Selasa, 30 November 2021

Gagak Ireng chapter 2

Pagi itu, Adi menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan untuk kerjaan hari ini. Dia sudah terbiasa melakukan hal ini, karena dua bulan telah berlalu saat dia mulai kerja di sini.

Kemudian dia berangkat untuk menjalankan tugas rutinnya. Membereskan sisa-sisa makanan dari beberapa mahasiswa yang kuliah malam.

Universitas ini juga mengadakan kuliah malam bagi para siswanya, yang kebetulan hanya bisa melakukan itu karena siangnya mereka bekerja.

Lalu Adi melihat beberapa mahasiswa-mahasiswi yang mulai berduyun-duyun masuk dari gang universitas.

Mereka melewati Adi dengan berbagai ekspresi. Ada yang menyapanya, melewatinya saja seakan dirinya sebuah patung dan ada juga yang memberikan senyuman hangat.

"Entah kenapa, aku merasa tidak pantas menerima senyuman itu." Gumam Adi pelan sehingga tidak terdengar oleh siapapun kecuali dirinya.

Pekerjaan dirinya yang suka merenggut nyawa dari Ayah, Ibu, kakak, atau bahkan adik dari seseorang yang mungkin dari mereka.

Membuat Adi Surya tidak merasa pantas untuk menerima senyuman itu.  Masa lalu dirinya yang begitu kelam selalu menghantui, ketika dirinya berpikir untuk bisa hidup normal seperti orang biasa.

Lalu tiga orang mahasiswi berjalan di depannya sambil berdiskusi.

"Aku yakin Penjahat kali ini terlatih, masa dia menggunakan kertas kosong saat meninggalkan korbannya. Juga ada beberapa simbol aneh ditemukan pada tubuh orang yang ditangkapnya." Ucap wanita berambut kuning-putih panjang dia mengenakan jaket kulit hitam dengan t-shirt putih. Lalu bawahannya adalah celana jeans biru dan sepatunya merupakan tipe hak rendah berwana cokelat.

"Aku juga penasaran Sy, menurut kamu gimana Riani?" tanya wanita berambut pendek dark blue. Dia mengenakan jaket lengan sebatas sikut berwarna kuning, adapun penutup kepalanya dia gantungkan ke belakang. Untuk bawahan, dia mengenakan jeans hitam dengan sepatu sport.

"Aku juga gak tau harus gimana memikirkannya, Monica! Ussy! Dia juga sangat lihai dalam bersembunyi. Dia seperti Ninja di dunia nyata." Respon wanita berambut panjang coklat-orange, dia mengenakan blush garis horizontal merah-putih. Bawahannya dia mengenakan rok dibawah lutut berwarna pink, kakinya beralaskan sendal bermerk.

"Pokoknya, kita harus menangkap penjahat ini. Tapi dia sering muncul di tempat tidak terduga."

Ucap Ussy yang menuntun mereka semakin menjauh dari Adi. Mendengar pembicaraan mereka, Adi merasa gelisah karena perbuatan penjahat itu seperti tidak asing baginya.

Segera dia mendekati ketiga gadis itu, lalu memberikan pertanyaan.

"Maaf jika saya tidak sopan, tapi bisa kalian jelaskan dimana terakhir kali menemui penjahat ini."

"Kami menemui penjahat ini di sebuah  jembatan besar di pinggir-"

"Oi Monic! Jangan sembarangan kasih tahu orang lain!"

Adi Surya yang memang kenal kota ini, sudah menemukan lokasi yang dia inginkan. Sebagai mantan pembunuh, pengetahuan tentang letak wilayah kota ini merupakan hal yang harus dipahami diluar kepala.

"Maaf Mas Adi, teman kami hanya asal bicara! Tolong lupakan saja!"

Ussy membekap mulut Monica yang hampir menjelaskan dimana mereka menemui penjahat itu. Namun tanpa di duga oleh mereka, tanggapan Adi membuat mereka heran.

"Ah tidak apa-apa, saya pikir itu beneran. Kalau begitu, saya permisi dulu ya. Semoga hari kalian menyenangkan!"

Adi menanggapi seperti itu dan melenggang sambil melambaikan tangannya. Monica memberi isyarat pada Ussy untuk melepaskan bekapannya.

"Huaa apa-apaan kau ini Ussy, aku hampir mati karena kehabisan napas."

"Monic, lain kali jangan asal sembarangan memberitahu orang lain. Ingat, pekerjaan kita itu rahasia sama seperti identitas kita sebagai Girlband Virgo." Jelas Ussy sambil berkacak pinggang.

"Iya, Sy! Lain kali aku akan hati-hati dengan ucapanku! Janji deh!" Jawab Monica seraya memberikan tanda pis sebagai permintaan maaf.

"Duh! Yaudah deh, kali ini aja. Lain kali kalau mulutmu tidak bisa dijaga, akan aku jahit sekalian." Respon Ussy sambil menyeringai, tentu yang menerima ancaman merinding seluruh bulu kuduknya.

"Nggak Ussy! Aku beneran gak akan mengulanginya lagi, beneran sumpah!"

Sementara dua temannya sedang bertukar kata, Riani nampak lekat melihat punggung Adi Surya. Dia merasa aneh dengan tanggapan yang diberikan petugas kebersihan itu, saat menerima alasan Ussy untuk menutupi ucapan Monica.

"Kalian merasakan sesuatu yang aneh gak, ketika mas Adi itu menjawab pernyataan Ussy. Kok dia bersikap seolah udah mengetahui sesuatu ya."

"Yaelah Riani! Yang begituan aja dianggap seriusan, aku yakin mas Adi itu udah percaya dengan ucapanku. Lagipula, apa artinya bagi dia mengetahui lokasi dari penjahat itu?" ujar Ussy.

"Aku sependapat, meskipun mulut ini hampir kelepasan. Ga mungkin juga kan, kalau tiba-tiba mas Adi muncul lalu menggerebek penjahat itu." tambah Monica.

Mendapat respon seperti itu, Riani langsung membuang semua kegundahan hatinya. Dia menggeleng lalu menjawab.

"Kalian benar, sepertinya aku memang ke bawa suasana karena membiarkan penjahat itu kabur. Btw malam ini kita dapat pemberitahuan dari pak Ganendra untuk latihan perdana?"

"Ah benar, tadi pak Ganendra juga memberi pesan. Setelah memenangkan ajang Loetube Talent itu, dia bakal melatih kita secara rutin." respon Ussy. 

Begitulah, mereka bertiga dengan cepat mengubah topik pembicaraan. Menghilangkan kesan aneh Adi Surya yang menanyakan lokasi si penjahat berada.

Sementara Adi Surya sedang menyusun rencana untuk mengungkap. Siapa orang yang suka menangkap dan meninggalkan surat kosong itu.

"Semoga saja, aku menemukan dirinya lebih awal dari sosok Virgo."

Adi Surya sudah tahu tentang sosok itu, wanita berkostum yang memiliki kekuatan misterius. Dia suka membela kebenaran dan keadilan, bahkan sedang hangat dibicarakan masyarakat.

Lalu alasan dia khawatir, karena dia tidak ingin seseorang mengacaukan dirinya untuk meringkus penjahat itu. Bukan berarti dia ingin menjadi pahlawan seperti Virgo.

"Aku hanya ingin tahu, kenapa orang itu menggunakan cara sama yang sering aku gunakan." gumamnya pelan

Sabtu, 28 Agustus 2021

Gagak Ireng

Setelah bebas dari cengkeraman Bapak, aku menjalani keseharian dengan menghabiskan waktu bekerja di sebuah kampus di Jakarta.

Pekerjaanku di dapat dengan mudah, karena sang Rektor universitas ini pernah kuselamatkan dari seorang pencopet.

Merasa berhutang budi, dia menawarkan sesuatu sebagai imbalannya. Saat itu aku butuh tempat bernaung, karena organisasi yang membesarkan diriku dibubarkan.

Itu terjadi dua bulan yang lalu, pelaku yang menyebabkan hancurnya organisasi itu adalah sosok yang mengatasnamakan dirinya sebagai Gundala.

Aku hanya bisa berterima kasih karena diselamatkan olehnya, namun tetap saja bayangan karena telah melayani sosok Bapak. Terus menghantuiku sepanjang malam, dia sebenarnya memiliki nama asli Pengkor.

Aku tidak termasuk ke dalam anak-anak pilihannya. Aku hanyalah bidak yang biasa dia suruh untuk melakukan pembunuhan pada orang-orang yang mencoba menghalangi rencana miliknya.

Bahkan saat kejadian itu berlangsung, aku sedang ditugaskan dalam misi membunuh seorang pimpinan perusahaan, yang menolak bekerjasama dengan kami dalam pengembangan serum [Amoral]

Kini disinilah aku, bekerja sebagai tukang bersih-bersih di Universitas terkenal di Jakarta.

"Mas Adi! Tolong bantu kami disini!"

Teriakan itu mengalihkan diriku yang merenungi perjalanan kelam hidup ini. Sumber teriakan itu adalah seorang bapak bernama Tarno.

"Iya Pak Tarno, saya akan ke sana."

Kubereskan daun jatuh ini, lalu memasukan ke dalam tempat sampah. Kemudian menghampiri pak Tarno yang ingin memindahkan benda berat.

Setelah itu, aku beristirahat dan menikmati makan siang. Sebagai petugas kebersihan tugasku adalah menjaga agar universitas ini kinclong.

"Hei Pencuri! Hentikan dia tolong!"

Teriakan itu membuatku melirik asalnya, seorang pemuda bertudung hitam sedang lari tunggang langgang dari kejaran tiga pemuda.

Aku ingin menghentikan aksinya, tapi hati kecilku berkata untuk melepaskan dia. Karena tahu, kalau sebenarnya dia mencuri pasti untuk kebutuhan perut.

Namun refleks tubuhku bergerak dengan sendirinya untuk mengejarnya, ketika dekat aku langsung melompat dan mencengkram dirinya.

"Enghh! Sialan, jangan ikut campur urusanku! Lepaskan aku!"

Pemuda ini menggeliat untuk lepas dari cengkeramanku. Tapi itu sia-sia, aku sudah mempelajari teknik kuncian dengan mumpuni.

Bahkan dengan satu gerakan kecil aku  bisa membuat pemuda ini pingsan. Lalu orang-orang yang mengejarnya tiba di tempat kami.

"Mas Adi! Terima kasih sudah membantu kami, tidak disangka ternyata Mamas memiliki gerakan yang lincah."

Mereka memanggilku mamas karena aku adalah petugas kebersihan di sini. Juga sifatku yang dewasa dan easy gooing, entah bagaimana membuat mereka segan padaku.

Gerakan yang dibilang lincah ini adalah hasil latihan yang mendekati kematian. Dulu anak Bapak yang paling garanglah yang melatihku, kalau tidak salah ingat dia bernama Kanigara.

Aku bahkan harus bergerak lebih cepat dari ini, untuk menghindar dari cengkeramannya. Sebab jika dia berhasil menangkapku, bisa di pastikan tulangku ada yang patah.

"Sama-sama, tolong jangan hakimi anak ini. Bawa saja ke kantor polisi, kebiasaan main hakim sendiri harus dihindari, mengerti!"

"Siap, Mas! Kami pasti akan membawanya ke pihak berwajib."

Dua orang pemuda memegang kedua tangan pelaku. Dia masih mencoba kabur, tapi itu sia-sia. Dia menatap padaku dengan kebencian.

"Kurang ajar kau, Petugas kebersihan! Akan kubalas nanti!"

Aku tersenyum ketika mendengar dirinya berkata seperti itu. Lalu aku menepuk pelan pundaknya dan memberikan balasan.

"Aku tidak akan kemana-mana, kalau kau ingin buat perhitungan. Kau sudah tahu lokasinya, jadi aku nantikan kunjunganmu untuk membalas perbuatanku ini oke!"

"Jawaban mantap!"

"Mas Adi selera humornya Mantul!"

"Sekarang waktunya bagimu berurusan dengan pihak berwajib, Mas kami permisi dulu ya!"

Aku mengangguk saat mereka bertiga membawa pencopet itu ke pihak berwajib. Entah kenapa sedikit beban hatiku terangkat, apakah aku bisa menebus semua dosa yang sudah aku lakukan selama ini.

Hari berlalu dan malampun tiba, kini aku kembali ke tempat sederhana yang bisa ku sebut rumah. Masih di sekitar universitas ini, jaraknya tidak begitu jauh dari bangunan utama.

Ruangan ini hanya seluas 4 × 6 meter, cukup untuk diriku  seorang. Namun tanpa diketahui oleh siapapun, aku membangun sebuah basemen di bawah lantai bangunan ini.

Bangunan ini juga merupakan hadiah dari Rektor universitas ini. Dia berkata kalau ruangan ini tidak ada yang menempati, jadi daripada kosong juga aku tidak punya tempat tinggal.

Aku pun diberikan tempat ini sebagai tempat yang bisa ku sebut rumah. Lalu aku menggali lantainya untuk membuat basemen, sebagai tempat rahasia.

Aku memasuki basemen dan menyalakan lampu. Terdapat beberapa barang-barang pribadi bekas peninggalan diriku, saat masih menjadi anggota organisasi bapak.

Lalu di sebuah sudut terdapat sebuah set kostum yang selalu kugunakan, ketika mendapat perintah dari Bapak untuk menghabisi korban incarannya.

Ingin rasanya aku melupakan dan membuang semua ini. Tapi entah kenapa berat rasanya untuk membuangnya begitu saja. Ada semacam rasa aneh yang membuat aku enggan untuk melupakannya.

Tujuanku melakukan ini untuk mengingatkan diriku, bahwa aku adalah seorang mantan pembunuh. Meski usiaku baru 18 tahun, tapi tangan ini sudah penuh dengan darah orang-orang yang melawan bapak.

Itu diperlukan untuk diriku, agar aku tidak melupakan mereka.  Aku sadar kalau yang kulakukan ini konyol dan tampak aneh, tapi hanya ini yang bisa kulakukan untuk menenangkan diri dan anehnya itu berhasil.

Setiap aku selesai melakukan ini, entah bagaimana perasaan diriku sedikit lebih lega. Aku seakan mendapat pengampunan dari korban yang kubunuh.

Aku tidak tau takdir seperti apa yang akan mendatangi diriku, namun aku harap di sana ada harapan bagiku untuk menebus segala dosa yang pernah kulakuan selama ini.