Sabtu, 12 Oktober 2019

Yang sering terlupakan

Kenapa begini? Kenapa disaat orang lain merasa bahagia dengan yang lain. Aku malah duduk terdiam berteman sunyi, aku juga ingin seperti mereka tapi kenapa tidak bisa.

Aku juga ingin dimengerti, aku ingin bercengkerama dan berbicara banyak hal. Seperti masa lalu, masa terindah, masa pahit. Tapi kenapa?

Ada sesuatu di bagian dadaku yang ingin sekali keluar, membuat aku mati lalu benda itu terangkat. Aku tidak perlu merasakan ini lagi aku bebas.

Namun sedikit kesadaran membuatku tetap bertahan dengan semua ini, ada sebuah frasa indah yang diingatkan orang tuaku dulu. Satu kata yang akan bisa mengubah keadaaan sekitar.

Tidak hanya diri sendiri bahkan dunia pun, bisa dibolak balikan  hukumnya oleh lafal itu. Kata itu begitu unik dan singkat, tidak terlalu panjang dan bertele-tele. Jelas langsung to the poin.

Kata itu adalah Harapan.

Sebuah kata yang singkat. Namun saat kecil, aku selalu mengabaikan bila mereka bertanya. Apa harapanmu kedepan? Aku menyunggingkan bibir penuh kesombongan.

Siapa yang butuh harapan, itu hanya untuk mereka yang lemah sedang aku. Saat ini aku bisa puas bermain dan menjalani hidup, mungkin  nanti aku akan menggunakannya tapi itu masih mungkin.

Ternyata semua terjadi sesuai ucapanku, sekarang aku mengembara mengarungi jutaan detik yang terus berlalu. Mencari kata itu, dimanakah dia berada?

Harapan!

Dimana dia yang selama ini aku abaikan dan pandang remeh, dimana dia saat ini aku butuh itu Tuhan. Aku butuh harapan dan penghiburan, berikanlah sedikit harapan pada Hambamu yang pongah ini. Aku berjanji hari saat aku mendapatkannya, aku tidak akan melepasnya.

Kuharap kau mau membantuku mendapatkan harapan itu.

Tidak ada komentar: