Sabtu, 28 Agustus 2021

Gagak Ireng

Setelah bebas dari cengkeraman Bapak, aku menjalani keseharian dengan menghabiskan waktu bekerja di sebuah kampus di Jakarta.

Pekerjaanku di dapat dengan mudah, karena sang Rektor universitas ini pernah kuselamatkan dari seorang pencopet.

Merasa berhutang budi, dia menawarkan sesuatu sebagai imbalannya. Saat itu aku butuh tempat bernaung, karena organisasi yang membesarkan diriku dibubarkan.

Itu terjadi dua bulan yang lalu, pelaku yang menyebabkan hancurnya organisasi itu adalah sosok yang mengatasnamakan dirinya sebagai Gundala.

Aku hanya bisa berterima kasih karena diselamatkan olehnya, namun tetap saja bayangan karena telah melayani sosok Bapak. Terus menghantuiku sepanjang malam, dia sebenarnya memiliki nama asli Pengkor.

Aku tidak termasuk ke dalam anak-anak pilihannya. Aku hanyalah bidak yang biasa dia suruh untuk melakukan pembunuhan pada orang-orang yang mencoba menghalangi rencana miliknya.

Bahkan saat kejadian itu berlangsung, aku sedang ditugaskan dalam misi membunuh seorang pimpinan perusahaan, yang menolak bekerjasama dengan kami dalam pengembangan serum [Amoral]

Kini disinilah aku, bekerja sebagai tukang bersih-bersih di Universitas terkenal di Jakarta.

"Mas Adi! Tolong bantu kami disini!"

Teriakan itu mengalihkan diriku yang merenungi perjalanan kelam hidup ini. Sumber teriakan itu adalah seorang bapak bernama Tarno.

"Iya Pak Tarno, saya akan ke sana."

Kubereskan daun jatuh ini, lalu memasukan ke dalam tempat sampah. Kemudian menghampiri pak Tarno yang ingin memindahkan benda berat.

Setelah itu, aku beristirahat dan menikmati makan siang. Sebagai petugas kebersihan tugasku adalah menjaga agar universitas ini kinclong.

"Hei Pencuri! Hentikan dia tolong!"

Teriakan itu membuatku melirik asalnya, seorang pemuda bertudung hitam sedang lari tunggang langgang dari kejaran tiga pemuda.

Aku ingin menghentikan aksinya, tapi hati kecilku berkata untuk melepaskan dia. Karena tahu, kalau sebenarnya dia mencuri pasti untuk kebutuhan perut.

Namun refleks tubuhku bergerak dengan sendirinya untuk mengejarnya, ketika dekat aku langsung melompat dan mencengkram dirinya.

"Enghh! Sialan, jangan ikut campur urusanku! Lepaskan aku!"

Pemuda ini menggeliat untuk lepas dari cengkeramanku. Tapi itu sia-sia, aku sudah mempelajari teknik kuncian dengan mumpuni.

Bahkan dengan satu gerakan kecil aku  bisa membuat pemuda ini pingsan. Lalu orang-orang yang mengejarnya tiba di tempat kami.

"Mas Adi! Terima kasih sudah membantu kami, tidak disangka ternyata Mamas memiliki gerakan yang lincah."

Mereka memanggilku mamas karena aku adalah petugas kebersihan di sini. Juga sifatku yang dewasa dan easy gooing, entah bagaimana membuat mereka segan padaku.

Gerakan yang dibilang lincah ini adalah hasil latihan yang mendekati kematian. Dulu anak Bapak yang paling garanglah yang melatihku, kalau tidak salah ingat dia bernama Kanigara.

Aku bahkan harus bergerak lebih cepat dari ini, untuk menghindar dari cengkeramannya. Sebab jika dia berhasil menangkapku, bisa di pastikan tulangku ada yang patah.

"Sama-sama, tolong jangan hakimi anak ini. Bawa saja ke kantor polisi, kebiasaan main hakim sendiri harus dihindari, mengerti!"

"Siap, Mas! Kami pasti akan membawanya ke pihak berwajib."

Dua orang pemuda memegang kedua tangan pelaku. Dia masih mencoba kabur, tapi itu sia-sia. Dia menatap padaku dengan kebencian.

"Kurang ajar kau, Petugas kebersihan! Akan kubalas nanti!"

Aku tersenyum ketika mendengar dirinya berkata seperti itu. Lalu aku menepuk pelan pundaknya dan memberikan balasan.

"Aku tidak akan kemana-mana, kalau kau ingin buat perhitungan. Kau sudah tahu lokasinya, jadi aku nantikan kunjunganmu untuk membalas perbuatanku ini oke!"

"Jawaban mantap!"

"Mas Adi selera humornya Mantul!"

"Sekarang waktunya bagimu berurusan dengan pihak berwajib, Mas kami permisi dulu ya!"

Aku mengangguk saat mereka bertiga membawa pencopet itu ke pihak berwajib. Entah kenapa sedikit beban hatiku terangkat, apakah aku bisa menebus semua dosa yang sudah aku lakukan selama ini.

Hari berlalu dan malampun tiba, kini aku kembali ke tempat sederhana yang bisa ku sebut rumah. Masih di sekitar universitas ini, jaraknya tidak begitu jauh dari bangunan utama.

Ruangan ini hanya seluas 4 × 6 meter, cukup untuk diriku  seorang. Namun tanpa diketahui oleh siapapun, aku membangun sebuah basemen di bawah lantai bangunan ini.

Bangunan ini juga merupakan hadiah dari Rektor universitas ini. Dia berkata kalau ruangan ini tidak ada yang menempati, jadi daripada kosong juga aku tidak punya tempat tinggal.

Aku pun diberikan tempat ini sebagai tempat yang bisa ku sebut rumah. Lalu aku menggali lantainya untuk membuat basemen, sebagai tempat rahasia.

Aku memasuki basemen dan menyalakan lampu. Terdapat beberapa barang-barang pribadi bekas peninggalan diriku, saat masih menjadi anggota organisasi bapak.

Lalu di sebuah sudut terdapat sebuah set kostum yang selalu kugunakan, ketika mendapat perintah dari Bapak untuk menghabisi korban incarannya.

Ingin rasanya aku melupakan dan membuang semua ini. Tapi entah kenapa berat rasanya untuk membuangnya begitu saja. Ada semacam rasa aneh yang membuat aku enggan untuk melupakannya.

Tujuanku melakukan ini untuk mengingatkan diriku, bahwa aku adalah seorang mantan pembunuh. Meski usiaku baru 18 tahun, tapi tangan ini sudah penuh dengan darah orang-orang yang melawan bapak.

Itu diperlukan untuk diriku, agar aku tidak melupakan mereka.  Aku sadar kalau yang kulakukan ini konyol dan tampak aneh, tapi hanya ini yang bisa kulakukan untuk menenangkan diri dan anehnya itu berhasil.

Setiap aku selesai melakukan ini, entah bagaimana perasaan diriku sedikit lebih lega. Aku seakan mendapat pengampunan dari korban yang kubunuh.

Aku tidak tau takdir seperti apa yang akan mendatangi diriku, namun aku harap di sana ada harapan bagiku untuk menebus segala dosa yang pernah kulakuan selama ini.

Tidak ada komentar: