Sabtu, 12 Oktober 2019

Tak beraturan

Sebuah kata yang cocok untuk menggambarkan hati yang gundah gulana adalah sepi, tak banyak orang yang memahami kata ini.

Beberapa ada yang sok tahu yang lain merasa sering mengalaminya, tapi apa sih yang dimaksud dengan sepi itu sendiri.
Aku bukanlah ahli dalam bidang menjelaskan, jadi mungkin penjelesanku sedikit konyol bahkan aneh. Tidak masalah, selama kau bisa mengerti dengan maksudku.

Rasa dingin di dada, tidak tahu harus melakukan apa. Melihat mereka yang bercengkrama dengan teman, sedang diri hanya memperthatikan dalam diam. Itulah sepi.

Bukan salah dunia atau salah diri atau orang lain yang menyebabkan kita sendiri atau kesepian, tapi salah pilihan kita yang menyendiri dan itulah buah dari yang kau pilih.

Bayangkan saja begini, ada dua tempat untuk menabur benih, keduanya memiliki hasil yang berbeda. Maksudnya, tanah pertama hanya bisa ditumbuhi rumput yang cepat menghijau. Tanah kedua bisa ditanamin buah-buahan tapi waktu memanennya lama, bisa satu tahun atau dua tahun atau lebih

Tanah pertama terkesan menggiurkan, karena masa tanamnya begitu cepat dan menghasilkan dalam jarak yang dekat. Tapi apa yang didapat hanyalah rumput hijau yang banyak namun tak berguna.

Tanah kedua bisa ditanami buah-buahan tapi masa tanam yang lama dan berbuahnya pun lama, membuat manusia tidak mau memilihnya karena itu tidak instan. Tapi rasa buah dari hasil tanah ini, begitu menyegarkan dan mengenyangkan.

Itulah ilustrasi yang kutunjuukan untuk membuatmu menilai, bahwa bukan salah kita tapi salah pilihan kita serta logika kita. Kenapa bisa demikian?

Mayoritas kita akan berkata, ya kalau hasil akhirnya begitu. Lebih baik aku pilih tanah kedua saja, namun apa benar dia akan konsisten memilihnya. Hanya teguh pada pilihan dan memilih pilihan yang tepatlah, yang bisa membuatmu berhasil dalam dunia ini.

Kemana arah pembicaraan ini berlanjut. Entahlah, aku pun tidak mengetahuinya. aku hanya menulis apa yang terlintas di kepala tanpa mengedit isinya, kecuali membenarkan apa yang salah dan typo. Tapi isinya, aku yakin tetap sama seperti yang dikatakan hatiku.

Abstrak dan aneh itulah kita. Karena itu otak kiri menjadi pengendali, agar kita tidak terlalu jauh melangkah lebih dalam. Manusia suka dengan melanggar aturan yang ditetapkan, berlagak sombong dan sebagainya. Namun, pada akhirnya dia akan menyadari bahwa hanyalah makhluk lemah dan tak berdaya.

Ingatlah musibah atau bencana kadang adalah cambuk kecil, karena kita terlalu pongah padanya sebab jarang berdoa dan meminta.

Semoga kalimat tidak jelas ini, bisa dimengerti dan dipahami baik oleh kalian

Salam.

Tidak ada komentar: