sebuah terjangan nyaris mendarat di punggungnya.

Adi lalu menendang kaki itu, membuat sang empunya terjungkal. Lalu penyerang pertama mencoba menyerang dari belakang.

Namun Adi lebih dulu mengantisipasi, memukul dadanya dengan sikut. Membuatnya jatuh terkapar.

Dua tinju dari kanan dan kiri menyerbu. Adi menangkap dan mengunci dengan menggenggam kuat.

"Kerja sama kalian bagus, hanya butuh pengkondisian dan waktu yang tepat. Jika lawannya amatiran pasti kewalahan, tapi sayang lawan kalian adalah aku."

"Lain kali datanglah dengan lebih banyak orang, maka kalian pasti bisa menangkapku. Lalu bisa sebutkan namamu?"

Jelas Adi sambil memelintir tangan pemimpin dari grup kecil ini. Sang empunya tangan mengaduh menahan sakit saat tangannya di pelintir.

"Ra-Raka! Namaku Raka!"

"Raka, ya! Siapa yang merekrutmu dalam organisasi?"

"Aku direkrut oleh nona Carmine, setelah itu aku dilatih oleh sosok yang dikenal sang penempa."

Adi mengingat-ingat, sosok sang penempa termasuk dalam sepuluh anak pilihan Ayah. Tapi tentang sosok yang dipanggil Carmine ini, dia sama sekali tidak tahu apapun tentang wanita itu.

"Katakan! Siapa Carmine ini?"

"Bukankah kau menggigit terlalu banyak, apa untungnya informasi ini Jika kau tidak ingin kembali ke organisasi hah!"

Tangan Raka diputar dan berbunyi kretek, beberapa anggota lengannya terasa mengilu saat Adi memelintirnya agak kuat.

"Jawab saja!"

"Baik-baik, akan kujawab! Dia orang baru, kudengar dia mengganti posisi yang hilang dari 10 Anak ayah, karena kekacauan yang dibuat oleh Gundala. Apa itu cukup, sekarang lepaskan aku!"

Adi merasa informasi ini sudah lebih dari cukup, jadi dia melepaskan genggamannya pada Raka dan rekannya.

"Enyahlah, sebelum aku berubah pikiran!"

"Baik!"

Raka dan teman-temannya pergi dari tempat itu. Ditengah kegelapan bayangan mereka menghilang tanpa jejak. Itu adalah kemampuan dasar yang harus dikuasai.

"Hn, sepertinya struktur organisasi mengalami perubahan, karena serangan Gundala enam bulan lalu. Lalu Ayah mencoba membangun kembali kekuatannya, untuk memulai kembali rencana miliknya. Tapi kenapa dia repot-repot mencariku yang sudah menghilang lebih dari setengah tahun."

Adi jelas belum mengetahui tujuan Ayahnya, mencari dirinya untuk bergabung kembali. Tapi dia cukup yakin akan satu hal.

"Jika aku kembali, maka kemungkinan tanganku akan dibuat lebih bernoda lagi oleh darah. Aku tidak ingin itu terjadi! Sebaiknya aku pergi dari sini sebelum ada yang curiga."

Adi dengan cepat melenggang dari tempatnya, tanpa menyadari ada sesuatu yang akan mengejutkan dirinya nanti.


***


Kumpulan sampah itu sudah dijadikan satu. Lalu serokan dia ambil untuk mengumpulkannya, setelah itu tempat sampah adalah tujuan akhir sampah-sampah itu.


"Gila! Keren banget gerakannya."


"Sumpah! ini orang pasti ahli beladiri, liat aja deh. Dia gak pernah melakukan gerakan sia-sia. "


"Masak iya ini bukan casting sih, soalnya gerakan pria bertudung itu lihai banget."


"Memamg pantas sih ini kalo viral!"


Komentar seperti itu yang dia dengar, dari beberapa mahasiswa saat melewati dirinya. Tentu dengan smartphone tergenggam.


Kemajuan teknologi memang mempermudah semua hal, banyak sisi positif dari kemajuan ini. Namun hal itu juga bisa jadi bumerang, jika tidak diimbangi dengan etika yang baik dalam menggunakannya.


Jika hal itu terulang sekali dua kali, tentu tidak membuat Adi penasaran. Tapi hampir seluruh mahasiswa, membahas tentang sosok bertudung yang beraksi tadi malam dan sedang viral.


Hati kecil Adi kembali tergelitik untuk mengetahui, apa yang dibicarakan oleh para mahasiswa itu. Lalu dia melihat seorang gadis dari salah satu yang dia temui kemarin, sedang duduk di sebuah bangku taman.


"Sebaiknya, aku tanya pada dia saja. Kalau tidak salah namanya Monica."


Gadis berambut sebahu itu sedang serius menatap layar smartphone miliknya. Sesekali tangannya memaju mundurkan video yang dia tonton, untuk melihat dengan detail isi video itu.


"Permisi!"


Seketika gadis bernama Monica itu tersentak, karena tiba-tiba Adi menegur saat dia sedang fokus menonton video yang viral dalam semalam itu.


"Oh Mas Adi, kirain siapa! Ada apa, Mas?"


"Gak perlu make Mas segala, kita ini hampir seumuran. Panggil aja Adi, saya gak terlalu suka dengan formalitas. Nama kamu kalau gak salah, Monica kan?"


"Iya bener, jadi Adi ada perlu apa sama saya?"


Yang di tanya malah celingak-celinguk dan garuk kepala, saat mendapat pertanyaan seperti itu. Monica jelas tambah penasaran melihat tingkah Adi itu.


"Kenapa tingkah kamu jadi begitu, Adi?"


"Gimana ngomongnya ya. Monica, kamu tahu gak apa yang sedang dibicarwkan oleh para mahasiswa Hari ini."


Monica kini manggut-manggut saat mendengar pertanyaan itu. Wajar sih seseorang untuk penasaran dengan apa yang telah terjadi di dunia Maya. Tapi Monica penasaran dengan satu hal.

"Sebelumnya maaf, apa Adi punya smartphone?"

Adi menggeleng mendengar pertanyaan itu.

'Pantes aja, dia gak tahu'

Lalu Monica segera memberitahu pada Adi, apa yang menjadi buah bibir orang-orang di universitas.

"Mereka sedang meributkan pengunggah video ini!" ucap Monica sambil memberikan rekaman yang diunggah dalam Channel Loetube.

Saat melihat apa yang ditunjukan oleh Monica bola mata Adi memicing. Itu karena rekaman tersebut adalah kejadian saat dia meringkus Raka tadi malam.

'Ada seseorang yang merekam dan mengunggah aksiku semalam.' batinnya kesal.

Rabu, 01 Juni 2022

Menjadi seorang Penguasa

 Ditengah alun-alun desa semua orang diperintahkan untuk berkumpul. Gagasan itu dilayangkan oleh orang yang menjadi Baron di tempat tersebut.


Seluruh Knight juga sudah ada di situ untuk menyaksikan momen penting tersebut. Itu karena sesuatu yang tidak biasa terjadi di wilayah ini.


Desa Rockhill merupakan tempat tandus dengan sumber daya alam yang minim. Tidak ada yang istimewa di tempat ini, hanya bangsawan paling bodoh yang mau mengambil tempat berkuasa di sini.


Dan itu adalah Baron yang berkuasa sampai sekarang, karena mereka ingin dapat menikmati hidup melalui tunjangan kerajaan.


Belum lagi beberapa ratus meter dari sini terdapat area berbahaya, itu adalah [Abbys Land] sebuah teritorial yang diduduki oleh bangsa Iblis yang muncul 10 tahun yang lalu.


Namun dalam satu dekade ini jarang terjadi bentrok antara iblis dan pihak aliansi. Jika itu terjadi maka Desa Rockhill akan menjadi desa pertama dari wilayah Marquess Ereiven yang akan bentrok dengan mereka.


Tapi bukannya meningkatkan kualitas hidup atau membangun basis militer di daerah ini. Mereka malah sengaja membiarkan tempat ini miskin.


Ditambah Baron yang memerintah di sini adalah orang tidak kompeten yang hanya ingin hidup nyaman tanpa mempedulikan penduduk.

Namun semua itu akan berubah, saat acara yang diumumkan ini selesai. Itu karena seorang pedagang dari Ras Blood Elf dari negeri asing datang ke daerah kumuh ini.


Ketika mereka berkumpul kenyataan pahit yang diterima. Baron Lucius ke 7 yang merupakan keturunan terakhir dari garis silsilah Tuan tanah desa ini.


Sudah menjual kebangsawanannya dengan beberapa puluh peti emas. Dengan kata lain, desa ini sudah dialih tangan pada pembelinya.


Mereka khawatir dan cemas dengan keadaan yang terjadi, sebab biasanya orang yang membeli status kebangsawanan akan bertindak semena-mena dan mengabaikan rakyatnya.


Dengan wajah penuh kesenangan Baron Lucius ke 7 menjabat tangan sang pembeli tanah, dia begitu gembira sehingga wajahnya sangat menjijikkan untuk dipandang.


"Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Rodriguez! Aku ucapkan selamat karena kau sudah menjadi Baron di tempat ini!" Ucap mantan Baron.


"Sama-sama, aku juga berterima kasih karena kau mau menerima tawaran dariku!" Jawab Rodriguez.


Pemuda bernama Rodriguez itu adalah seorang Blood Elf, makin terhenyaklah hati penduduk saat menyaksikan proses pengalihan kekuasaan pada si pemuda.


Kabar yang mereka terima para Elf memperlakukan manusia layaknya budak dan mengabaikan hukum kesetaraan diantara Ras.


Setelah urusan selesai, Baron yang telah menjual Tanah dan penduduk yang mengabdi pada dirinya segera angkat kaki dengan wajah menghina.


'Setelah sekian lama akhirnya aku bisa bebas dari tempat terkutuk ini. Untungnya pemuda Elf itu begitu baik hati hingga mau membeli desa kering itu dengan harga fantastis.' Batin Baron dalam kereta yang dipersiapkan Rodriguez untuknya.


Kini para penduduk memandang tanah dengan lesu, mereka seakan menunggu nasib buruk yang akan menimpa.


"Mulai sekarang! Aku, Rodriguez Sunstrider resmi menjadi seorang Baron di wilayah ini, siapapun yang mencoba untuk menolak kupersilahkan angkat kaki dari sini!" Ucap Rodriguez lantang.


Para penduduk hanya diam menanggapi ucapan lantang nan tegas dari pemuda Elf itu. Kata-kata yang dilontarkan oleh Rodriguez membuat beberapa penduduk gemetar.


Sedangkan Rodriguez Sunstrider yang mengetahui kenapa penduduk desa ini bersikap seperti itu memaklumi. Karena sebagian kaumnya memang bertindak diluar batas.


Namun tujuan dia mengambil alih kekuasaan ini sebenarnya untuk menyelamatkan mereka juga. Jika dia tidak mendapat kepercayaan dan dukungan, maka kemungkinan rencana yang sudah dia susun akan sulit dilaksanakan.


"Karena tidak ada yang pergi, aku anggap kalian menerimaku sebagai Baron yang baru. Karena itu, aku akan memberikan satu perintah perdana sebagai Baron wilayah ini!"


Para warga harap-harap cemas, namun mereka tidak berani membantah. Karena bila itu mereka lakukan, cambuk akan menjadi hadiah dari Baron Lucius.


Sekarang mereka tidak tahu perintah macam apa yang akan diberikan oleh Baron baru ini?


"Aku memberikan Perintah untuk mengadakan pesta! Malam ini, desa ini akan mengadakan api unggun untuk penyambutan diriku sebagai seorang Baron. Apa kalian mengerti!"


Mendengar hal itu, beberapa orang tertarik. Namun mereka tidak berani mengungkapkan, lalu anak-anak yang begitu antusias saat mendengar pesta segera maju dan berteriak ke arah Baron Rodriguez.


"Apa nanti ada banyak makanan?"


"Apa nanti semua lampu dinyalakan?"


"Apa kota ini akan menjadi hidup di malam hari?"


Ibu dari anak-anak tersebut segera menarik mereka sembari meminta maaf.


"Tolong maafkan kelancangan anak-anak kami!"


"Jika Anda ingin marah, maka hukum saja kami!"


Ucap mereka sembari membungkuk, orang-orang menjadi cemas dengan keadaan itu. Karena biasanya Baron Lucius akan marah dan memukuli anak-anak yang menginterupsinya saat bicara.


Apalagi Rodriguez berjalan ke arah mereka dengan pelan, semua yang melihat harap-harap cemas dengan aoa yang akan terjadi. Namun tanpa di sangka Baron Elf itu menyamakan tinggi tubuhnya di hadapan anak-anak yang tadi mengomel.


"Tentu saja, kota ini akan lebih hidup. Banyak lampu dinyalakan dan banyak pula makanan tersaji. Tidak hanya itu, semua orang akan menari dan musik akan dimainkan! Benarkan semua?" Ucap Rodriguez dengan senyum.


Lagi para penduduk terdiam saat mendengar ucapan Elf itu, mereka pikir dia akan marah dan memukuli anak-anak atau ibu mereka. Namun ternyata ia malah merendahkan dirinya untuk menjawab pertanyaan anak kecil itu dengan bersemangat.


Bahkan saking semangatnya penduduk bisa melihat mata Baron yang baru itu berkilauan seolah tidak sabar ingin mengadakan pesta secepatnya.


"Woah asyik!"


"Malam ini pasti seru!"


Melihat tanggapan anak-anak itu, Rodriguez tersenyum lembut. Para ibu yang melihatnya begitu terharu, karena bisa merasakan kalau Baron mereka yang baru ini memiliki hati yang lembut.


"Tuan, maafkan kami yang bertindak seperti tadi, kami hanya trauma karena selama ini diperlakukan tidak setara oleh Baron Lucius."


"Benar, saya juga minta maaf karena mempunyai pikiran yang bukan-bukan terhadap anda!"


Penyataan serupa terus bermunculan dari mulut para penduduk, dalam hati Rodriguez tersenyum karena rencana miliknya sudah berhasil.


Dia melukiskan senyum lembut dan berkata. "Tidak mengapa, aku juga bisa merasakannya. Karena itu aku ingin mengadakan pesta atas posisiku sebagai Baron yang baru. Tujuan aku membeli tempat ini bukan untuk menyiksa kalian melainkan ingin memajukan dan mengembangkannya. Aku tidak memaksa kalian untuk ikut membantu karena mungkin kalian masih belum menerima, tapi harapanku kalian tidak mengganggu apa yang akan aku lakukan ke depannya! Kalian mengerti!"


"Dimengerti, Tuan!"


"Sillenna Immeril! Persiapkan pestanya!" Perintah Rodriguez pada seorang wanita berambut pirang dengan diikat ponytail. Mata miliknya berwarna biru laut. Dia mengenakan pakaian seorang Maid.


'Padahal aku memintanya untuk memakai pakaian yang lebih baik, dasar keras kepala!' Rutuk Rodriguez melihat penampilan orang terpercayanya.

Kamis, 14 April 2022

Gagak Ireng chapter 3

Pagi itu, Adi menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan untuk kerjaan hari ini. Dia sudah terbiasa melakukan hal ini, karena dua bulan telah berlalu saat dia mulai kerja di sini.

Kemudian dia berangkat untuk menjalankan tugas rutinnya. Membereskan sisa-sisa makanan dari beberapa mahasiswa yang kuliah malam.

Universitas ini juga mengadakan kuliah malam bagi para siswanya, yang kebetulan hanya bisa melakukan itu karena siangnya mereka bekerja.

Lalu Adi melihat beberapa mahasiswa-mahasiswi yang mulai berduyun-duyun masuk dari gang universitas.

Mereka melewati Adi dengan berbagai ekspresi. Ada yang menyapanya, melewatinya saja seakan dirinya sebuah patung dan ada juga yang memberikan senyuman hangat.

"Entah kenapa, aku merasa tidak pantas menerima senyuman itu." Gumam Adi pelan sehingga tidak terdengar oleh siapapun kecuali dirinya.

Pekerjaan dirinya yang suka merenggut nyawa dari Ayah, Ibu, kakak, atau bahkan adik dari seseorang yang mungkin dari mereka.

Membuat Adi Surya tidak merasa pantas untuk menerima senyuman itu.  Masa lalu dirinya yang begitu kelam selalu menghantui, ketika dirinya berpikir untuk bisa hidup normal seperti orang biasa.

Lalu tiga orang mahasiswi berjalan di depannya sambil berdiskusi.

"Aku yakin Penjahat kali ini terlatih, masa dia menggunakan kertas kosong saat meninggalkan korbannya. Juga ada beberapa simbol aneh ditemukan pada tubuh orang yang ditangkapnya." Ucap wanita berambut kuning-putih panjang dia mengenakan jaket kulit hitam dengan t-shirt putih. Lalu bawahannya adalah celana jeans biru dan sepatunya merupakan tipe hak rendah berwana cokelat.

"Aku juga penasaran Sy, menurut kamu gimana Riani?" tanya wanita berambut pendek dark blue. Dia mengenakan jaket lengan sebatas sikut berwarna kuning, adapun penutup kepalanya dia gantungkan ke belakang. Untuk bawahan, dia mengenakan jeans hitam dengan sepatu sport.

"Aku juga gak tau harus gimana memikirkannya, Monica! Ussy! Dia juga sangat lihai dalam bersembunyi. Dia seperti Ninja di dunia nyata." Respon wanita berambut panjang coklat-orange, dia mengenakan blush garis horizontal merah-putih. Bawahannya dia mengenakan rok dibawah lutut berwarna pink, kakinya beralaskan sendal bermerk.

"Pokoknya, kita harus menangkap penjahat ini. Tapi dia sering muncul di tempat tidak terduga."

Ucap Ussy yang menuntun mereka semakin menjauh dari Adi. Mendengar pembicaraan mereka, Adi merasa gelisah karena perbuatan penjahat itu seperti tidak asing baginya.

Segera dia mendekati ketiga gadis itu, lalu memberikan pertanyaan.

"Maaf jika saya tidak sopan, tapi bisa kalian jelaskan dimana terakhir kali menemui penjahat ini."

"Kami menemui penjahat ini di sebuah  jembatan besar di pinggir-"

"Oi Monic! Jangan sembarangan kasih tahu orang lain!"

Adi Surya yang memang kenal kota ini, sudah menemukan lokasi yang dia inginkan. Sebagai mantan pembunuh, pengetahuan tentang letak wilayah kota ini merupakan hal yang harus dipahami diluar kepala.

"Maaf Mas Adi, teman kami hanya asal bicara! Tolong lupakan saja!"

Ussy membekap mulut Monica yang hampir menjelaskan dimana mereka menemui penjahat itu. Namun tanpa di duga oleh mereka, tanggapan Adi membuat mereka heran.

"Ah tidak apa-apa, saya pikir itu beneran. Kalau begitu, saya permisi dulu ya. Semoga hari kalian menyenangkan!"

Adi menanggapi seperti itu dan melenggang sambil melambaikan tangannya. Monica memberi isyarat pada Ussy untuk melepaskan bekapannya.

"Huaa apa-apaan kau ini Ussy, aku hampir mati karena kehabisan napas."

"Monic, lain kali jangan asal sembarangan memberitahu orang lain. Ingat, pekerjaan kita itu rahasia sama seperti identitas kita sebagai Girlband Virgo." Jelas Ussy sambil berkacak pinggang.

"Iya, Sy! Lain kali aku akan hati-hati dengan ucapanku! Janji deh!" Jawab Monica seraya memberikan tanda pis sebagai permintaan maaf.

"Duh! Yaudah deh, kali ini aja. Lain kali kalau mulutmu tidak bisa dijaga, akan aku jahit sekalian." Respon Ussy sambil menyeringai, tentu yang menerima ancaman merinding seluruh bulu kuduknya.

"Nggak Ussy! Aku beneran gak akan mengulanginya lagi, beneran sumpah!"

Sementara dua temannya sedang bertukar kata, Riani nampak lekat melihat punggung Adi Surya. Dia merasa aneh dengan tanggapan yang diberikan petugas kebersihan itu, saat menerima alasan Ussy untuk menutupi ucapan Monica.

"Kalian merasakan sesuatu yang aneh gak, ketika mas Adi itu menjawab pernyataan Ussy. Kok dia bersikap seolah udah mengetahui sesuatu ya."

"Yaelah Riani! Yang begituan aja dianggap seriusan, aku yakin mas Adi itu udah percaya dengan ucapanku. Lagipula, apa artinya bagi dia mengetahui lokasi dari penjahat itu?" ujar Ussy.

"Aku sependapat, meskipun mulut ini hampir kelepasan. Ga mungkin juga kan, kalau tiba-tiba mas Adi muncul lalu menggerebek penjahat itu." tambah Monica.

Mendapat respon seperti itu, Riani langsung membuang semua kegundahan hatinya. Dia menggeleng lalu menjawab.

"Kalian benar, sepertinya aku memang ke bawa suasana karena membiarkan penjahat itu kabur. Btw malam ini kita dapat pemberitahuan dari pak Ganendra untuk latihan perdana?"

Ah benar, tadi pak Ganendra juga memberi pesan. Setelah memenangkan ajang Loetube Talent itu, dia bakal melatih kita secara rutin." respon Ussy. 

Begitulah, mereka bertiga dengan cepat mengubah topik pembicaraan. Menghilangkan kesan aneh Adi Surya yang menanyakan lokasi si penjahat berada.

Sementara Adi Surya sedang menyusun rencana untuk mengungkap. Siapa orang yang suka menangkap dan meninggalkan surat kosong itu.

"Semoga saja, aku menemukan dirinya lebih awal dari sosok Virgo."

Adi Surya sudah tahu tentang sosok itu, wanita berkostum yang memiliki kekuatan misterius. Dia suka membela kebenaran dan keadilan, bahkan sedang hangat dibicarakan masyarakat.

Lalu alasan dia khawatir, karena dia tidak ingin seseorang mengacaukan dirinya untuk meringkus penjahat itu. Bukan berarti dia ingin menjadi pahlawan seperti Virgo.

"Aku hanya ingin tahu, kenapa orang itu menggunakan cara sama yang sering aku gunakan." gumamnya pelan

Selasa, 30 November 2021

Gagak Ireng chapter 2

Pagi itu, Adi menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan untuk kerjaan hari ini. Dia sudah terbiasa melakukan hal ini, karena dua bulan telah berlalu saat dia mulai kerja di sini.

Kemudian dia berangkat untuk menjalankan tugas rutinnya. Membereskan sisa-sisa makanan dari beberapa mahasiswa yang kuliah malam.

Universitas ini juga mengadakan kuliah malam bagi para siswanya, yang kebetulan hanya bisa melakukan itu karena siangnya mereka bekerja.

Lalu Adi melihat beberapa mahasiswa-mahasiswi yang mulai berduyun-duyun masuk dari gang universitas.

Mereka melewati Adi dengan berbagai ekspresi. Ada yang menyapanya, melewatinya saja seakan dirinya sebuah patung dan ada juga yang memberikan senyuman hangat.

"Entah kenapa, aku merasa tidak pantas menerima senyuman itu." Gumam Adi pelan sehingga tidak terdengar oleh siapapun kecuali dirinya.

Pekerjaan dirinya yang suka merenggut nyawa dari Ayah, Ibu, kakak, atau bahkan adik dari seseorang yang mungkin dari mereka.

Membuat Adi Surya tidak merasa pantas untuk menerima senyuman itu.  Masa lalu dirinya yang begitu kelam selalu menghantui, ketika dirinya berpikir untuk bisa hidup normal seperti orang biasa.

Lalu tiga orang mahasiswi berjalan di depannya sambil berdiskusi.

"Aku yakin Penjahat kali ini terlatih, masa dia menggunakan kertas kosong saat meninggalkan korbannya. Juga ada beberapa simbol aneh ditemukan pada tubuh orang yang ditangkapnya." Ucap wanita berambut kuning-putih panjang dia mengenakan jaket kulit hitam dengan t-shirt putih. Lalu bawahannya adalah celana jeans biru dan sepatunya merupakan tipe hak rendah berwana cokelat.

"Aku juga penasaran Sy, menurut kamu gimana Riani?" tanya wanita berambut pendek dark blue. Dia mengenakan jaket lengan sebatas sikut berwarna kuning, adapun penutup kepalanya dia gantungkan ke belakang. Untuk bawahan, dia mengenakan jeans hitam dengan sepatu sport.

"Aku juga gak tau harus gimana memikirkannya, Monica! Ussy! Dia juga sangat lihai dalam bersembunyi. Dia seperti Ninja di dunia nyata." Respon wanita berambut panjang coklat-orange, dia mengenakan blush garis horizontal merah-putih. Bawahannya dia mengenakan rok dibawah lutut berwarna pink, kakinya beralaskan sendal bermerk.

"Pokoknya, kita harus menangkap penjahat ini. Tapi dia sering muncul di tempat tidak terduga."

Ucap Ussy yang menuntun mereka semakin menjauh dari Adi. Mendengar pembicaraan mereka, Adi merasa gelisah karena perbuatan penjahat itu seperti tidak asing baginya.

Segera dia mendekati ketiga gadis itu, lalu memberikan pertanyaan.

"Maaf jika saya tidak sopan, tapi bisa kalian jelaskan dimana terakhir kali menemui penjahat ini."

"Kami menemui penjahat ini di sebuah  jembatan besar di pinggir-"

"Oi Monic! Jangan sembarangan kasih tahu orang lain!"

Adi Surya yang memang kenal kota ini, sudah menemukan lokasi yang dia inginkan. Sebagai mantan pembunuh, pengetahuan tentang letak wilayah kota ini merupakan hal yang harus dipahami diluar kepala.

"Maaf Mas Adi, teman kami hanya asal bicara! Tolong lupakan saja!"

Ussy membekap mulut Monica yang hampir menjelaskan dimana mereka menemui penjahat itu. Namun tanpa di duga oleh mereka, tanggapan Adi membuat mereka heran.

"Ah tidak apa-apa, saya pikir itu beneran. Kalau begitu, saya permisi dulu ya. Semoga hari kalian menyenangkan!"

Adi menanggapi seperti itu dan melenggang sambil melambaikan tangannya. Monica memberi isyarat pada Ussy untuk melepaskan bekapannya.

"Huaa apa-apaan kau ini Ussy, aku hampir mati karena kehabisan napas."

"Monic, lain kali jangan asal sembarangan memberitahu orang lain. Ingat, pekerjaan kita itu rahasia sama seperti identitas kita sebagai Girlband Virgo." Jelas Ussy sambil berkacak pinggang.

"Iya, Sy! Lain kali aku akan hati-hati dengan ucapanku! Janji deh!" Jawab Monica seraya memberikan tanda pis sebagai permintaan maaf.

"Duh! Yaudah deh, kali ini aja. Lain kali kalau mulutmu tidak bisa dijaga, akan aku jahit sekalian." Respon Ussy sambil menyeringai, tentu yang menerima ancaman merinding seluruh bulu kuduknya.

"Nggak Ussy! Aku beneran gak akan mengulanginya lagi, beneran sumpah!"

Sementara dua temannya sedang bertukar kata, Riani nampak lekat melihat punggung Adi Surya. Dia merasa aneh dengan tanggapan yang diberikan petugas kebersihan itu, saat menerima alasan Ussy untuk menutupi ucapan Monica.

"Kalian merasakan sesuatu yang aneh gak, ketika mas Adi itu menjawab pernyataan Ussy. Kok dia bersikap seolah udah mengetahui sesuatu ya."

"Yaelah Riani! Yang begituan aja dianggap seriusan, aku yakin mas Adi itu udah percaya dengan ucapanku. Lagipula, apa artinya bagi dia mengetahui lokasi dari penjahat itu?" ujar Ussy.

"Aku sependapat, meskipun mulut ini hampir kelepasan. Ga mungkin juga kan, kalau tiba-tiba mas Adi muncul lalu menggerebek penjahat itu." tambah Monica.

Mendapat respon seperti itu, Riani langsung membuang semua kegundahan hatinya. Dia menggeleng lalu menjawab.

"Kalian benar, sepertinya aku memang ke bawa suasana karena membiarkan penjahat itu kabur. Btw malam ini kita dapat pemberitahuan dari pak Ganendra untuk latihan perdana?"

"Ah benar, tadi pak Ganendra juga memberi pesan. Setelah memenangkan ajang Loetube Talent itu, dia bakal melatih kita secara rutin." respon Ussy. 

Begitulah, mereka bertiga dengan cepat mengubah topik pembicaraan. Menghilangkan kesan aneh Adi Surya yang menanyakan lokasi si penjahat berada.

Sementara Adi Surya sedang menyusun rencana untuk mengungkap. Siapa orang yang suka menangkap dan meninggalkan surat kosong itu.

"Semoga saja, aku menemukan dirinya lebih awal dari sosok Virgo."

Adi Surya sudah tahu tentang sosok itu, wanita berkostum yang memiliki kekuatan misterius. Dia suka membela kebenaran dan keadilan, bahkan sedang hangat dibicarakan masyarakat.

Lalu alasan dia khawatir, karena dia tidak ingin seseorang mengacaukan dirinya untuk meringkus penjahat itu. Bukan berarti dia ingin menjadi pahlawan seperti Virgo.

"Aku hanya ingin tahu, kenapa orang itu menggunakan cara sama yang sering aku gunakan." gumamnya pelan