Rabu, 30 November 2022

Gagak Ireng chapter 4

Satu dari arah kanan melaju dengan tangan kanan terkepal, berusaha memberikan pukulan pembuka. Namun Adi Surya mengelak dan memberikan pukulan di dadanya.

Membuat penyerang pertama terdorong ke belakang, dari arah depan sosok pimpinan mulai lancarkan serangan.

Tiga, empat pukulan dia lakukan untuk membalas rekannya. Namun, dengan lihai Adi Surya dapat menangani serangannya.

Dari belakang sebuah siulan berbunyi, saat Adi Surya fokus menghadapi musuh di depannya. Karena refleks yang terlatih, dia tundukan kepala.

Serangan itu melewati dirinya dan  tinju itu berbenturan dengan milik sang pimpinan. Mereka memegangi kepalan masing-masing karena beradu jotosan.

Isnting Adi Surya menajam saat merasakan hawa bahaya dari arah belakang. Cepat-cepat dia geserkan tubuh, benar saja sebuah terjangan nyaris mendarat di punggungnya.

Adi lalu menendang kaki itu, membuat sang empunya terjungkal. Lalu penyerang pertama mencoba menyerang dari belakang.

Namun Adi lebih dulu mengantisipasi, memukul dadanya dengan sikut. Membuatnya jatuh terkapar.

Dua tinju dari kanan dan kiri menyerbu. Adi menangkap dan mengunci dengan menggenggam kuat.

"Kerja sama kalian bagus, hanya butuh pengkondisian dan waktu yang tepat. Jika lawannya amatiran pasti kewalahan, tapi sayang lawan kalian adalah aku."

"Lain kali datanglah dengan lebih banyak orang, maka kalian pasti bisa menangkapku. Lalu bisa sebutkan namamu?"

Jelas Adi sambil memelintir tangan pemimpin dari grup kecil ini. Sang empunya tangan mengaduh menahan sakit saat tangannya di pelintir.

"Ra-Raka! Namaku Raka!"

"Raka, ya! Siapa yang merekrutmu dalam organisasi?"

"Aku direkrut oleh nona Carmine, setelah itu aku dilatih oleh sosok yang dikenal sang penempa."

Adi mengingat-ingat, sosok sang penempa termasuk dalam sepuluh anak pilihan Ayah. Tapi tentang sosok yang dipanggil Carmine ini, dia sama sekali tidak tahu apapun tentang wanita itu.

"Katakan! Siapa Carmine ini?"

"Bukankah kau menggigit terlalu banyak, apa untungnya informasi ini Jika kau tidak ingin kembali ke organisasi hah!"

Tangan Raka diputar dan berbunyi kretek, beberapa anggota lengannya terasa mengilu saat Adi memelintirnya agak kuat.

"Jawab saja!"

"Baik-baik, akan kujawab! Dia orang baru, kudengar dia mengganti posisi yang hilang dari 10 Anak ayah, karena kekacauan yang dibuat oleh Gundala. Apa itu cukup, sekarang lepaskan aku!"

Adi merasa informasi ini sudah lebih dari cukup, jadi dia melepaskan genggamannya pada Raka dan rekannya.

"Enyahlah, sebelum aku berubah pikiran!"

"Baik!"

Raka dan teman-temannya pergi dari tempat itu. Ditengah kegelapan bayangan mereka menghilang tanpa jejak. Itu adalah kemampuan dasar yang harus dikuasai.

"Hn, sepertinya struktur organisasi mengalami perubahan, karena serangan Gundala enam bulan lalu. Lalu Ayah mencoba membangun kembali kekuatannya, untuk memulai kembali rencana miliknya. Tapi kenapa dia repot-repot mencariku yang sudah menghilang lebih dari setengah tahun."

Adi jelas belum mengetahui tujuan Ayahnya, mencari dirinya untuk bergabung kembali. Tapi dia cukup yakin akan satu hal.

"Jika aku kembali, maka kemungkinan tanganku akan dibuat lebih bernoda lagi oleh darah. Aku tidak ingin itu terjadi! Sebaiknya aku pergi dari sini sebelum ada yang curiga."

Adi dengan cepat melenggang dari tempatnya, tanpa menyadari ada sesuatu yang akan mengejutkan dirinya nanti.


***


Kumpulan sampah itu sudah dijadikan satu. Lalu serokan dia ambil untuk mengumpulkannya, setelah itu tempat sampah adalah tujuan akhir sampah-sampah itu.


"Gila! Keren banget gerakannya."


"Sumpah! ini orang pasti ahli beladiri, liat aja deh. Dia gak pernah melakukan gerakan sia-sia. "


"Masak iya ini bukan casting sih, soalnya gerakan pria bertudung itu lihai banget."


"Memamg pantas sih ini kalo viral!"


Komentar seperti itu yang dia dengar, dari beberapa mahasiswa saat melewati dirinya. Tentu dengan smartphone tergenggam.


Kemajuan teknologi memang mempermudah semua hal, banyak sisi positif dari kemajuan ini. Namun hal itu juga bisa jadi bumerang, jika tidak diimbangi dengan etika yang baik dalam menggunakannya.


Jika hal itu terulang sekali dua kali, tentu tidak membuat Adi penasaran. Tapi hampir seluruh mahasiswa, membahas tentang sosok bertudung yang beraksi tadi malam dan sedang viral.


Hati kecil Adi kembali tergelitik untuk mengetahui, apa yang dibicarakan oleh para mahasiswa itu. Lalu dia melihat seorang gadis dari salah satu yang dia temui kemarin, sedang duduk di sebuah bangku taman.


"Sebaiknya, aku tanya pada dia saja. Kalau tidak salah namanya Monica."


Gadis berambut sebahu itu sedang serius menatap layar smartphone miliknya. Sesekali tangannya memaju mundurkan video yang dia tonton, untuk melihat dengan detail isi video itu.


"Permisi!"


Seketika gadis bernama Monica itu tersentak, karena tiba-tiba Adi menegur saat dia sedang fokus menonton video yang viral dalam semalam itu.


"Oh Mas Adi, kirain siapa! Ada apa, Mas?"


"Gak perlu make Mas segala, kita ini hampir seumuran. Panggil aja Adi, saya gak terlalu suka dengan formalitas. Nama kamu kalau gak salah, Monica kan?"


"Iya bener, jadi Adi ada perlu apa sama saya?"


Yang di tanya malah celingak-celinguk dan garuk kepala, saat mendapat pertanyaan seperti itu. Monica jelas tambah penasaran melihat tingkah Adi itu.


"Kenapa tingkah kamu jadi begitu, Adi?"


"Gimana ngomongnya ya. Monica, kamu tahu gak apa yang sedang dibicarwkan oleh para mahasiswa Hari ini."


Monica kini manggut-manggut saat mendengar pertanyaan itu. Wajar sih seseorang untuk penasaran dengan apa yang telah terjadi di dunia Maya. Tapi Monica penasaran dengan satu hal.

"Sebelumnya maaf, apa Adi punya smartphone?"

Adi menggeleng mendengar pertanyaan itu.

'Pantes aja, dia gak tahu'

Lalu Monica segera memberitahu pada Adi, apa yang menjadi buah bibir orang-orang di universitas.

"Mereka sedang meributkan pengunggah video ini!" ucap Monica sambil memberikan rekaman yang diunggah dalam Channel Loetube.

Saat melihat apa yang ditunjukan oleh Monica bola mata Adi memicing. Itu karena rekaman tersebut adalah kejadian saat dia meringkus Raka tadi malam.

'Ada seseorang yang merekam dan mengunggah aksiku semalam.' batinnya kesal.