Pagi itu, Adi menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan untuk kerjaan hari ini. Dia sudah terbiasa melakukan hal ini, karena dua bulan telah berlalu saat dia mulai kerja di sini.
Kemudian dia berangkat untuk menjalankan tugas rutinnya. Membereskan sisa-sisa makanan dari beberapa mahasiswa yang kuliah malam.
Universitas ini juga mengadakan kuliah malam bagi para siswanya, yang kebetulan hanya bisa melakukan itu karena siangnya mereka bekerja.
Lalu Adi melihat beberapa mahasiswa-mahasiswi yang mulai berduyun-duyun masuk dari gang universitas.
Mereka melewati Adi dengan berbagai ekspresi. Ada yang menyapanya, melewatinya saja seakan dirinya sebuah patung dan ada juga yang memberikan senyuman hangat.
"Entah kenapa, aku merasa tidak pantas menerima senyuman itu." Gumam Adi pelan sehingga tidak terdengar oleh siapapun kecuali dirinya.
Pekerjaan dirinya yang suka merenggut nyawa dari Ayah, Ibu, kakak, atau bahkan adik dari seseorang yang mungkin dari mereka.
Membuat Adi Surya tidak merasa pantas untuk menerima senyuman itu. Masa lalu dirinya yang begitu kelam selalu menghantui, ketika dirinya berpikir untuk bisa hidup normal seperti orang biasa.
Lalu tiga orang mahasiswi berjalan di depannya sambil berdiskusi.
"Aku yakin Penjahat kali ini terlatih, masa dia menggunakan kertas kosong saat meninggalkan korbannya. Juga ada beberapa simbol aneh ditemukan pada tubuh orang yang ditangkapnya." Ucap wanita berambut kuning-putih panjang dia mengenakan jaket kulit hitam dengan t-shirt putih. Lalu bawahannya adalah celana jeans biru dan sepatunya merupakan tipe hak rendah berwana cokelat.
"Aku juga penasaran Sy, menurut kamu gimana Riani?" tanya wanita berambut pendek dark blue. Dia mengenakan jaket lengan sebatas sikut berwarna kuning, adapun penutup kepalanya dia gantungkan ke belakang. Untuk bawahan, dia mengenakan jeans hitam dengan sepatu sport.
"Aku juga gak tau harus gimana memikirkannya, Monica! Ussy! Dia juga sangat lihai dalam bersembunyi. Dia seperti Ninja di dunia nyata." Respon wanita berambut panjang coklat-orange, dia mengenakan blush garis horizontal merah-putih. Bawahannya dia mengenakan rok dibawah lutut berwarna pink, kakinya beralaskan sendal bermerk.
"Pokoknya, kita harus menangkap penjahat ini. Tapi dia sering muncul di tempat tidak terduga."
Ucap Ussy yang menuntun mereka semakin menjauh dari Adi. Mendengar pembicaraan mereka, Adi merasa gelisah karena perbuatan penjahat itu seperti tidak asing baginya.
Segera dia mendekati ketiga gadis itu, lalu memberikan pertanyaan.
"Maaf jika saya tidak sopan, tapi bisa kalian jelaskan dimana terakhir kali menemui penjahat ini."
"Kami menemui penjahat ini di sebuah jembatan besar di pinggir-"
"Oi Monic! Jangan sembarangan kasih tahu orang lain!"
Adi Surya yang memang kenal kota ini, sudah menemukan lokasi yang dia inginkan. Sebagai mantan pembunuh, pengetahuan tentang letak wilayah kota ini merupakan hal yang harus dipahami diluar kepala.
"Maaf Mas Adi, teman kami hanya asal bicara! Tolong lupakan saja!"
Ussy membekap mulut Monica yang hampir menjelaskan dimana mereka menemui penjahat itu. Namun tanpa di duga oleh mereka, tanggapan Adi membuat mereka heran.
"Ah tidak apa-apa, saya pikir itu beneran. Kalau begitu, saya permisi dulu ya. Semoga hari kalian menyenangkan!"
Adi menanggapi seperti itu dan melenggang sambil melambaikan tangannya. Monica memberi isyarat pada Ussy untuk melepaskan bekapannya.
"Huaa apa-apaan kau ini Ussy, aku hampir mati karena kehabisan napas."
"Monic, lain kali jangan asal sembarangan memberitahu orang lain. Ingat, pekerjaan kita itu rahasia sama seperti identitas kita sebagai Girlband Virgo." Jelas Ussy sambil berkacak pinggang.
"Iya, Sy! Lain kali aku akan hati-hati dengan ucapanku! Janji deh!" Jawab Monica seraya memberikan tanda pis sebagai permintaan maaf.
"Duh! Yaudah deh, kali ini aja. Lain kali kalau mulutmu tidak bisa dijaga, akan aku jahit sekalian." Respon Ussy sambil menyeringai, tentu yang menerima ancaman merinding seluruh bulu kuduknya.
"Nggak Ussy! Aku beneran gak akan mengulanginya lagi, beneran sumpah!"
Sementara dua temannya sedang bertukar kata, Riani nampak lekat melihat punggung Adi Surya. Dia merasa aneh dengan tanggapan yang diberikan petugas kebersihan itu, saat menerima alasan Ussy untuk menutupi ucapan Monica.
"Kalian merasakan sesuatu yang aneh gak, ketika mas Adi itu menjawab pernyataan Ussy. Kok dia bersikap seolah udah mengetahui sesuatu ya."
"Yaelah Riani! Yang begituan aja dianggap seriusan, aku yakin mas Adi itu udah percaya dengan ucapanku. Lagipula, apa artinya bagi dia mengetahui lokasi dari penjahat itu?" ujar Ussy.
"Aku sependapat, meskipun mulut ini hampir kelepasan. Ga mungkin juga kan, kalau tiba-tiba mas Adi muncul lalu menggerebek penjahat itu." tambah Monica.
Mendapat respon seperti itu, Riani langsung membuang semua kegundahan hatinya. Dia menggeleng lalu menjawab.
"Kalian benar, sepertinya aku memang ke bawa suasana karena membiarkan penjahat itu kabur. Btw malam ini kita dapat pemberitahuan dari pak Ganendra untuk latihan perdana?"
"Ah benar, tadi pak Ganendra juga memberi pesan. Setelah memenangkan ajang Loetube Talent itu, dia bakal melatih kita secara rutin." respon Ussy.
Begitulah, mereka bertiga dengan cepat mengubah topik pembicaraan. Menghilangkan kesan aneh Adi Surya yang menanyakan lokasi si penjahat berada.
Sementara Adi Surya sedang menyusun rencana untuk mengungkap. Siapa orang yang suka menangkap dan meninggalkan surat kosong itu.
"Semoga saja, aku menemukan dirinya lebih awal dari sosok Virgo."
Adi Surya sudah tahu tentang sosok itu, wanita berkostum yang memiliki kekuatan misterius. Dia suka membela kebenaran dan keadilan, bahkan sedang hangat dibicarakan masyarakat.
Lalu alasan dia khawatir, karena dia tidak ingin seseorang mengacaukan dirinya untuk meringkus penjahat itu. Bukan berarti dia ingin menjadi pahlawan seperti Virgo.
"Aku hanya ingin tahu, kenapa orang itu menggunakan cara sama yang sering aku gunakan." gumamnya pelan