Rabu, 30 November 2022

Gagak Ireng chapter 4

Satu dari arah kanan melaju dengan tangan kanan terkepal, berusaha memberikan pukulan pembuka. Namun Adi Surya mengelak dan memberikan pukulan di dadanya.

Membuat penyerang pertama terdorong ke belakang, dari arah depan sosok pimpinan mulai lancarkan serangan.

Tiga, empat pukulan dia lakukan untuk membalas rekannya. Namun, dengan lihai Adi Surya dapat menangani serangannya.

Dari belakang sebuah siulan berbunyi, saat Adi Surya fokus menghadapi musuh di depannya. Karena refleks yang terlatih, dia tundukan kepala.

Serangan itu melewati dirinya dan  tinju itu berbenturan dengan milik sang pimpinan. Mereka memegangi kepalan masing-masing karena beradu jotosan.

Isnting Adi Surya menajam saat merasakan hawa bahaya dari arah belakang. Cepat-cepat dia geserkan tubuh, benar saja sebuah terjangan nyaris mendarat di punggungnya.

Adi lalu menendang kaki itu, membuat sang empunya terjungkal. Lalu penyerang pertama mencoba menyerang dari belakang.

Namun Adi lebih dulu mengantisipasi, memukul dadanya dengan sikut. Membuatnya jatuh terkapar.

Dua tinju dari kanan dan kiri menyerbu. Adi menangkap dan mengunci dengan menggenggam kuat.

"Kerja sama kalian bagus, hanya butuh pengkondisian dan waktu yang tepat. Jika lawannya amatiran pasti kewalahan, tapi sayang lawan kalian adalah aku."

"Lain kali datanglah dengan lebih banyak orang, maka kalian pasti bisa menangkapku. Lalu bisa sebutkan namamu?"

Jelas Adi sambil memelintir tangan pemimpin dari grup kecil ini. Sang empunya tangan mengaduh menahan sakit saat tangannya di pelintir.

"Ra-Raka! Namaku Raka!"

"Raka, ya! Siapa yang merekrutmu dalam organisasi?"

"Aku direkrut oleh nona Carmine, setelah itu aku dilatih oleh sosok yang dikenal sang penempa."

Adi mengingat-ingat, sosok sang penempa termasuk dalam sepuluh anak pilihan Ayah. Tapi tentang sosok yang dipanggil Carmine ini, dia sama sekali tidak tahu apapun tentang wanita itu.

"Katakan! Siapa Carmine ini?"

"Bukankah kau menggigit terlalu banyak, apa untungnya informasi ini Jika kau tidak ingin kembali ke organisasi hah!"

Tangan Raka diputar dan berbunyi kretek, beberapa anggota lengannya terasa mengilu saat Adi memelintirnya agak kuat.

"Jawab saja!"

"Baik-baik, akan kujawab! Dia orang baru, kudengar dia mengganti posisi yang hilang dari 10 Anak ayah, karena kekacauan yang dibuat oleh Gundala. Apa itu cukup, sekarang lepaskan aku!"

Adi merasa informasi ini sudah lebih dari cukup, jadi dia melepaskan genggamannya pada Raka dan rekannya.

"Enyahlah, sebelum aku berubah pikiran!"

"Baik!"

Raka dan teman-temannya pergi dari tempat itu. Ditengah kegelapan bayangan mereka menghilang tanpa jejak. Itu adalah kemampuan dasar yang harus dikuasai.

"Hn, sepertinya struktur organisasi mengalami perubahan, karena serangan Gundala enam bulan lalu. Lalu Ayah mencoba membangun kembali kekuatannya, untuk memulai kembali rencana miliknya. Tapi kenapa dia repot-repot mencariku yang sudah menghilang lebih dari setengah tahun."

Adi jelas belum mengetahui tujuan Ayahnya, mencari dirinya untuk bergabung kembali. Tapi dia cukup yakin akan satu hal.

"Jika aku kembali, maka kemungkinan tanganku akan dibuat lebih bernoda lagi oleh darah. Aku tidak ingin itu terjadi! Sebaiknya aku pergi dari sini sebelum ada yang curiga."

Adi dengan cepat melenggang dari tempatnya, tanpa menyadari ada sesuatu yang akan mengejutkan dirinya nanti.


***


Kumpulan sampah itu sudah dijadikan satu. Lalu serokan dia ambil untuk mengumpulkannya, setelah itu tempat sampah adalah tujuan akhir sampah-sampah itu.


"Gila! Keren banget gerakannya."


"Sumpah! ini orang pasti ahli beladiri, liat aja deh. Dia gak pernah melakukan gerakan sia-sia. "


"Masak iya ini bukan casting sih, soalnya gerakan pria bertudung itu lihai banget."


"Memamg pantas sih ini kalo viral!"


Komentar seperti itu yang dia dengar, dari beberapa mahasiswa saat melewati dirinya. Tentu dengan smartphone tergenggam.


Kemajuan teknologi memang mempermudah semua hal, banyak sisi positif dari kemajuan ini. Namun hal itu juga bisa jadi bumerang, jika tidak diimbangi dengan etika yang baik dalam menggunakannya.


Jika hal itu terulang sekali dua kali, tentu tidak membuat Adi penasaran. Tapi hampir seluruh mahasiswa, membahas tentang sosok bertudung yang beraksi tadi malam dan sedang viral.


Hati kecil Adi kembali tergelitik untuk mengetahui, apa yang dibicarakan oleh para mahasiswa itu. Lalu dia melihat seorang gadis dari salah satu yang dia temui kemarin, sedang duduk di sebuah bangku taman.


"Sebaiknya, aku tanya pada dia saja. Kalau tidak salah namanya Monica."


Gadis berambut sebahu itu sedang serius menatap layar smartphone miliknya. Sesekali tangannya memaju mundurkan video yang dia tonton, untuk melihat dengan detail isi video itu.


"Permisi!"


Seketika gadis bernama Monica itu tersentak, karena tiba-tiba Adi menegur saat dia sedang fokus menonton video yang viral dalam semalam itu.


"Oh Mas Adi, kirain siapa! Ada apa, Mas?"


"Gak perlu make Mas segala, kita ini hampir seumuran. Panggil aja Adi, saya gak terlalu suka dengan formalitas. Nama kamu kalau gak salah, Monica kan?"


"Iya bener, jadi Adi ada perlu apa sama saya?"


Yang di tanya malah celingak-celinguk dan garuk kepala, saat mendapat pertanyaan seperti itu. Monica jelas tambah penasaran melihat tingkah Adi itu.


"Kenapa tingkah kamu jadi begitu, Adi?"


"Gimana ngomongnya ya. Monica, kamu tahu gak apa yang sedang dibicarwkan oleh para mahasiswa Hari ini."


Monica kini manggut-manggut saat mendengar pertanyaan itu. Wajar sih seseorang untuk penasaran dengan apa yang telah terjadi di dunia Maya. Tapi Monica penasaran dengan satu hal.

"Sebelumnya maaf, apa Adi punya smartphone?"

Adi menggeleng mendengar pertanyaan itu.

'Pantes aja, dia gak tahu'

Lalu Monica segera memberitahu pada Adi, apa yang menjadi buah bibir orang-orang di universitas.

"Mereka sedang meributkan pengunggah video ini!" ucap Monica sambil memberikan rekaman yang diunggah dalam Channel Loetube.

Saat melihat apa yang ditunjukan oleh Monica bola mata Adi memicing. Itu karena rekaman tersebut adalah kejadian saat dia meringkus Raka tadi malam.

'Ada seseorang yang merekam dan mengunggah aksiku semalam.' batinnya kesal.

Rabu, 01 Juni 2022

Menjadi seorang Penguasa

 Ditengah alun-alun desa semua orang diperintahkan untuk berkumpul. Gagasan itu dilayangkan oleh orang yang menjadi Baron di tempat tersebut.


Seluruh Knight juga sudah ada di situ untuk menyaksikan momen penting tersebut. Itu karena sesuatu yang tidak biasa terjadi di wilayah ini.


Desa Rockhill merupakan tempat tandus dengan sumber daya alam yang minim. Tidak ada yang istimewa di tempat ini, hanya bangsawan paling bodoh yang mau mengambil tempat berkuasa di sini.


Dan itu adalah Baron yang berkuasa sampai sekarang, karena mereka ingin dapat menikmati hidup melalui tunjangan kerajaan.


Belum lagi beberapa ratus meter dari sini terdapat area berbahaya, itu adalah [Abbys Land] sebuah teritorial yang diduduki oleh bangsa Iblis yang muncul 10 tahun yang lalu.


Namun dalam satu dekade ini jarang terjadi bentrok antara iblis dan pihak aliansi. Jika itu terjadi maka Desa Rockhill akan menjadi desa pertama dari wilayah Marquess Ereiven yang akan bentrok dengan mereka.


Tapi bukannya meningkatkan kualitas hidup atau membangun basis militer di daerah ini. Mereka malah sengaja membiarkan tempat ini miskin.


Ditambah Baron yang memerintah di sini adalah orang tidak kompeten yang hanya ingin hidup nyaman tanpa mempedulikan penduduk.

Namun semua itu akan berubah, saat acara yang diumumkan ini selesai. Itu karena seorang pedagang dari Ras Blood Elf dari negeri asing datang ke daerah kumuh ini.


Ketika mereka berkumpul kenyataan pahit yang diterima. Baron Lucius ke 7 yang merupakan keturunan terakhir dari garis silsilah Tuan tanah desa ini.


Sudah menjual kebangsawanannya dengan beberapa puluh peti emas. Dengan kata lain, desa ini sudah dialih tangan pada pembelinya.


Mereka khawatir dan cemas dengan keadaan yang terjadi, sebab biasanya orang yang membeli status kebangsawanan akan bertindak semena-mena dan mengabaikan rakyatnya.


Dengan wajah penuh kesenangan Baron Lucius ke 7 menjabat tangan sang pembeli tanah, dia begitu gembira sehingga wajahnya sangat menjijikkan untuk dipandang.


"Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Rodriguez! Aku ucapkan selamat karena kau sudah menjadi Baron di tempat ini!" Ucap mantan Baron.


"Sama-sama, aku juga berterima kasih karena kau mau menerima tawaran dariku!" Jawab Rodriguez.


Pemuda bernama Rodriguez itu adalah seorang Blood Elf, makin terhenyaklah hati penduduk saat menyaksikan proses pengalihan kekuasaan pada si pemuda.


Kabar yang mereka terima para Elf memperlakukan manusia layaknya budak dan mengabaikan hukum kesetaraan diantara Ras.


Setelah urusan selesai, Baron yang telah menjual Tanah dan penduduk yang mengabdi pada dirinya segera angkat kaki dengan wajah menghina.


'Setelah sekian lama akhirnya aku bisa bebas dari tempat terkutuk ini. Untungnya pemuda Elf itu begitu baik hati hingga mau membeli desa kering itu dengan harga fantastis.' Batin Baron dalam kereta yang dipersiapkan Rodriguez untuknya.


Kini para penduduk memandang tanah dengan lesu, mereka seakan menunggu nasib buruk yang akan menimpa.


"Mulai sekarang! Aku, Rodriguez Sunstrider resmi menjadi seorang Baron di wilayah ini, siapapun yang mencoba untuk menolak kupersilahkan angkat kaki dari sini!" Ucap Rodriguez lantang.


Para penduduk hanya diam menanggapi ucapan lantang nan tegas dari pemuda Elf itu. Kata-kata yang dilontarkan oleh Rodriguez membuat beberapa penduduk gemetar.


Sedangkan Rodriguez Sunstrider yang mengetahui kenapa penduduk desa ini bersikap seperti itu memaklumi. Karena sebagian kaumnya memang bertindak diluar batas.


Namun tujuan dia mengambil alih kekuasaan ini sebenarnya untuk menyelamatkan mereka juga. Jika dia tidak mendapat kepercayaan dan dukungan, maka kemungkinan rencana yang sudah dia susun akan sulit dilaksanakan.


"Karena tidak ada yang pergi, aku anggap kalian menerimaku sebagai Baron yang baru. Karena itu, aku akan memberikan satu perintah perdana sebagai Baron wilayah ini!"


Para warga harap-harap cemas, namun mereka tidak berani membantah. Karena bila itu mereka lakukan, cambuk akan menjadi hadiah dari Baron Lucius.


Sekarang mereka tidak tahu perintah macam apa yang akan diberikan oleh Baron baru ini?


"Aku memberikan Perintah untuk mengadakan pesta! Malam ini, desa ini akan mengadakan api unggun untuk penyambutan diriku sebagai seorang Baron. Apa kalian mengerti!"


Mendengar hal itu, beberapa orang tertarik. Namun mereka tidak berani mengungkapkan, lalu anak-anak yang begitu antusias saat mendengar pesta segera maju dan berteriak ke arah Baron Rodriguez.


"Apa nanti ada banyak makanan?"


"Apa nanti semua lampu dinyalakan?"


"Apa kota ini akan menjadi hidup di malam hari?"


Ibu dari anak-anak tersebut segera menarik mereka sembari meminta maaf.


"Tolong maafkan kelancangan anak-anak kami!"


"Jika Anda ingin marah, maka hukum saja kami!"


Ucap mereka sembari membungkuk, orang-orang menjadi cemas dengan keadaan itu. Karena biasanya Baron Lucius akan marah dan memukuli anak-anak yang menginterupsinya saat bicara.


Apalagi Rodriguez berjalan ke arah mereka dengan pelan, semua yang melihat harap-harap cemas dengan aoa yang akan terjadi. Namun tanpa di sangka Baron Elf itu menyamakan tinggi tubuhnya di hadapan anak-anak yang tadi mengomel.


"Tentu saja, kota ini akan lebih hidup. Banyak lampu dinyalakan dan banyak pula makanan tersaji. Tidak hanya itu, semua orang akan menari dan musik akan dimainkan! Benarkan semua?" Ucap Rodriguez dengan senyum.


Lagi para penduduk terdiam saat mendengar ucapan Elf itu, mereka pikir dia akan marah dan memukuli anak-anak atau ibu mereka. Namun ternyata ia malah merendahkan dirinya untuk menjawab pertanyaan anak kecil itu dengan bersemangat.


Bahkan saking semangatnya penduduk bisa melihat mata Baron yang baru itu berkilauan seolah tidak sabar ingin mengadakan pesta secepatnya.


"Woah asyik!"


"Malam ini pasti seru!"


Melihat tanggapan anak-anak itu, Rodriguez tersenyum lembut. Para ibu yang melihatnya begitu terharu, karena bisa merasakan kalau Baron mereka yang baru ini memiliki hati yang lembut.


"Tuan, maafkan kami yang bertindak seperti tadi, kami hanya trauma karena selama ini diperlakukan tidak setara oleh Baron Lucius."


"Benar, saya juga minta maaf karena mempunyai pikiran yang bukan-bukan terhadap anda!"


Penyataan serupa terus bermunculan dari mulut para penduduk, dalam hati Rodriguez tersenyum karena rencana miliknya sudah berhasil.


Dia melukiskan senyum lembut dan berkata. "Tidak mengapa, aku juga bisa merasakannya. Karena itu aku ingin mengadakan pesta atas posisiku sebagai Baron yang baru. Tujuan aku membeli tempat ini bukan untuk menyiksa kalian melainkan ingin memajukan dan mengembangkannya. Aku tidak memaksa kalian untuk ikut membantu karena mungkin kalian masih belum menerima, tapi harapanku kalian tidak mengganggu apa yang akan aku lakukan ke depannya! Kalian mengerti!"


"Dimengerti, Tuan!"


"Sillenna Immeril! Persiapkan pestanya!" Perintah Rodriguez pada seorang wanita berambut pirang dengan diikat ponytail. Mata miliknya berwarna biru laut. Dia mengenakan pakaian seorang Maid.


'Padahal aku memintanya untuk memakai pakaian yang lebih baik, dasar keras kepala!' Rutuk Rodriguez melihat penampilan orang terpercayanya.

Kamis, 14 April 2022

Gagak Ireng chapter 3

Pagi itu, Adi menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan untuk kerjaan hari ini. Dia sudah terbiasa melakukan hal ini, karena dua bulan telah berlalu saat dia mulai kerja di sini.

Kemudian dia berangkat untuk menjalankan tugas rutinnya. Membereskan sisa-sisa makanan dari beberapa mahasiswa yang kuliah malam.

Universitas ini juga mengadakan kuliah malam bagi para siswanya, yang kebetulan hanya bisa melakukan itu karena siangnya mereka bekerja.

Lalu Adi melihat beberapa mahasiswa-mahasiswi yang mulai berduyun-duyun masuk dari gang universitas.

Mereka melewati Adi dengan berbagai ekspresi. Ada yang menyapanya, melewatinya saja seakan dirinya sebuah patung dan ada juga yang memberikan senyuman hangat.

"Entah kenapa, aku merasa tidak pantas menerima senyuman itu." Gumam Adi pelan sehingga tidak terdengar oleh siapapun kecuali dirinya.

Pekerjaan dirinya yang suka merenggut nyawa dari Ayah, Ibu, kakak, atau bahkan adik dari seseorang yang mungkin dari mereka.

Membuat Adi Surya tidak merasa pantas untuk menerima senyuman itu.  Masa lalu dirinya yang begitu kelam selalu menghantui, ketika dirinya berpikir untuk bisa hidup normal seperti orang biasa.

Lalu tiga orang mahasiswi berjalan di depannya sambil berdiskusi.

"Aku yakin Penjahat kali ini terlatih, masa dia menggunakan kertas kosong saat meninggalkan korbannya. Juga ada beberapa simbol aneh ditemukan pada tubuh orang yang ditangkapnya." Ucap wanita berambut kuning-putih panjang dia mengenakan jaket kulit hitam dengan t-shirt putih. Lalu bawahannya adalah celana jeans biru dan sepatunya merupakan tipe hak rendah berwana cokelat.

"Aku juga penasaran Sy, menurut kamu gimana Riani?" tanya wanita berambut pendek dark blue. Dia mengenakan jaket lengan sebatas sikut berwarna kuning, adapun penutup kepalanya dia gantungkan ke belakang. Untuk bawahan, dia mengenakan jeans hitam dengan sepatu sport.

"Aku juga gak tau harus gimana memikirkannya, Monica! Ussy! Dia juga sangat lihai dalam bersembunyi. Dia seperti Ninja di dunia nyata." Respon wanita berambut panjang coklat-orange, dia mengenakan blush garis horizontal merah-putih. Bawahannya dia mengenakan rok dibawah lutut berwarna pink, kakinya beralaskan sendal bermerk.

"Pokoknya, kita harus menangkap penjahat ini. Tapi dia sering muncul di tempat tidak terduga."

Ucap Ussy yang menuntun mereka semakin menjauh dari Adi. Mendengar pembicaraan mereka, Adi merasa gelisah karena perbuatan penjahat itu seperti tidak asing baginya.

Segera dia mendekati ketiga gadis itu, lalu memberikan pertanyaan.

"Maaf jika saya tidak sopan, tapi bisa kalian jelaskan dimana terakhir kali menemui penjahat ini."

"Kami menemui penjahat ini di sebuah  jembatan besar di pinggir-"

"Oi Monic! Jangan sembarangan kasih tahu orang lain!"

Adi Surya yang memang kenal kota ini, sudah menemukan lokasi yang dia inginkan. Sebagai mantan pembunuh, pengetahuan tentang letak wilayah kota ini merupakan hal yang harus dipahami diluar kepala.

"Maaf Mas Adi, teman kami hanya asal bicara! Tolong lupakan saja!"

Ussy membekap mulut Monica yang hampir menjelaskan dimana mereka menemui penjahat itu. Namun tanpa di duga oleh mereka, tanggapan Adi membuat mereka heran.

"Ah tidak apa-apa, saya pikir itu beneran. Kalau begitu, saya permisi dulu ya. Semoga hari kalian menyenangkan!"

Adi menanggapi seperti itu dan melenggang sambil melambaikan tangannya. Monica memberi isyarat pada Ussy untuk melepaskan bekapannya.

"Huaa apa-apaan kau ini Ussy, aku hampir mati karena kehabisan napas."

"Monic, lain kali jangan asal sembarangan memberitahu orang lain. Ingat, pekerjaan kita itu rahasia sama seperti identitas kita sebagai Girlband Virgo." Jelas Ussy sambil berkacak pinggang.

"Iya, Sy! Lain kali aku akan hati-hati dengan ucapanku! Janji deh!" Jawab Monica seraya memberikan tanda pis sebagai permintaan maaf.

"Duh! Yaudah deh, kali ini aja. Lain kali kalau mulutmu tidak bisa dijaga, akan aku jahit sekalian." Respon Ussy sambil menyeringai, tentu yang menerima ancaman merinding seluruh bulu kuduknya.

"Nggak Ussy! Aku beneran gak akan mengulanginya lagi, beneran sumpah!"

Sementara dua temannya sedang bertukar kata, Riani nampak lekat melihat punggung Adi Surya. Dia merasa aneh dengan tanggapan yang diberikan petugas kebersihan itu, saat menerima alasan Ussy untuk menutupi ucapan Monica.

"Kalian merasakan sesuatu yang aneh gak, ketika mas Adi itu menjawab pernyataan Ussy. Kok dia bersikap seolah udah mengetahui sesuatu ya."

"Yaelah Riani! Yang begituan aja dianggap seriusan, aku yakin mas Adi itu udah percaya dengan ucapanku. Lagipula, apa artinya bagi dia mengetahui lokasi dari penjahat itu?" ujar Ussy.

"Aku sependapat, meskipun mulut ini hampir kelepasan. Ga mungkin juga kan, kalau tiba-tiba mas Adi muncul lalu menggerebek penjahat itu." tambah Monica.

Mendapat respon seperti itu, Riani langsung membuang semua kegundahan hatinya. Dia menggeleng lalu menjawab.

"Kalian benar, sepertinya aku memang ke bawa suasana karena membiarkan penjahat itu kabur. Btw malam ini kita dapat pemberitahuan dari pak Ganendra untuk latihan perdana?"

Ah benar, tadi pak Ganendra juga memberi pesan. Setelah memenangkan ajang Loetube Talent itu, dia bakal melatih kita secara rutin." respon Ussy. 

Begitulah, mereka bertiga dengan cepat mengubah topik pembicaraan. Menghilangkan kesan aneh Adi Surya yang menanyakan lokasi si penjahat berada.

Sementara Adi Surya sedang menyusun rencana untuk mengungkap. Siapa orang yang suka menangkap dan meninggalkan surat kosong itu.

"Semoga saja, aku menemukan dirinya lebih awal dari sosok Virgo."

Adi Surya sudah tahu tentang sosok itu, wanita berkostum yang memiliki kekuatan misterius. Dia suka membela kebenaran dan keadilan, bahkan sedang hangat dibicarakan masyarakat.

Lalu alasan dia khawatir, karena dia tidak ingin seseorang mengacaukan dirinya untuk meringkus penjahat itu. Bukan berarti dia ingin menjadi pahlawan seperti Virgo.

"Aku hanya ingin tahu, kenapa orang itu menggunakan cara sama yang sering aku gunakan." gumamnya pelan

Selasa, 30 November 2021

Gagak Ireng chapter 2

Pagi itu, Adi menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan untuk kerjaan hari ini. Dia sudah terbiasa melakukan hal ini, karena dua bulan telah berlalu saat dia mulai kerja di sini.

Kemudian dia berangkat untuk menjalankan tugas rutinnya. Membereskan sisa-sisa makanan dari beberapa mahasiswa yang kuliah malam.

Universitas ini juga mengadakan kuliah malam bagi para siswanya, yang kebetulan hanya bisa melakukan itu karena siangnya mereka bekerja.

Lalu Adi melihat beberapa mahasiswa-mahasiswi yang mulai berduyun-duyun masuk dari gang universitas.

Mereka melewati Adi dengan berbagai ekspresi. Ada yang menyapanya, melewatinya saja seakan dirinya sebuah patung dan ada juga yang memberikan senyuman hangat.

"Entah kenapa, aku merasa tidak pantas menerima senyuman itu." Gumam Adi pelan sehingga tidak terdengar oleh siapapun kecuali dirinya.

Pekerjaan dirinya yang suka merenggut nyawa dari Ayah, Ibu, kakak, atau bahkan adik dari seseorang yang mungkin dari mereka.

Membuat Adi Surya tidak merasa pantas untuk menerima senyuman itu.  Masa lalu dirinya yang begitu kelam selalu menghantui, ketika dirinya berpikir untuk bisa hidup normal seperti orang biasa.

Lalu tiga orang mahasiswi berjalan di depannya sambil berdiskusi.

"Aku yakin Penjahat kali ini terlatih, masa dia menggunakan kertas kosong saat meninggalkan korbannya. Juga ada beberapa simbol aneh ditemukan pada tubuh orang yang ditangkapnya." Ucap wanita berambut kuning-putih panjang dia mengenakan jaket kulit hitam dengan t-shirt putih. Lalu bawahannya adalah celana jeans biru dan sepatunya merupakan tipe hak rendah berwana cokelat.

"Aku juga penasaran Sy, menurut kamu gimana Riani?" tanya wanita berambut pendek dark blue. Dia mengenakan jaket lengan sebatas sikut berwarna kuning, adapun penutup kepalanya dia gantungkan ke belakang. Untuk bawahan, dia mengenakan jeans hitam dengan sepatu sport.

"Aku juga gak tau harus gimana memikirkannya, Monica! Ussy! Dia juga sangat lihai dalam bersembunyi. Dia seperti Ninja di dunia nyata." Respon wanita berambut panjang coklat-orange, dia mengenakan blush garis horizontal merah-putih. Bawahannya dia mengenakan rok dibawah lutut berwarna pink, kakinya beralaskan sendal bermerk.

"Pokoknya, kita harus menangkap penjahat ini. Tapi dia sering muncul di tempat tidak terduga."

Ucap Ussy yang menuntun mereka semakin menjauh dari Adi. Mendengar pembicaraan mereka, Adi merasa gelisah karena perbuatan penjahat itu seperti tidak asing baginya.

Segera dia mendekati ketiga gadis itu, lalu memberikan pertanyaan.

"Maaf jika saya tidak sopan, tapi bisa kalian jelaskan dimana terakhir kali menemui penjahat ini."

"Kami menemui penjahat ini di sebuah  jembatan besar di pinggir-"

"Oi Monic! Jangan sembarangan kasih tahu orang lain!"

Adi Surya yang memang kenal kota ini, sudah menemukan lokasi yang dia inginkan. Sebagai mantan pembunuh, pengetahuan tentang letak wilayah kota ini merupakan hal yang harus dipahami diluar kepala.

"Maaf Mas Adi, teman kami hanya asal bicara! Tolong lupakan saja!"

Ussy membekap mulut Monica yang hampir menjelaskan dimana mereka menemui penjahat itu. Namun tanpa di duga oleh mereka, tanggapan Adi membuat mereka heran.

"Ah tidak apa-apa, saya pikir itu beneran. Kalau begitu, saya permisi dulu ya. Semoga hari kalian menyenangkan!"

Adi menanggapi seperti itu dan melenggang sambil melambaikan tangannya. Monica memberi isyarat pada Ussy untuk melepaskan bekapannya.

"Huaa apa-apaan kau ini Ussy, aku hampir mati karena kehabisan napas."

"Monic, lain kali jangan asal sembarangan memberitahu orang lain. Ingat, pekerjaan kita itu rahasia sama seperti identitas kita sebagai Girlband Virgo." Jelas Ussy sambil berkacak pinggang.

"Iya, Sy! Lain kali aku akan hati-hati dengan ucapanku! Janji deh!" Jawab Monica seraya memberikan tanda pis sebagai permintaan maaf.

"Duh! Yaudah deh, kali ini aja. Lain kali kalau mulutmu tidak bisa dijaga, akan aku jahit sekalian." Respon Ussy sambil menyeringai, tentu yang menerima ancaman merinding seluruh bulu kuduknya.

"Nggak Ussy! Aku beneran gak akan mengulanginya lagi, beneran sumpah!"

Sementara dua temannya sedang bertukar kata, Riani nampak lekat melihat punggung Adi Surya. Dia merasa aneh dengan tanggapan yang diberikan petugas kebersihan itu, saat menerima alasan Ussy untuk menutupi ucapan Monica.

"Kalian merasakan sesuatu yang aneh gak, ketika mas Adi itu menjawab pernyataan Ussy. Kok dia bersikap seolah udah mengetahui sesuatu ya."

"Yaelah Riani! Yang begituan aja dianggap seriusan, aku yakin mas Adi itu udah percaya dengan ucapanku. Lagipula, apa artinya bagi dia mengetahui lokasi dari penjahat itu?" ujar Ussy.

"Aku sependapat, meskipun mulut ini hampir kelepasan. Ga mungkin juga kan, kalau tiba-tiba mas Adi muncul lalu menggerebek penjahat itu." tambah Monica.

Mendapat respon seperti itu, Riani langsung membuang semua kegundahan hatinya. Dia menggeleng lalu menjawab.

"Kalian benar, sepertinya aku memang ke bawa suasana karena membiarkan penjahat itu kabur. Btw malam ini kita dapat pemberitahuan dari pak Ganendra untuk latihan perdana?"

"Ah benar, tadi pak Ganendra juga memberi pesan. Setelah memenangkan ajang Loetube Talent itu, dia bakal melatih kita secara rutin." respon Ussy. 

Begitulah, mereka bertiga dengan cepat mengubah topik pembicaraan. Menghilangkan kesan aneh Adi Surya yang menanyakan lokasi si penjahat berada.

Sementara Adi Surya sedang menyusun rencana untuk mengungkap. Siapa orang yang suka menangkap dan meninggalkan surat kosong itu.

"Semoga saja, aku menemukan dirinya lebih awal dari sosok Virgo."

Adi Surya sudah tahu tentang sosok itu, wanita berkostum yang memiliki kekuatan misterius. Dia suka membela kebenaran dan keadilan, bahkan sedang hangat dibicarakan masyarakat.

Lalu alasan dia khawatir, karena dia tidak ingin seseorang mengacaukan dirinya untuk meringkus penjahat itu. Bukan berarti dia ingin menjadi pahlawan seperti Virgo.

"Aku hanya ingin tahu, kenapa orang itu menggunakan cara sama yang sering aku gunakan." gumamnya pelan

Sabtu, 28 Agustus 2021

Gagak Ireng

Setelah bebas dari cengkeraman Bapak, aku menjalani keseharian dengan menghabiskan waktu bekerja di sebuah kampus di Jakarta.

Pekerjaanku di dapat dengan mudah, karena sang Rektor universitas ini pernah kuselamatkan dari seorang pencopet.

Merasa berhutang budi, dia menawarkan sesuatu sebagai imbalannya. Saat itu aku butuh tempat bernaung, karena organisasi yang membesarkan diriku dibubarkan.

Itu terjadi dua bulan yang lalu, pelaku yang menyebabkan hancurnya organisasi itu adalah sosok yang mengatasnamakan dirinya sebagai Gundala.

Aku hanya bisa berterima kasih karena diselamatkan olehnya, namun tetap saja bayangan karena telah melayani sosok Bapak. Terus menghantuiku sepanjang malam, dia sebenarnya memiliki nama asli Pengkor.

Aku tidak termasuk ke dalam anak-anak pilihannya. Aku hanyalah bidak yang biasa dia suruh untuk melakukan pembunuhan pada orang-orang yang mencoba menghalangi rencana miliknya.

Bahkan saat kejadian itu berlangsung, aku sedang ditugaskan dalam misi membunuh seorang pimpinan perusahaan, yang menolak bekerjasama dengan kami dalam pengembangan serum [Amoral]

Kini disinilah aku, bekerja sebagai tukang bersih-bersih di Universitas terkenal di Jakarta.

"Mas Adi! Tolong bantu kami disini!"

Teriakan itu mengalihkan diriku yang merenungi perjalanan kelam hidup ini. Sumber teriakan itu adalah seorang bapak bernama Tarno.

"Iya Pak Tarno, saya akan ke sana."

Kubereskan daun jatuh ini, lalu memasukan ke dalam tempat sampah. Kemudian menghampiri pak Tarno yang ingin memindahkan benda berat.

Setelah itu, aku beristirahat dan menikmati makan siang. Sebagai petugas kebersihan tugasku adalah menjaga agar universitas ini kinclong.

"Hei Pencuri! Hentikan dia tolong!"

Teriakan itu membuatku melirik asalnya, seorang pemuda bertudung hitam sedang lari tunggang langgang dari kejaran tiga pemuda.

Aku ingin menghentikan aksinya, tapi hati kecilku berkata untuk melepaskan dia. Karena tahu, kalau sebenarnya dia mencuri pasti untuk kebutuhan perut.

Namun refleks tubuhku bergerak dengan sendirinya untuk mengejarnya, ketika dekat aku langsung melompat dan mencengkram dirinya.

"Enghh! Sialan, jangan ikut campur urusanku! Lepaskan aku!"

Pemuda ini menggeliat untuk lepas dari cengkeramanku. Tapi itu sia-sia, aku sudah mempelajari teknik kuncian dengan mumpuni.

Bahkan dengan satu gerakan kecil aku  bisa membuat pemuda ini pingsan. Lalu orang-orang yang mengejarnya tiba di tempat kami.

"Mas Adi! Terima kasih sudah membantu kami, tidak disangka ternyata Mamas memiliki gerakan yang lincah."

Mereka memanggilku mamas karena aku adalah petugas kebersihan di sini. Juga sifatku yang dewasa dan easy gooing, entah bagaimana membuat mereka segan padaku.

Gerakan yang dibilang lincah ini adalah hasil latihan yang mendekati kematian. Dulu anak Bapak yang paling garanglah yang melatihku, kalau tidak salah ingat dia bernama Kanigara.

Aku bahkan harus bergerak lebih cepat dari ini, untuk menghindar dari cengkeramannya. Sebab jika dia berhasil menangkapku, bisa di pastikan tulangku ada yang patah.

"Sama-sama, tolong jangan hakimi anak ini. Bawa saja ke kantor polisi, kebiasaan main hakim sendiri harus dihindari, mengerti!"

"Siap, Mas! Kami pasti akan membawanya ke pihak berwajib."

Dua orang pemuda memegang kedua tangan pelaku. Dia masih mencoba kabur, tapi itu sia-sia. Dia menatap padaku dengan kebencian.

"Kurang ajar kau, Petugas kebersihan! Akan kubalas nanti!"

Aku tersenyum ketika mendengar dirinya berkata seperti itu. Lalu aku menepuk pelan pundaknya dan memberikan balasan.

"Aku tidak akan kemana-mana, kalau kau ingin buat perhitungan. Kau sudah tahu lokasinya, jadi aku nantikan kunjunganmu untuk membalas perbuatanku ini oke!"

"Jawaban mantap!"

"Mas Adi selera humornya Mantul!"

"Sekarang waktunya bagimu berurusan dengan pihak berwajib, Mas kami permisi dulu ya!"

Aku mengangguk saat mereka bertiga membawa pencopet itu ke pihak berwajib. Entah kenapa sedikit beban hatiku terangkat, apakah aku bisa menebus semua dosa yang sudah aku lakukan selama ini.

Hari berlalu dan malampun tiba, kini aku kembali ke tempat sederhana yang bisa ku sebut rumah. Masih di sekitar universitas ini, jaraknya tidak begitu jauh dari bangunan utama.

Ruangan ini hanya seluas 4 × 6 meter, cukup untuk diriku  seorang. Namun tanpa diketahui oleh siapapun, aku membangun sebuah basemen di bawah lantai bangunan ini.

Bangunan ini juga merupakan hadiah dari Rektor universitas ini. Dia berkata kalau ruangan ini tidak ada yang menempati, jadi daripada kosong juga aku tidak punya tempat tinggal.

Aku pun diberikan tempat ini sebagai tempat yang bisa ku sebut rumah. Lalu aku menggali lantainya untuk membuat basemen, sebagai tempat rahasia.

Aku memasuki basemen dan menyalakan lampu. Terdapat beberapa barang-barang pribadi bekas peninggalan diriku, saat masih menjadi anggota organisasi bapak.

Lalu di sebuah sudut terdapat sebuah set kostum yang selalu kugunakan, ketika mendapat perintah dari Bapak untuk menghabisi korban incarannya.

Ingin rasanya aku melupakan dan membuang semua ini. Tapi entah kenapa berat rasanya untuk membuangnya begitu saja. Ada semacam rasa aneh yang membuat aku enggan untuk melupakannya.

Tujuanku melakukan ini untuk mengingatkan diriku, bahwa aku adalah seorang mantan pembunuh. Meski usiaku baru 18 tahun, tapi tangan ini sudah penuh dengan darah orang-orang yang melawan bapak.

Itu diperlukan untuk diriku, agar aku tidak melupakan mereka.  Aku sadar kalau yang kulakukan ini konyol dan tampak aneh, tapi hanya ini yang bisa kulakukan untuk menenangkan diri dan anehnya itu berhasil.

Setiap aku selesai melakukan ini, entah bagaimana perasaan diriku sedikit lebih lega. Aku seakan mendapat pengampunan dari korban yang kubunuh.

Aku tidak tau takdir seperti apa yang akan mendatangi diriku, namun aku harap di sana ada harapan bagiku untuk menebus segala dosa yang pernah kulakuan selama ini.

Senin, 21 Oktober 2019

Penentuan Tema Blog

Setelah beberapa kali Publish gak jelas. Akhirnya, aku menentukan tema untuk Blog ini. Walau agak pesimis juga, di awal-awal aku pengen buat blog ini semacam Diary.

Setelah berpikir cukup matang, akhirnya ketemu sama passion aku yang pengen banget jadi penulis cerita. Maka dari itu, tema untuk blog ini adalah Fangiction tapi Drabble.

Pertama : aku jelasin singkat aja apa itu Fanfiction. Jadi itu adalah Karya dimana saya meminjam karakter atau plot dalam suatu karya orang lain, yang pastinya menyertakan dari mana cerita itu berasal.

Kedua : Drabble ini mengacu pada salah satu bentuk dari Fanfiction. Jadi Fanfic itu ada banyak bentuk diantaranya Drabble,  Flashfiction, Oneshoot, Multi-chap, Short Story dan terakhir Series.

Aku jelasin singkat juga, apa arti dari semua yang aku sebutkan di atas.

Drabble adalah karangan yang memiliki jumlah kata 100-500 kata.

Flashfiction adalah karangan yang memiliki jumlah kata 500-1000 kata.

Oneshoot adalah karangan yang memiliki jumlah kata 1000-3000 kata.

Multi-chap adalah karangan yang memiliki jumlah kata sama seperti Oneshoot per chapter, hanya saja dibagi 2 chapter dan langsung tamat.

Short Story adalah karangan yang sama seperti Multi-chap, hanya saja memiliki jumlah 2-5 chapter dan langsung tamat.

Sedangkan series chapter adalah karangan yang lebih banyak konflik, serta panjang chapter sesuai keinginan si pembuat.

Nah semoga itu bisa membuat kalian paham, dan untuk konten dalam ceritaku namti aku akam ambil yang atas yaitu Drabble.

Artinya tiap 300 kata itu berakhir tapi tenang aku bikinnya bersambung kok, karena itu aku memberinya nama Drabbung atau [Drabble bersambung].

Untuk kontennya sendiri akan aku umumkan besok di postingan selanjutnya, terima kasih sudah mampir ke Blogku.

Sabtu, 12 Oktober 2019

Yang sering terlupakan

Kenapa begini? Kenapa disaat orang lain merasa bahagia dengan yang lain. Aku malah duduk terdiam berteman sunyi, aku juga ingin seperti mereka tapi kenapa tidak bisa.

Aku juga ingin dimengerti, aku ingin bercengkerama dan berbicara banyak hal. Seperti masa lalu, masa terindah, masa pahit. Tapi kenapa?

Ada sesuatu di bagian dadaku yang ingin sekali keluar, membuat aku mati lalu benda itu terangkat. Aku tidak perlu merasakan ini lagi aku bebas.

Namun sedikit kesadaran membuatku tetap bertahan dengan semua ini, ada sebuah frasa indah yang diingatkan orang tuaku dulu. Satu kata yang akan bisa mengubah keadaaan sekitar.

Tidak hanya diri sendiri bahkan dunia pun, bisa dibolak balikan  hukumnya oleh lafal itu. Kata itu begitu unik dan singkat, tidak terlalu panjang dan bertele-tele. Jelas langsung to the poin.

Kata itu adalah Harapan.

Sebuah kata yang singkat. Namun saat kecil, aku selalu mengabaikan bila mereka bertanya. Apa harapanmu kedepan? Aku menyunggingkan bibir penuh kesombongan.

Siapa yang butuh harapan, itu hanya untuk mereka yang lemah sedang aku. Saat ini aku bisa puas bermain dan menjalani hidup, mungkin  nanti aku akan menggunakannya tapi itu masih mungkin.

Ternyata semua terjadi sesuai ucapanku, sekarang aku mengembara mengarungi jutaan detik yang terus berlalu. Mencari kata itu, dimanakah dia berada?

Harapan!

Dimana dia yang selama ini aku abaikan dan pandang remeh, dimana dia saat ini aku butuh itu Tuhan. Aku butuh harapan dan penghiburan, berikanlah sedikit harapan pada Hambamu yang pongah ini. Aku berjanji hari saat aku mendapatkannya, aku tidak akan melepasnya.

Kuharap kau mau membantuku mendapatkan harapan itu.

Tak beraturan

Sebuah kata yang cocok untuk menggambarkan hati yang gundah gulana adalah sepi, tak banyak orang yang memahami kata ini.

Beberapa ada yang sok tahu yang lain merasa sering mengalaminya, tapi apa sih yang dimaksud dengan sepi itu sendiri.
Aku bukanlah ahli dalam bidang menjelaskan, jadi mungkin penjelesanku sedikit konyol bahkan aneh. Tidak masalah, selama kau bisa mengerti dengan maksudku.

Rasa dingin di dada, tidak tahu harus melakukan apa. Melihat mereka yang bercengkrama dengan teman, sedang diri hanya memperthatikan dalam diam. Itulah sepi.

Bukan salah dunia atau salah diri atau orang lain yang menyebabkan kita sendiri atau kesepian, tapi salah pilihan kita yang menyendiri dan itulah buah dari yang kau pilih.

Bayangkan saja begini, ada dua tempat untuk menabur benih, keduanya memiliki hasil yang berbeda. Maksudnya, tanah pertama hanya bisa ditumbuhi rumput yang cepat menghijau. Tanah kedua bisa ditanamin buah-buahan tapi waktu memanennya lama, bisa satu tahun atau dua tahun atau lebih

Tanah pertama terkesan menggiurkan, karena masa tanamnya begitu cepat dan menghasilkan dalam jarak yang dekat. Tapi apa yang didapat hanyalah rumput hijau yang banyak namun tak berguna.

Tanah kedua bisa ditanami buah-buahan tapi masa tanam yang lama dan berbuahnya pun lama, membuat manusia tidak mau memilihnya karena itu tidak instan. Tapi rasa buah dari hasil tanah ini, begitu menyegarkan dan mengenyangkan.

Itulah ilustrasi yang kutunjuukan untuk membuatmu menilai, bahwa bukan salah kita tapi salah pilihan kita serta logika kita. Kenapa bisa demikian?

Mayoritas kita akan berkata, ya kalau hasil akhirnya begitu. Lebih baik aku pilih tanah kedua saja, namun apa benar dia akan konsisten memilihnya. Hanya teguh pada pilihan dan memilih pilihan yang tepatlah, yang bisa membuatmu berhasil dalam dunia ini.

Kemana arah pembicaraan ini berlanjut. Entahlah, aku pun tidak mengetahuinya. aku hanya menulis apa yang terlintas di kepala tanpa mengedit isinya, kecuali membenarkan apa yang salah dan typo. Tapi isinya, aku yakin tetap sama seperti yang dikatakan hatiku.

Abstrak dan aneh itulah kita. Karena itu otak kiri menjadi pengendali, agar kita tidak terlalu jauh melangkah lebih dalam. Manusia suka dengan melanggar aturan yang ditetapkan, berlagak sombong dan sebagainya. Namun, pada akhirnya dia akan menyadari bahwa hanyalah makhluk lemah dan tak berdaya.

Ingatlah musibah atau bencana kadang adalah cambuk kecil, karena kita terlalu pongah padanya sebab jarang berdoa dan meminta.

Semoga kalimat tidak jelas ini, bisa dimengerti dan dipahami baik oleh kalian

Salam.

Hening!

Ya, disinilah aku berteman angin malam yang meniup pelan wajah, tidak pernah aku sadari bila hawa ini selalu membuatku nyaman.

Ada apa ini, kenapa tiba-tiba aku teringat sesuatu yang terjadi di masa itu. Masa saat aku masih berseragam abu-abu. Sebuah masa yang orang selalu katakan, paling indah saat kau hidup.

Tidak salah mereka mengatakannya, karena menjadi bagian dari itu. Sedangkan aku ... aku tidak menjadi bagian dari mereka, yang merasakan semangat masa muda.

Aku hanya pemuda pendiam yang akan dengan senang hati, menutup telinga dengan headseat dan memejamkan mata. ketimbang berbicara dengan yang lain.

Saat itu, aku berpikir untuk apa berinteraksi dengan orang lain.  Jika hanya membuatmu menderita, bukankah lebih baik diam dan lupakan sekitarmu.

Namun, saat dewasa aku menyadari. Tapi  semuanya sudah terlambat. Kini aku sama seperti dulu, tidak merasakan apapun selain hening dan terpaan  angin malam yang menurutku menenangkan

Jika boleh jujur, aku ingin sekali kembali ke masa itu dan merubahnya. Tapi aku sadar, itu hanya keegoisanku saja. Sang waktu tidak mengenal yang namanya melihat ke belakang, dia hanya punya satu tujuan yaitu lurus ke depan.

Karena itu, daripada meratapi nasib karena tidak merasakan masa muda. Aku  bertekad untuk menggantinya dengan melakukan  apa yang aku inginkan, agar semuanya tidak menjadi sia-sia. Tentu dengan mengikuti aturan yang diberikan olehNya.

Selasa, 01 Oktober 2019

Rat Slayer

Naruto milik Masashi Kishimoto

Goblin Slayer milik Kumo Kagyu

Highschool DxD milik Ichei Ishibumi

Mungkin kedepan setting tempatnya diambli dari game, jadi kuharap kalian bisa menikmatinya terima kasih

Episode 1

Petualang Muda yang baru mendaftar

Seorang pemuda berusia 16 tahun, datang dari luar kota dengan pandangan kosong dan sendu. Setiap mata yang melihat hanya mampu terdiam tak banyak bereaksi, hanya bisik-bisik kecil yang terdengar.

Tubuhnya lusuh dan bau anyir tercium darinya, membuat para penduduk menjauh membiarkannya lewat. Pemuda itu menyusuri sungai yang airnya tidak terlalu jernih, untuk membasuh tubuh.

Setelah semua kering dan rapi, kini dia bersiap menuju guild petualang. Berbekal dengan pedang pendek yang terselip dipinggangnya, dia melangkah berani menuju Guild petualang.

Dernyit pintu Guild petualang membuat semua mata tertuju pada dirinya, tapi tidak ada reaksi atas kedatangannya. Itu wajar, karena baru pertama kali dia mengunjungi tempat ini.

Berhadapan dengannya seorang resepsionis berwajah cantik, memiliki mata Lavender dan rambut darkblue yang terurai rapi sambil tersenyum.

"Maaf, apa ada yang bisa kubantu?"
Pemuda itu mengangguk dan melanjutkan.

"Iya, aku ingin jadi petualang?"

Mata sang resepsionis mengerjap sekitar dua atau tiga kali, sebelum dia sibuk untuk mengambil formulir pendaftaran bagi calon anggota baru.

"Eh etto apa kau bisa menulis dan membaca?"

"Iya!"

"Kalau begitu isi data dirimu disini dan aku akan menyiapkan sesuatu."

Pria itu melakukan apa yang diintruksikan oleh sang resepsionis, dengan serius dia mengisinya satu persatu. setelah selesai, dia menyerahkan kepada resepsionis kembali.

"Nah karena kau sudah selesai mengisinya, berarti secara sah kau sudah menjadi petualang. Simpan kalung ini sebagai tanda pengenal."

Pria itu menerima tanda pengenal dari sang resepsionis, benda itu berupa lempengan besi kuning bertuliskan keramik. Itu adalah level terkecil dari seorang petualang. Tapi pemuda itu mengabaikan hal tersebut dan langsung  menuju toko perlengkapan.

Suara benda yang sedang ditempa bertalu-talu terdengar dengan irama yang stabil, membuktikan jika pandai besi di guild mempunyai skill yang bagus.

"Aku minta peralatan, apa disini menyediakannya?"

Pria tua yang hanya memiliki rambut di sisi kepala dan tengahnya botak, dengan tubuh kecil yang merupakan ciri khas seorang Dwarf melirik pada pemuda itu.

"Aku bisa menyediakannya tapi sebelum itu, apa kau punya harga yang pantas."

"Aku meminta perlengkapan, seharga apa yang ada dalam kantung ini."

Pemuda itu menjatuhkan sebuah bungkusan kecil dengan rajutan bunga matahari di sisinya. Melihat itu sang dwarf penempa berbisik dalam hatinya.

'Hm milik Ibu atau Neesannya, sepertinya pemuda ini habis menyaksikan sesuatu yang buruk. Wajahnya juga cukup muram tapi tubuhnya, terbilang bagus untuk seorang bocah diusianya.'

"Mah aku hanya bisa memberikanmu, sebuah full armor tipis yang tidak terlalu bagus dan pedang pendek serta perisai kecil. Itu adalah penawaran yang bisa kuberikan, apa kau mau?"

'Petualang harusnya tidak masalah dengan apa yang kuucapkan, selama mereka memiliki perisai dan baju pelindung yang cocok untuknya itu bagus. Masalahnya,  kebanyakan para petualang saat ini, lebih mementingkan gaya dan penampilan mereka tanpa tahu. Kalau suatu saat pekerjaannya itu, akan merenggut nyawa mereka secara tiba-tiba.'

Dwarf itu sedang menunggu respon yang diberikan oleh pemuda tersebut untuk menilai, apa dia termasuk pemuda bodoh yang mencari ketenaran dari gelar petualang atau memang bertujuan untuk menjadi petualang sungguhan.

"Aku terima!"

"Hm begitu, barangmu ada disana! Hanya benda itu yang bisa kuberikan sesuai dengan harga yang kau berikan. Lalu simpan beberapa keping untuk peganganmu."

"Aku mengerti!"

Pemuda itu mengenakan baju zirah pemberian dari dwarf itu yang sedikit berkarat, pedang sepanjang 120 cm terselip di pinggang kiri juga sebuah perisai terpasang pada lengan kirinya. Tak ada protes dan alasan untuk menolaknya, baginya sebuah full plate armor memang sangat diperlukan.

Dia malah sedikit bersyukur sang dwarf berbaik hati, memberikan untuknya sebuah full plate armor. Lengkap dengan pedangnya, kemudian dia berlalu dari tempat itu.

'Hm anak yang menarik tapi memang hanya baju itu yang bisa kuberikan untuknya, uang ini aku yakin dia mengumpulkannya sedikit demi sedikit untuk memenuhi perlengkapan petualangnya. Sepertinya, dia cukup mengerti dengan arti petualang itu sendiri.'

Setelah mengenakan armor yang di belinya, dia pergi menuju resepsionis untuk bertanya tentang quest yang bisa dia lakukan

"Maaf, apa bisa memberikanku saran Quest yang sesuai untuk tingkatku?"

"Eh tunggu sebentar! Quest yang bagus untuk petualang tingkat keramik adalah ini."

Meja itu kini dipenuhi dengan lembaran quest yang sesuai untuk petualang keramik diantaranya membunuh Goblin, mencari tanaman obat, memusnahkan sarang tikus yang mengganggu penduduk dan lain-lain.

"Aku ingin menjalankan dua quest ini apa boleh?"

Pemuda itu menunjuk quest mencari tanaman obat dan memburu sarang tikus. Sang resepsionis mengangguk sebagai tanda setuju, lalu segera dia mengambil kertas itu dan beranjak dari sana.

Beberapa petualang yang melihatnya banyak berbisik, ketika pemuda itu telah meninggalkan ruang guild untuk menjalankan tugas pertamanya.

"Sepertinya, dia petualang yang mencari aman."

"Dilihat dari pakaianya sudah jelas bukan."

"Mungkin, dia orang baru dalam dunia petualang dan mencoba berbaur untuk menyesuaikan diri."

"Um kurasa aku mengerti alasanmu".

Bisikan itu sampai ke telinga sang resepsionis, jujur dia juga merasa aneh. Seorang petualang pemula, meminta pendapat tentang quest yang cocok untuk kelasnya itu sangat langka.

'Pemuda itu seolah ingin mengumpulkan pengalaman karena belum terbiasa, tapi kenapa tatapan miliknyasendu sekali.'

"Hinata! apa kau sedang melamun lagi?"

"Ehh Rias-san! Aku tidak melakukan itu?"

"Mattaku siapapun akan sadar, kalau kau tadi sedang melamun. Apa yang kau pikirkan."

"Tidak-tidak aku tidak memikirkan siapapun!"

Gelagat hinata yang memainkan jarinya seperti itu dan pernyataan barusan, membuat Rias bisa menarik kesimpulan kalau teman masa kecilnya ini. Sedang dilanda asmara pandang pertama.

"Fufu jadi begitu, kau sudah menemukannya. Hinata berjuanglah!"

"Ehh!"

Seluruh wajah hinata memerah dan dia langsung berdiri, dengan menggoyang-goyangkan tangannya ke arah Rias

"Apa yang kau ucapkan Rias-san?"

Kembali ke pemuda yang sekarang sedang berdiri tegap dan hendak  memasuki sebuah gua yang terbilang cukup besar bagi dirinya. Menurut informasi dari warga sekitar, beberapa tikus membuat ulah dengan merusak ladang.

"Mereka sudah memiliki sarang sebesar ini, tidak ada cara lain aku harus masuk kedalam untuk membasminya."

Pemuda itu mulai bergerak dengan obor sebagai penerang, bau busuk mulai menyeruak ketika dia semakin masuk lebih dalam. Pemua itu mampu menahan semuanya.

Dia menjumpai jalan bercabang. Bingung akan pilihannya dia berulang kali melihat, sambil menilai jalan mana yang harus diambil. Lalu dia melihat sebuah benda tak asing, di lorong  sebelah kanan.

'Menurut buku yang pernah kubaca, para Rats hanya bisa membuat dua atau tiga jalur. Itu karena mereka buta arah dan sebagai pengingat jalan tempat mereka menyimpan makanan, sebuah tanda di berikan agar mereka tahu dimana letak persediaan makanan berada. Berarti sisi kiri adalah tempat dimana mereka tidur.'

Pemuda itu menyusuri lorong sebelah kiri, sambil menyiapkan sesuatu yang dia beli di desa tempat quest itu. Sebuah botol berisi merica.

Ketika satu langkah dia mendekat tiga Rats atau tikus raksasa penghuni sarang muncul. Segera dia melemparkan merica itu dan membuat para tikus bergerak liar, karena indra penciuman mereka terasa pedih. Obor dia buang sembarang, karena ingin fokus membunuh monster questnya.

"Waktunya menghabisi kalian"

Berbekal pedang yang baru di beli, dia menusuk satu tikus yang memiliki ukuran setinggi pinggang dirinya. Kemudian menebas serta menyayat yang ada di kanan dan kirinya.

Tiba-tiba muncul dua lainnya dari belakang yang tidak diprediksi, sehingga membuatnya terpental karena serudukannya. Tubuhnya melayang dan membentur dinding cukup keras

'Kuso! Aku lupa jika ada dua atau tiga lorong dalam lubang mereka, berarti setidaknya ada 7 atau 9 Rats dengan kata lain masih tersisa 6 atau 4 lagi.'

Tikus raksasa itu melaju ke arahnya, efek merica yang ditaburkan tadi sudah menghilang dan membuat dirinya dalam bahaya. Saat para tikus itu hendak melahapnya, pemuda itu melompat dan menusuk salah satu dari mereka

Darah bersimbah mengotori bajunya, tapi tidak membuat dia mengendurkan tusukannya. Sementara tikus yang lain hendak menerjangnya tidak berhasil, sebab dia sudah melompat ke sisi lain.

Tikus itu meraung kasar dan bergema sepanjag gua, hal itu membuat sang pemuda sadar. Kalau dia sedang memanggil kawannya, dengan cepat dia berlari dan mengenggam pedang pertama miliknya. Pedang yang baru dibeli tertancap di mayat tadi, lalu segera menusuk tikus itu.

"Memanggil temanmu kemari memang cukup cerdik, tapi sama artinya mengantarkan nyawa mereka padaku."

Satu erangan keras dan tikus itu menghembuskan napas terakhirnya, seperti yang sudah diprediksi. Empat tikus muncul dan menggeram kearahnya.

"Maaf saja, tapi kalian datang kemari merupakan keputusan yang salah."

Pemuda itu mengeluarkan botol lain yang agak besar, lalu melemparkannya ke arah mereka. Ketika pecah cairan menyebar tapi itu tidak berpengaruh dan membuat tikus seolah  mengejek, lalu pemuda itu segera melesat mengambil obor yang dia buang.

Ketika mengejarnya tubuh tikus itu sudah basah, dengan cairan yang dia lemparkan tadi dan saat meraih obor. Dia berhenti bergerak sambil menatap 4 tikus itu.

"Saatnya untuk kalian mati!"

Dia melempar obor itu ke arah tikus yang tersisa, tiba-tiba tubuh dari para tikus itu terbakar. Rupanya cairan yang dia lemparkan sebelumnya adalah bensin.
Di depan matanya para tikus meronta-ronta karena kepanasan, setelah beberapa saat mereka akhirnya mati dan pemuda itu keluar dari gua.

"Akhirnya, satu Quest selesai saatnya menyelesaikan Quest lainnya."

Pemuda itu pergi ke tepi bukit mencari tanaman herbal yang diperlukan untuk questnya,  dia juga mengambil lebih untuk mengobati dirinya sendiri.

Setelah itu dia kembali ke desa untuk melaporkan, bahwa semua Rats sudah di basmi. Penduduk desa sangat senang mendengar kabar itu dan berterima kasih, serta menyuruhnya menginap semalam untuk merayakan keberhasilannya.

Sang pemuda sebenarnya ingin menolak tapi karena desakan warga desa, dia tidak punya pilihan lain dan setuju menginap di situ.

Malam itu dia mempelajari hal tentang terbentuknya desa tersebut, lalu bagaimana cara meramu obat-obatan sendiri untuk keperluan darurat. Penduduk desa juga memberikan dia sebuah tas yang bisa diikat di belakang, untuk menaruh item-item miliknya.

Setelah memenuhi janjinya, pemuda itu kembali ke kota untuk melaporkan hasil misinya. Kini dia sudah bediri di depan resepsionis yang menyambutnya dengan senyum.

"Quest ini sudah selesai kulaksanakan apa ada misi lagi? Terutama berkaitan dengan tikus raksasa dan sejenisnya. Dan ini tanaman obat yang dibutuhkan untuk questnya."

"Ha-ha'i! Karena kau sudah menyelesaikan quest, ini bayarannya."

Resepsionis menyerahkan bayaran yang diberikan oleh sang pengirim quest. Umumnya guild bisa memberikan bonus, itu berlaku jika petualang sudah menyelesaikan quest tingkat atas.

Ada aturan dimana quest hanya bisa diambil oleh petualang tingkat tertentu. Pemuda itu sepenuhnya sadar jika dirinya berada di tingkat terbawah, karena itu dia ingin mencari pengalaman dengan membunuh lebih banyak jenis paling lemah dari ras itu.

"Terima kasih!"

"Ah sama-sama tentang quest yang kau minta ada satu yang baru datang kemarin, sekelompok tikus menyerang desa dan melukai beberapa penduduk. Sejujurnya, quest ini memerlukan party."

"Party? Apa itu?"

Hinata yang ditanyai seperti itu terkejut, karena pemuda di depannya ini ternyata memang tidak tahu istilah yang dia sebutkan. Jadi, dia memberi sedikit pelajaran kepada pemuda ini agar mengerti.

"Party adalah kelompok yang terdiri dari dua atau lebih petualang, mereka saling membantu satu sama lain untuk menyelesaikan quest. Umumnya mereka terdiri dari beberapa kelas berbeda, agar bisa saling menutupi kekurangan ketika pertarungan. Bagaimana, apa kau tertarik membuat party?"

Pemuda itu berpikir sejenak menimbang apa yang baru dia ketahui, dan saran yang diajukan oleh resepsionis itu untuk membangun party.

"Sepertinya itu rumit aku suka menjalankan semuanya seorang diri, apa tidak bisa kau menyerahkan quest ini untukku saja."

"Quest ini untuk party bukan solo?"

'Merepotkan sekali, padahal aku ingin melakukannya sendiri. Agar tidak ada yang terganggu.'

"Maaf apa kau butuh seorang party, aku petualang pemula yang berasal dari Order of Freya. Maukah kau membentuk party denganku?"

Order of Freya adalah sebuah religi,
dimana penganutnya menyembah dewi kesuburan dan kecantikan. Umumnya kelas yang berhubungan dengan order ini adalah priest dan monk, mereka dilengkapi dengan atribut sihir putih.

Pemuda itu melirik untuk menilai wanita yang baru menawarkan dirinya untuk berparty. Dengan pakaian suster lalu rambut emas panjang, dengan mata biru laut. Membuat siapa saja bisa mengatakan, kalau dia adalah sosok megami itu sendiri.

"Kalau dia berparty denganku. Quest itu bisa diambil?"

"Eh!"

Keringat jatuh di pelipis Hinata, karena pemuda satu ini baru saja kembali dan akan melakuakan perjalanan lagi.

'Apa dia gila, kemarin saja dia tidak kembali. kini baru menginjakkan kaki di guild, dia mau pergi lagi.'

"Tunggu sebentar! Kau baru kembali apa tidak terlalu memaksakan diri, sebaiknya kau beristirahat dulu."

"Jika aku beristirahat kemungkinan mereka sudah bertambah dua, tiga, atau bahkan sepuluh kali lipat. Aku tidak mau sesuatu yang mengerikan itu terjadi lagi. Dan kau, apa yakin ingin membentuk party denganku?"

"Ha'i ano mohon bantuannya!"

"Um, kami mengambil questnya, ditambah dua Quest ini"

Lepas mengatakannya pemuda itu mengambil Quest tikus yang menyerang desa, serta quest mengumpulkan biji besi dan 10 potong batang dari pohon pinus. Party kecil itu berangkat menjalankan questnya.

Hinata menatap kepergian pemuda itu dan melihat kembali, formulir pendaftaran yang diisi olehnya. Disana tercantum nama dari petualang muda itu.

"Uzumaki Naruto jadi itu namanya."

And Cut

Saya buat cerita tentang seseorang yang terobsesi membunuh Tikus atau Rats. apa dan kenapa dia melakukannya, ikuti terus perjuangan Naruto dalam menapaki petualangannya. Simak selengkapnya di

https://www.fanfiction.net/s/13389669/1/Rat-Slayer

Setting latar di dunia Goblin Slayer dan untuk kekuatan, mungkin menyesuaikan dengan sedikit perubahan.

Setting waktunya kuambil dari manga Goblin Slayer Sidestory YearOne. Yang menceritakan awal mula si Goblin slayer memulai karier petualangnya.
Jaa nee